Mengenang Bang Jek dan Misi Terakhirnya: Gugur Saat Bantu Korban Gempa NTT

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Relawan kemanusiaan Ahmad Zaki Ali meninggal dunia saat membantu penanganan gempa di NTT. Foto: Instagram/@kantorsar_jakarta
zoom-in-whitePerbesar
Relawan kemanusiaan Ahmad Zaki Ali meninggal dunia saat membantu penanganan gempa di NTT. Foto: Instagram/@kantorsar_jakarta

Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 tidak hanya menyisakan kerusakan dan korban jiwa. Di tengah upaya penanganan bencana, sejumlah relawan bergerak menuju wilayah terdampak untuk membantu masyarakat.

Salah satunya Ahmad Zaki Ali, pendiri Yayasan Komunitas Gerak Bareng yang akrab disapa Bang Jek. Ia meninggal dunia saat menjalankan misi kemanusiaan membantu korban gempa di NTT, Jumat (21/8).

Kepergian Bang Jek menjadi duka bagi keluarga dan komunitas relawan. Sebelum meninggal, ia telah puluhan tahun terlibat dalam kegiatan kemanusiaan dan kerap turun langsung ke berbagai lokasi bencana.

Ahmad Zaki Ali, relawan kemanusiaan, yang wafat saat menyalurkan bantuan di lokasi gempa di Flores, NTT, Jumat (21/8/2026). Foto: Instagram/@ahmadzaki_ali

Berangkat ke NTT dengan Biaya Pribadi

Bang Jek berangkat ke NTT setelah gempa mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus. Menurut kakaknya, Wilda Farah atau Fera, keberangkatan itu dilakukan secara spontan setelah Bang Jek mengetahui adanya bencana.

Saat itu, Bang Jek sebenarnya sedang menyiapkan proses transisi kepemimpinan di Yayasan Gerak Bareng. Pengelolaan yayasan mulai diserahkan kepada manajemen agar organisasi tersebut tidak lagi bergantung pada dirinya.

Karena itu, keberangkatan ke NTT kali ini dilakukan menggunakan biaya pribadi.

“Nah maka pas waktu respons NTT ini, sebenarnya keharusan Bang Zaki untuk berangkat itu sebenarnya sudah bukan lagi prioritas gitu, makanya beliau itu beli tiket pesawatnya itu dengan biaya sendiri, bukan dengan biaya Gerak Bareng,” kata Fera saat ditemui di kantor Gerak Bareng, Jakarta, Minggu (23/8).

Keputusan tersebut tetap diambil Bang Jek setelah mengetahui kondisi masyarakat terdampak gempa.

“Dan memang terpanggil pada saat itu bangun subuh itu langsung nge-update kan, nge-update ada kejadian gitu, terus di pagi itu juga itu langsung nyari tiket,” ujarnya.

Foto udara posko pengungsian korban gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Lapangan Barangkolong, Reo, Kabupaten Manggarai, NTT, Kamis (20/8/2026). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO

Setibanya di NTT, Bang Jek turut mendistribusikan bantuan kepada masyarakat terdampak. Bantuan yang disalurkan tidak hanya berasal dari Gerak Bareng, tetapi juga dari sejumlah lembaga lain.

“Makanya pas kemarin kejadian itu kan, dia sebenarnya lagi men-deliver bantuan tuh kan bukan cuma dari gerak bareng, tapi kan ada dari Basarnas, ada juga dari BNPB,” ucap Fera.

Pada Jumat (21/8) pagi, beberapa jam sebelum meninggal, Bang Jek bahkan masih mengabarkan kondisi di lokasi bencana melalui media sosial.

“Update pagi ini, hari ke-6 saya di lokasi bencana. Logistik kita menipis, semoga Jumat ini bisa bertambah lagi. Agar makin banyak dan luas jangkauan bantuan yang bisa kita salurkan. Di fase tanggap darurat kita akan fokus pada kebutuhan dasar. Oleh karenanya kita butuh support orang orang baik,” tulisnya di akun Instagramnya yang diikuti lebih dari 53 ribu pengikut.

Ia juga menuliskan pesan agar masyarakat tetap waspada dan saling menjaga.

“Rencana mengingatkan kita bahwa manusia tidak pernah benar-benar punya kendali. Yang bisa kita lakukan adalah berikhtiar, saling menjaga, dan memperbanyak doa. Semoga Allah menjaga kita, keluarga kita, dan saudara-saudara kita yang sedang berada di wilayah terdampak bencana. Tetap waspada. Jangan panik. Jangan lupa berdoa,” tulisnya.

