Pakar Soroti Konser Andrea Bocelli di Borobudur: Bukan Sekadar Hiburan, tapi Pesan Perdamaian Dunia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Andrea Bocelli tampil dalam upacara pembukaan menjelang pertandingan sepak bola Grup A Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan di Stadion Mexico City, Mexico City, pada 11 Juni 2026. Foto: Carl De Souza / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Andrea Bocelli tampil dalam upacara pembukaan menjelang pertandingan sepak bola Grup A Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan di Stadion Mexico City, Mexico City, pada 11 Juni 2026. Foto: Carl De Souza / AFP

Pakar geopolitik internasional sekaligus alumnus Universitas St. Petersburg, Rusia, Dr. Ahmad Sujai, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan konser maestro musik dunia Andrea Bocelli di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Menurutnya, momentum perayaan 30 tahun album Romanza ini bukan sekadar pertunjukan musik internasional, melainkan peristiwa kebudayaan yang memiliki makna strategis bagi diplomasi Indonesia dan masa depan dialog antarperadaban dunia.

Dr. Ahmad Sujai menilai bahwa Borobudur memiliki kekuatan simbolis yang luar biasa dalam sejarah peradaban manusia. Sebagai salah satu warisan budaya dunia, Borobudur merepresentasikan kebesaran sejarah, kedalaman spiritualitas, serta kemampuan manusia menciptakan karya monumental yang melampaui batas zaman. Kehadiran Andrea Bocelli, dengan karya-karya musik yang dikenal lintas generasi dan bangsa, menghadirkan perjumpaan antara warisan peradaban Timur dan ekspresi seni musik dunia.

“Borobudur bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi jembatan peradaban masa depan. Ketika maestro dunia seperti Andrea Bocelli hadir di Borobudur, kita sedang menyaksikan perjumpaan antara sejarah, seni, dan kemanusiaan. Momentum ini harus dimaknai sebagai pesan bahwa peradaban manusia akan terus berkembang melalui dialog, persahabatan, dan perdamaian, bukan melalui peperangan dan pertentangan,” ujar Dr. Ahmad Sujai.

Dalam perspektif geopolitik internasional, Dr. Ahmad Sujai berpandangan bahwa kekuatan sebuah negara pada era modern tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kekuatan ekonomi, politik, maupun militer. Diplomasi kebudayaan dan pengaruh nilai-nilai peradaban atau soft power semakin memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan, memperluas kerja sama, dan memperkuat posisi suatu bangsa dalam hubungan internasional. Indonesia, dengan kekayaan sejarah dan keberagaman budayanya, memiliki modal besar untuk mengambil peran tersebut.

Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan seni internasional di kawasan Borobudur dapat menjadi contoh bagaimana warisan budaya dimanfaatkan secara bertanggung jawab sebagai ruang diplomasi yang inklusif. Di tengah dunia yang masih diwarnai ketegangan geopolitik, konflik bersenjata, dan krisis kemanusiaan, Indonesia perlu terus menghadirkan ruang-ruang perjumpaan yang mengedepankan dialog, penghormatan terhadap perbedaan, dan persaudaraan antarbangsa.

Dr. Ahmad Sujai juga menekankan bahwa pesan perdamaian dari Borobudur harus memiliki relevansi terhadap berbagai persoalan kemanusiaan global, termasuk penderitaan masyarakat sipil akibat peperangan di berbagai kawasan dunia. Seni dan kebudayaan, menurutnya, tidak dapat menggantikan diplomasi politik, tetapi dapat membantu membangun kesadaran moral bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama untuk hidup dalam keamanan, kebebasan, keadilan, dan martabat.

“Dunia hari ini tidak kekurangan kekuatan militer, tetapi membutuhkan lebih banyak kebijaksanaan, dialog, dan solidaritas kemanusiaan. Kita berharap dari Borobudur lahir pesan moral kepada masyarakat internasional bahwa masa depan dunia harus dibangun melalui kerja sama antarperadaban. Musik harus menjadi bahasa persaudaraan, bukan perpecahan. Kebudayaan harus menjadi jembatan perdamaian, bukan alat pertentangan,” lanjutnya.

Lebih jauh, Dr. Ahmad Sujai berharap momentum konser Andrea Bocelli dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi Indonesia, khususnya dalam penguatan diplomasi budaya, pengembangan pariwisata berkualitas, pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, serta peningkatan perhatian dunia terhadap pelestarian warisan budaya. Setiap kegiatan internasional di kawasan Borobudur juga harus menjunjung tinggi prinsip pelestarian, penghormatan terhadap nilai sejarah, dan keberlanjutan lingkungan.

Menutup pernyataannya, Dr. Ahmad Sujai mengajak seluruh elemen bangsa untuk melihat konser Andrea Bocelli sebagai kesempatan memperkenalkan wajah Indonesia yang terbuka, berbudaya, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Borobudur hendaknya tidak hanya dikenang sebagai peninggalan agung peradaban masa silam, tetapi juga terus dihidupkan sebagai sumber inspirasi bagi lahirnya peradaban dunia yang lebih damai, adil, dan bermartabat.

“Dari Borobudur, Indonesia mengirimkan pesan kepada dunia: peradaban besar tidak lahir dari peperangan, melainkan dari kebijaksanaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Mari menjadikan seni sebagai bahasa universal yang menyatukan bangsa-bangsa. Dari Borobudur untuk dunia, dari warisan masa lalu menuju peradaban masa depan.”