Kumparan Logo

Populer: AS Kuasai 65 Miliar Barel Minyak Venezuela; Pesan Perry ke Destry dkk

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pekerja minyak Venezuela dari perusahaan negara PDVSA berpartisipasi dalam pengisian tanker minyak di terminal pengiriman dan penyimpanan Jose, 200 mil sebelah timur Caracas, Venezuela. Foto: Jorge Silva/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pekerja minyak Venezuela dari perusahaan negara PDVSA berpartisipasi dalam pengisian tanker minyak di terminal pengiriman dan penyimpanan Jose, 200 mil sebelah timur Caracas, Venezuela. Foto: Jorge Silva/REUTERS

Langkah Amerika Serikat (AS) yang berpotensi menguasai 65 miliar barel minyak Venezuela menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Selasa (1/9).

Berita populer lainnya adalah kabar mengenai eks Gubernur BI Perry Warjiyo yang buka suara dan m. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:

Kesepakatan Hampir Tercapai, AS Bisa Kuasai 65 Miliar Barel Minyak Venezuela

Amerika Serikat berpotensi besar mengamankan dominasi energi melalui kesepakatan pengelolaan cadangan minyak mentah dengan Venezuela senilai 65 miliar barel.

Berdasarkan lembar fakta yang dirilis Gedung Putih, kesepakatan ini melibatkan konsesi 100 tahun kepada North American Blue Energy Partners (NABEP) untuk mengelola 17 ladang minyak dengan cadangan terbukti yang sangat masif.

Langkah taktis ini dirancang untuk mengisi kembali cadangan minyak strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR), sekaligus secara efektif menekan pengaruh korporasi energi asal Rusia dan China di kawasan tersebut.

Secara struktural, kesepakatan ini menawarkan keuntungan ekonomi yang signifikan bagi AS. Sebagai imbalan atas hak konsesi tersebut, NABEP memberikan kepemilikan saham sebesar 35 persen pada perusahaan induknya kepada US Office of Strategic Capital, yang diperkirakan bernilai dividen ratusan miliar dolar.

Ilustrasi kilang minyak dan gas. Foto: Rangsarit Chaiyakun/Shutterstock

Departemen Luar Negeri AS juga mengamankan hak untuk membeli 20 persen produksi dari seluruh ladang minyak NABEP saat ini maupun di masa mendatang dengan harga setara biaya produksi, serta hak penolakan pertama untuk membeli 80 persen sisa hasil produksi lainnya.

Bagi perekonomian Venezuela, masuknya NABEP diproyeksikan akan membawa suntikan modal swasta dari AS hingga USD 100 miliar guna membangun infrastruktur minyak baru.

Di bawah regulasi undang-undang hidrokarbon baru yang didukung penuh oleh AS, NABEP diperkirakan akan menyumbang royalti dan pajak mencapai USD 200 miliar dalam 25 tahun pertama operasionalnya.

Pemerintah AS juga memastikan akan ada sistem pengawasan ketat untuk menjamin seluruh arus modal dari pajak dan royalti ini dialokasikan langsung demi kesejahteraan rakyat Venezuela.

Eks Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengikuti rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (13/11/2025). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Pesan Eks Gubernur BI Perry Warjiyo ke Destry Damayanti dkk

Mantan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, akhirnya memberikan pernyataan resmi setelah memutuskan mundur dari posisinya sebelum masa jabatannya berakhir pada 2028.

Perry menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan yang diberikan kepadanya dalam mengawal stabilitas moneter nasional selama memimpin bank sentral tersebut.

Dalam kesempatan itu, Perry juga memberikan ucapan selamat kepada Destry Damayanti yang telah disahkan sebagai Gubernur BI periode 2026–2031 dalam rapat paripurna DPR.

Perry juga memberikan selamat atas terpilihnya Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior dan Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur.

Dalam pesan pribadinya, Perry menaruh harapan agar mereka dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional, terutama dalam menghadapi dinamika pasar keuangan internasional.

"Saya berharap Dewan Gubernur yang baru mampu memperkuat mandat Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, di tengah gejolak global yang masih berlanjut," kata Perry.