Suasana di kantor Yayasan Gerak Bareng milik relawan gempa NTT yang gugur, Ahmad Zaki Ali tepat bersebelahan dengan rumah duka, Jakarta Barat, Minggu (23/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparan

Meninggal Saat Distribusi Bantuan

Pada Jumat (21/8) sore, kondisi Bang Jek tiba-tiba menurun saat dalam perjalanan membawa bantuan dari Reo menuju Desa Satar Padut, Manggarai Timur.

Ia bersama tiga rekannya ketika itu menggunakan mobil menuju lokasi. Dalam perjalanan, Bang Jek sempat menghentikan kendaraan dan meminta rekannya melepas helm serta jaket yang dikenakannya.

Tak lama kemudian, ia tidak sadarkan diri. Rekan-rekannya membawa Bang Jek ke posko medis terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Namun, nyawanya tidak tertolong.

Kantor SAR Jakarta menyebut, Bang Jek meninggal akibat kelelahan saat menjalankan misi pendistribusian bantuan.

“Jumat, 21 Agustus 2026, almarhum dilaporkan meninggal dunia akibat kelelahan dalam perjalanan membawa bantuan dari Reo menuju Desa Satar Padut, Manggarai Timur,” tulis Kantor SAR Jakarta.

Keluarga kemudian menyebut Bang Jek diduga mengalami serangan jantung setelah menjalani aktivitas yang cukup intens di wilayah terdampak bencana.

“Kita kaget juga waktu Zaki pergi karena mendadak kan. Mungkin intens juga di sana, jadi kelelahan, serangan jantung,” kata Fera.

Kakak kandung Ahmad Zaki Ali sekaligus Anggota Dewan Pembina Yayasan Gerak Bareng, Wilda Fara, seusai diwawancarai di kantor Gerak Bareng, Jakarta Barat, Minggu (23/8/2026) Foto: Joakhim Tharob/kumparan

Puluhan Tahun Jadi Relawan

Kegiatan kemanusiaan bukan hal baru bagi Bang Jek. Ia telah terjun sebagai relawan sejak bencana tsunami Aceh pada 2004, ketika usianya sekitar 19 tahun.

Saat itu, ia bergabung sebagai relawan melalui salah satu organisasi nonpemerintah dan diterbangkan ke Aceh. Pengalaman tersebut kemudian semakin mendekatkannya dengan dunia kerelawanan.

“Sependek pengetahuan saya itu, Zaki itu pertama kali tergerak itu menjadi volunteer di salah satu NGO yang besar di Indonesia dan diterbangkan ke Aceh, tsunami tahun 2004,” cerita Fera.

Menurut Fera, Bang Jek sejak kecil memang dikenal memiliki kepedulian terhadap orang lain. Ia juga disebut memiliki jiwa kepemimpinan dan aktif dalam berbagai organisasi sejak sekolah.

“Jadi yang paling berani selalu jadi leader dari SD, SMP bahkan dia juga ketua OSIS, SMA dia salah satu ketua organisasi di ekstrakulikuler gitu, jadi Zaki itu dari kecil itu emang terlihat gitu kalau dia beda gitu, dia beda dia nge-lead,” kata Fera.

Kepedulian tersebut juga tumbuh dari lingkungan keluarganya. Kedua orang tua Bang Jek telah lebih dahulu menjalankan kegiatan sosial dan pendidikan. Sejak kecil, anak-anak mereka dibiasakan terlibat dalam kegiatan membantu masyarakat.

“Jadi dari ayah sama ibu itu sudah ke situ dan program di dalam yang sudah dirintis oleh orang tua kami itu salah satunya program yang berbeda misalnya fundraising untuk korban, jadi itu sudah sering dilakukan sejak kami kecil gitu,” ungkap Fera.

Suasana di kantor Yayasan Gerak Bareng milik relawan gempa NTT yang gugur, Ahmad Zaki Ali tepat bersebelahan dengan rumah duka, Jakarta Barat, Minggu (23/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparan

Setelah bertahun-tahun menjadi relawan, Bang Jek kemudian mendirikan Yayasan Gerak Bareng yang bergerak dalam kegiatan sosial kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, dakwah, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Ia juga kerap turun langsung ke berbagai wilayah ketika terjadi bencana.

“Iya, always,” kata Fera ketika ditanya apakah Bang Jek hampir selalu memiliki kegiatan di luar kota.

“Minimum kalau pun Jawa, kita pokoknya indikatornya liatnya mobilnya aja, jadi kalau dia liat, oh Hilux-nya enggak ada, udah. Itu pasti Zaki going anywhere gitu,” lanjutnya.

Salah satu aksi sosial yang pernah dilakukan Bang Jek adalah memberikan sepeda motor kepada guru Ahmad Aziz yang sebelumnya viral karena menggunakan sepeda kecil sambil membonceng anaknya untuk pergi ke sekolah.

