Pemkab Deli Serdang Bangun Drainase ke Sungai Hamparan Perak untuk Cegah Banjir

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang, bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Deli Serdang, mempercepat pembangunan infrastruktur guna mengantisipasi banjir. Salah satu proyeknya adalah pembangunan saluran drainase di Jalan Koramil, Desa Klambir, Kecamatan Hamparan Perak, Sumatera Utara, yang ditinjau pada Rabu (14/10/2026).
Pembangunan drainase ini bertujuan mengatasi masalah genangan dan banjir tahunan, berkaca dari bencana pada akhir 2025. Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Deli Serdang, Suparno, menjelaskan proyek menggunakan dana TKD Tambahan dengan pagu anggaran Rp 1,034 miliar.
Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu daerah di Provinsi Sumatera Utara yang menerima dana Transfer ke Daerah (TKD) Tambahan secara signifikan pada tahun 2026. Total anggaran tambahan yang diterima adalah sekitar Rp495 miliar
TKD Tambahan (Transfer ke Daerah Tambahan) adalah dana darurat atau anggaran penyesuaian di luar alokasi reguler yang disalurkan oleh pemerintah pusat dari APBN langsung ke kas pemerintah daerah.
Dana penambahan ini bersifat diskresioner (kebijakan khusus presiden/menteri) dan dikeluarkan ketika ada kebutuhan mendesak di daerah yang tidak bisa dicover oleh anggaran reguler.
Penggunaan TKD Tambahan dalam merehabilitasi dan merekonstruksi infrastruktur di daerah terdampak bencana berada dalam monitoring dan evaluasi Satuan Tugas PRR Pascabencana Sumatera.
"Pembuatan Saluran Drainase ini terletak di Desa Hamparan Perak, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang. Pengerjaan ini, sesuai dengan kontrak, dia mulai tanggal 6 Juli, selama 120 hari kalender, akan diperkirakan selesai 2 November 2026. Ini dana dari TKD Tambahan. Jumlahnya, pagu anggarannya Rp 1.034.000.000. Dibangun kurang lebih 1 kilometer," ujar Suparno.
Suparno menambahkan drainase ini mengarahkan air permukiman menuju jalan nasional lalu dibuang ke Sungai Hamparan Perak. Sebelumnya, drainase tanah alami yang sempit dan dangkal sering meluap akibat tersumbat sedimen serta sampah.
"Selama ini kan keluhan masyarakat ketika hujan deras dan pascabencana tahun 2025, ini merupakan salah satu daerah terdampak banjir. Sehingga volume air yang selama ini kondisi drainasenya tidak lancar, sehingga ini kita buat drainase supaya ini bisa tembus ke jalan nasional dan dibuang ke Sungai Hamparan Perak. Harapannya, dengan dibangunnya drainase ini, titik banjir akan berkurang," tambahnya.
Drainase baru berbentuk trapesium ini memiliki lebar atas 110 cm, tengah 80 cm, bawah 60 cm, dan kedalaman 70 cm. Pengerjaannya direncanakan sepanjang 773 meter dan kini telah mencapai progres 70 persen.
Kepala Pelaksana BPBD Deli Serdang, Mukti Ali Harahap, menegaskan pentingnya saluran ini karena Kecamatan Hamparan Perak berada di hilir penerima muara sungai. Tanpa drainase memadai, limpahan air dari daerah hulu akan menumpuk dan memicu banjir besar.
"Untuk di Hamparan Perak, pembangunan drainase itu sangat penting sekali. Kenapa? Karena Hamparan Perak ini adalah daerah yang banyak muara sungai dari berbagai hulu ke Hamparan Perak dan ini pembuangannya ke laut. Jadi kalau tidak ada drainase di Hamparan Perak, maka air dari kecamatan lain yang lebih tinggi itu akan menumpuk di sini. Kalau kita lihat dari data dampak banjir 2025 kemarin, itu ada 13 ribu lebih rumah yang terdampak dan 17 ribu KK yang terdampak, dan 53 ribu penduduk yang kena di Kecamatan Hamparan Perak. Jadi menurut saya ini sangat penting untuk diselesaikan lebih awal, drainase di daerah hilir jangan dari hulu. Ini hilir dan ada beberapa desa yang langsung ke pinggir laut," jelas Mukti Ali Harahap.
Camat Hamparan Perak, Faisal Nasution, menyampaikan bahwa perbaikan saluran ini mulai membawa dampak positif bagi warga meski pengerjaannya belum rampung sepenuhnya.
Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh warga Dusun V Desa Klambir, Irianto (52) dan Agus Purnomo (40).
"Nah, setelah ini diperbaiki kayaknya kemarin ada curah hujan tinggi. Kayaknya airnya mengalir bagus. Artinya, sudah gak banjir habis hujan," ungkap Irianto.
"Lumayan lah, kalau udah dibuat kayak gini, sudah gak banjir lah. Setelah dibuat aliran ini lumayan lah gak terlalu banjir," pungkas Agus.
Pembangunan saluran drainase ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam menanggulangi risiko banjir di Kecamatan Hamparan Perak.
Upaya percepatan pemulihan infrastruktur dan penanggulangan banjir ini juga mendapat perhatian penuh dari Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian.
Ia mendorong pemerintah daerah untuk terus mempercepat berbagai langkah pemulihan, termasuk penanganan sungai dan pembangunan sistem drainase, serta menjalin kerja sama dengan pihak ketiga guna mempercepat proses normalisasi.
"Sungai yang tidak rawan banjir kembali mungkin lebih baik diserahkan kepada pemerintah daerah, lalu pemda kerja sama dengan pihak ketiga. Kalau tidak, tidak selesai kalau harus dikerjakan pemerintah pusat semua," ujar Tito.
Tito juga menambahkan bahwa proses normalisasi sungai dan sistem drainase di wilayah Sumatera masih membutuhkan waktu panjang dan diperkirakan berlangsung hingga 2028, sehingga percepatan di tingkat daerah menjadi kunci penting dalam mendukung pemulihan wilayah serta menggerakkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat terdampak.
"Masih banyak yang harus dikerjakan. Bisa sampai 2028 soal normalisasi sungai ini. Kalau ada pihak ketiga, ya sudah biar pihak ketiga saja," tambah Tito.
