Pesan Kiai Miftach dan Gus Kikin saat Pelantikan Pengurus Baru PBNU

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prosesi baiat PBNU 2026-3031 di Ponpes Al Hamid, Cilangkap, Jakarta, Sabtu (24/10/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Prosesi baiat PBNU 2026-3031 di Ponpes Al Hamid, Cilangkap, Jakarta, Sabtu (24/10/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031 mulai menjalankan amanah kepengurusan dengan membawa pesan tentang kebersamaan, pengabdian, dan tanggung jawab di tengah masyarakat.

Dalam rangkaian pelantikan, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mengingatkan pengurus agar mendahulukan kepentingan orang lain serta aktif memberikan pencerahan kepada umat.

Sementara Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyoroti pentingnya keterwakilan lintas generasi dalam struktur organisasi. Ia juga mengingatkan agar seluruh pengurus tetap berada dalam satu barisan untuk menjalankan tugas organisasi.

Kiai Miftach Pimpin Pelantikan Pengurus PBNU

KH Miftachul Akhyar memimpin pelantikan pengurus PBNU masa khidmah 2026–2031. Pelantikan ini menjadi bagian dari dimulainya masa pengabdian kepengurusan baru Nahdlatul Ulama setelah melalui rangkaian Muktamar ke-35 NU.

Kepengurusan baru diharapkan mampu meneruskan khidmah organisasi sekaligus memperkuat peran NU dalam menjawab berbagai persoalan umat. Dalam menjalankan amanah tersebut, para pengurus tidak hanya dituntut menggerakkan organisasi, tetapi juga menjaga semangat kebersamaan dan mengutamakan kemaslahatan masyarakat.

Prosesi baiat PBNU 2026-3031 di Ponpes Al Hamid, Cilangkap, Jakarta, Sabtu (24/10/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Kiai Miftach Singgung Perang Yarmuk, Ingatkan Pentingnya Mendahulukan Orang Lain

Dalam pesannya kepada pengurus, Kiai Miftach menyinggung Perang Yarmuk sebagai pelajaran tentang sikap mendahulukan kepentingan orang lain. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak semata-mata berorientasi pada kepentingan pribadi, melainkan juga pada kebutuhan dan kemaslahatan sesama.

Pesan itu relevan bagi para pengurus PBNU yang mengemban tanggung jawab organisasi dengan latar belakang, pengalaman, dan kepentingan yang beragam. Semangat mendahulukan orang lain diharapkan menjadi landasan dalam mengambil keputusan serta menjalankan program kerja.

Dengan demikian, kepengurusan PBNU tidak hanya dinilai dari struktur dan program yang disusun, tetapi juga dari kemampuan para pengurus menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Ketum PBNU Abdul Hakim Mahfuz (Gus Kikin) di Ponpes Al Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Singgung Yaumul Haraj, Kiai Miftach Minta Pengurus Aktif Beri Pencerahan

Kiai Miftach juga menyinggung konsep yaumul haraj dan meminta pengurus aktif memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Pesan ini menempatkan pengurus NU pada peran yang lebih luas daripada menjalankan urusan administratif organisasi. Di tengah berbagai persoalan dan derasnya arus informasi, pengurus diharapkan dapat membantu masyarakat memahami keadaan secara jernih serta memberikan panduan yang menyejukkan.

Pencerahan tersebut menjadi bagian penting dari pengabdian NU, terutama ketika masyarakat menghadapi kebingungan, perbedaan pandangan, maupun persoalan sosial yang membutuhkan penjelasan dari tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan.

Gus Kikin: Struktur PBNU Pertimbangkan Keterwakilan Antar-Generasi

Dari sisi kepengurusan, Gus Kikin menjelaskan bahwa struktur PBNU masa khidmah 2026–2031 mempertimbangkan keterwakilan antar-generasi.

Komposisi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan organisasi. Pengalaman para pengurus senior dapat berjalan beriringan dengan gagasan dan energi generasi yang lebih muda, sehingga organisasi memiliki ruang untuk meneruskan tradisi sekaligus merespons perkembangan zaman.

Keterwakilan lintas generasi juga penting agar proses pengambilan keputusan dapat mempertimbangkan perspektif yang beragam. Dengan begitu, kepengurusan diharapkan tidak hanya menjaga keberlanjutan organisasi, tetapi juga memperkuat kemampuan NU menjangkau berbagai kelompok masyarakat.

Prosesi baiat PBNU 2026-3031 di Ponpes Al Hamid, Cilangkap, Jakarta, Sabtu (24/10/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Gus Kikin Ingatkan Seluruh Pengurus Berada dalam Satu Saf

Selain menyoroti komposisi kepengurusan, Gus Kikin menyampaikan pesan agar seluruh pengurus PBNU masa khidmah 2026–2031 berada dalam satu saf atau satu barisan.

Pesan tersebut menekankan pentingnya persatuan dan kerja bersama dalam menjalankan amanah organisasi. Perbedaan latar belakang maupun pandangan di antara pengurus perlu dikelola melalui komunikasi dan musyawarah, bukan menjadi penghalang bagi pelaksanaan program.

Kesamaan tujuan menjadi kunci agar struktur yang telah dibentuk dapat bekerja secara efektif. Keterwakilan berbagai generasi akan memberi manfaat apabila diikuti komitmen bersama untuk menjalankan tanggung jawab organisasi.

Rangkaian pesan Kiai Miftach dan Gus Kikin itu menempatkan pengabdian, pencerahan umat, keterwakilan, dan persatuan sebagai tema penting bagi kepengurusan PBNU 2026–2031. Tantangannya kini adalah menerjemahkan pesan tersebut ke dalam kerja organisasi yang nyata dan memberi manfaat bagi masyarakat.