Iring iringan dan pemakaman jenazah relawan Ahmad Zaki yang gugur saat bantu korban gempa NTT. Foto: Dok. Kantor SAR Jakarta

Jenazah Dievakuasi dengan Helikopter

Setelah Bang Jek meninggal, Tim SAR gabungan melakukan evakuasi jenazah dari lokasi bencana.

Pada Sabtu (22/8) pukul 07.04 WITA, jenazah dievakuasi menggunakan helikopter Dauphin Basarnas dari Desa Satar Padut, Manggarai Timur, menuju Bandara Komodo, Labuan Bajo.

Deputi Operasi dan Siaga Basarnas, Mayjen TNI (Mar) Edy Prakoso, mengatakan proses evakuasi telah dilakukan pada pagi hari.

“Pada pagi hari ini, baru saja kita melaksanakan pengantaran terhadap jenazah rekan kita, relawan dari potensi atas nama Ahmad Zaki,” ujar Edy.

Setelah tiba di Labuan Bajo, jenazah Bang Jek dibawa ke RSUD Pratama Komodo sebelum dipulangkan ke Jakarta untuk diserahkan kepada keluarga.

Di Jakarta, jenazah Bang Jek dimakamkan di TPU Sukabumi Selatan, Jakarta Barat, pada Sabtu (22/8) malam.

Suasana di kantor Yayasan Gerak Bareng milik relawan gempa NTT yang gugur, Ahmad Zaki Ali tepat bersebelahan dengan rumah duka, Jakarta Barat, Minggu (23/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparan

Prosesi pemakaman diiringi iring-iringan ambulans dan ratusan pelayat dari komunitas relawan serta potensi SAR se-Jabodetabek.

“Dalam prosesi penghormatan terakhir ini, personel rescue Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta hadir bersama ratusan potensi SAR se-Jabodetabek dan komunitas ambulans se-Jabodetabek,” demikian dikutip dari akun Kantor SAR Jakarta.

“Mereka hadir bukan hanya untuk mengantar seorang relawan menuju peristirahatan terakhir, tetapi juga untuk memberikan penghormatan kepada seseorang yang telah mendedikasikan tenaga, waktu, dan hidupnya untuk kemanusiaan,” sambungnya.

Sehari setelah pemakaman, makam Bang Jek di Blok 5 TPU Sukabumi Selatan tampak telah dirapikan dan dipenuhi bunga. Tenda hitam milik Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Barat menaungi makamnya.

Suasana makam relawan gempa NTT yang gugur, Ahmad Zaki Ali (42) di TPU Sukabumi Selatan, Jakarta Barat, Minggu (23/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparan

Pengabdian yang Berlanjut

Kepergian Bang Jek terjadi ketika proses transisi kepemimpinan Yayasan Gerak Bareng tengah disiapkan. Menurut Fera, Bang Jek telah mempercayakan pengelolaan yayasan kepada manajemen yang lebih mapan sekitar dua bulan sebelum meninggal.

“Nah Bang Jek sebenarnya ini seperti salah satu pertanda, di dua bulan terakhir itu dia masih aman gitu, kayak wasiat ke Rizky, saya kasih Gerak Bareng, kamu tolong urus gitu,” ujarnya.

Namun, ketika gempa mengguncang NTT, panggilan untuk kembali turun ke lapangan membuat Bang Jek berangkat meski tidak lagi menjadi prioritas utama dalam agenda yayasan.

Misi tersebut menjadi perjalanan terakhirnya.

Suasana makam relawan gempa NTT yang gugur, Ahmad Zaki Ali (42) di TPU Sukabumi Selatan, Jakarta Barat, Minggu (23/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparan

Bagi keluarga dan para relawan yang mengenalnya, Bang Jek meninggalkan jejak panjang dalam kegiatan kemanusiaan. Ia memulai pengabdiannya saat bencana tsunami Aceh, kemudian terus bergerak membantu masyarakat di berbagai daerah hingga akhirnya meninggal ketika mendistribusikan bantuan kepada korban gempa NTT.

Gempa NTT sendiri terjadi pada Sabtu (15/8). Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut berpusat di kawasan Flores dan berdampak cukup parah terhadap Manggarai Timur serta sejumlah wilayah lain. Sedikitnya 83 orang meninggal dunia dalam bencana tersebut.

Hingga Rabu (19/8), BMKG mencatat 3.055 gempa susulan terjadi di wilayah NTT. Gempa susulan terbesar tercatat berkekuatan magnitudo 6,2.

Di tengah proses pemulihan bencana, bantuan masih terus disalurkan. Dan di antara mereka yang datang untuk membantu, Bang Jek telah menyelesaikan misi terakhirnya.