Mengenal Gangguan Pituitari pada Kelenjar Kecil di Dasar Otak

Sakit kepala yang menetap, penglihatan yang mulai terganggu, menstruasi yang berubah, sulit mendapatkan kehamilan, atau perubahan ukuran sepatu dan cincin mungkin terlihat seperti keluhan yang tidak saling berhubungan.
Pada sebagian orang, keluhan tersebut dapat berkaitan dengan gangguan pada kelenjar pituitari.
Kelenjar pituitari atau hipofisis berukuran kecil dan berada di dasar otak. Meski kecil, kelenjar ini memiliki peran dalam mengatur berbagai hormon yang berkaitan dengan pertumbuhan, metabolisme, reproduksi, dan sejumlah fungsi penting tubuh lainnya.
Gangguan pada pituitari dapat disebabkan oleh adanya tumor pada kelenjar ini. Sebagian besar tumor pituitari bersifat jinak, tetapi karena letaknya berada di area yang dikelilingi oleh berbagai struktur penting, tumor yang membesar dapat menimbulkan gangguan penglihatan maupun gangguan keseimbangan hormon.
Karena gejalanya dapat beragam dan berkembang perlahan, gangguan pituitari tidak selalu mudah dikenali sejak awal. Akibatnya, sebagian pasien baru datang ketika tumor sudah berukuran besar dan kondisinya lebih kompleks, sehingga penanganannya dapat menjadi lebih sulit.
Hal inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam Pituitary Awareness Month 2026, yang diselenggarakan oleh Yayasan Komunitas Pituitari Indonesia bekerja sama dengan Kelompok Kerja Hipofisis PERKENI melalui rangkaian kegiatan edukasi untuk masyarakat.
Gejala yang Perlu Diperhatikan
Tumor pituitari dapat menimbulkan keluhan yang berbeda-beda, tergantung ukuran tumor serta pengaruhnya terhadap jaringan di sekitarnya dan keseimbangan hormon tubuh. Salah satu gejala yang perlu diperhatikan adalah gangguan penglihatan, terutama penglihatan samping yang perlahan menyempit.
Pada perempuan, gangguan hormon akibat tumor pituitari dapat menyebabkan menstruasi menjadi tidak teratur atau berhenti, kesulitan untuk hamil, serta keluarnya ASI meskipun tidak sedang menyusui.
Keluhan tersebut dapat berkembang perlahan dan terkadang dianggap sebagai masalah kesehatan biasa. Karena itu, bila keluhan menetap atau muncul tanpa penyebab yang jelas, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan penting dilakukan untuk mengetahui penyebabnya.
“Gangguan penglihatan akibat tumor pituitari dapat berkembang perlahan dan, bila tidak ditangani, bahkan dapat menyebabkan kebutaan," ujat dr. Dialika Muzakkir, Sp.M, Subspesialis Neuro Oftalmologi pada Kegiatan Pituitary Awareness Month 2026 yang diselenggarakan Yayasan Komunitas Pituitari Indonesia bersama Kelompok Kerja Hipofisis PERKENI.
"Kondisi ini termasuk preventable blindness, sehingga bila dikenali dan ditangani lebih awal, risiko kehilangan penglihatan dapat dicegah,” tambah dia.
Sementara itu, Ketua Yayasan Komunitas Pituitari Indonesia, dr. Selfy Oswari, Sp.BS, Subsp.N-Onk(K), S.Si, berharap masyarakat Indonesia dapat semakin mengenali gejala gangguan pituitari sejak awal.
"Semakin cepat dikenali dan diperiksa, semakin cepat pula pasien dapat memperoleh penanganan yang sesuai, sehingga peluang untuk mendapatkan hasil pengobatan yang lebih baik juga semakin besar,” terang dia di kesempatan yang sama.
Diagnosis gangguan atau tumor pituitari tetap memerlukan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan. Bila diperlukan, pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan hormonal dan pencitraan untuk menentukan kondisi secara lebih pasti.
“Gangguan pituitari dapat berkaitan dengan berbagai fungsi tubuh, sehingga pemahamannya perlu diperkenalkan lebih luas. Edukasi kepada masyarakat diharapkan dapat membantu mengenalkan peran pituitari dan membuat masyarakat lebih peka terhadap perubahan tubuh yang terjadi,” ujar dr. Dicky Levenus Tjahary, Sp.PD-KEMD, Ketua Pokja Hipofisis PERKENI.
Membawa Edukasi Lebih Dekat kepada Masyarakat
Rangkaian Pituitary Awareness Month 2026 dilanjutkan pada Minggu (4/10), melalui Senam Pituitary, Pemeriksaan Kesehatan Gratis, dan Edukasi Tumor Pituitari di area Car Free Day (CFD) Sudirman.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan pituitari dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami masyarakat, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan perubahan tubuh yang menetap dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila diperlukan.
Melalui kegiatan tersebut, Yayasan Komunitas Pituitari Indonesia berharap awareness mengenai kesehatan pituitari dapat semakin dekat dengan masyarakat. Mengenali suatu keluhan mungkin membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dapat menjadi langkah sederhana untuk memulai perjalanan menuju diagnosis dan penanganan yang tepat.
