Kumparan Logo

Populer: Bos Sepak Bola Maroko Jadi Menkeu; Prancis Dibayangi Utang

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kobaran api membakar gedung Balai Kota setelah sekelompok orang memaksa masuk ke dalam bangunan tersebut saat aksi demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di Limoges, Prancis bagian tengah, Sabtu (17/10/2026). Foto: Pascal LACHENAUD / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Kobaran api membakar gedung Balai Kota setelah sekelompok orang memaksa masuk ke dalam bangunan tersebut saat aksi demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di Limoges, Prancis bagian tengah, Sabtu (17/10/2026). Foto: Pascal LACHENAUD / AFP

Penunjukan Ketua Federasi Sepak Bola Maroko sebagai Menteri Keuangan menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Minggu (18/10).

Selain itu, lonjakan beban utang Prancis yang memicu penurunan kepercayaan pasar turut menjadi sorotan. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:

Maroko Bersiap Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2030

Raja Mohammed VI resmi menunjuk Fouzi Lekjaa, Ketua Federasi Sepak Bola Maroko, untuk memimpin Kementerian Keuangan dalam kabinet Perdana Menteri Fatima Ezzahra El Mansouri. Penunjukan mantan menteri anggaran berusia 56 tahun ini dilakukan di tengah persiapan Maroko menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia FIFA 2030 mendampingi Spanyol dan Portugal. Langkah ini diambil saat negara tersebut menghadapi keterbatasan ruang fiskal dan meningkatnya desakan belanja sosial pascademonstrasi Generasi Z pada 2025.

Presiden Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko Fouzi Lekjaa menghadiri rapat umum di Benslimane pada 20 September 2026. Foto: Abdel Majid BZIOUAT / AFP

Dalam mandat barunya, Lekjaa berkomitmen meningkatkan belanja pemerintah sebesar 70 miliar dirham Maroko atau sekitar USD 7,2 miliar per tahun hingga 2031 guna menekan biaya hidup dan menciptakan lapangan kerja. Namun, pencapaian target tersebut dibayangi hilangnya akses mekanisme pembiayaan inovatif penjualan aset negara yang sempat menyumbang USD 4,2 miliar pada 2025. Tekanan ekonomi kian berat setelah lembaga HCP melaporkan 76 persen rumah tangga mengalami penurunan standar hidup dalam 12 bulan terakhir hingga September.

Prancis Dibayangi Beban Utang Tinggi-Turunnya Kepercayaan Pasar

Perekonomian Prancis berada di bawah ancaman krisis fiskal setelah beban utang publik membengkak ke rekor USD 4 triliun atau setara 119 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kondisi ini mendorong imbal hasil obligasi ke level tertinggi dalam 24 tahun terakhir, memicu sinyal peringatan yang serupa dengan krisis utang zona euro pada 2011. Pasar keuangan mulai memperhitungkan meningkatnya risiko gagal bayar akibat bayang-bayang ketidakstabilan politik jelang pemilihan presiden.

Sebagai upaya meredam gejolak, Perdana Menteri Sébastien Lecornu mengajukan usulan anggaran 2027 untuk memangkas defisit menjadi 5 persen dari PDB, turun dari posisi saat ini sebesar 5,4 persen. Jika Majelis Nasional gagal meloloskan anggaran tersebut, biaya pembayaran bunga utang diproyeksikan melonjak tajam. Dampak terburuknya dapat memaksa negara ekonomi terbesar ketujuh di dunia ini meminta bantuan darurat kepada Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Sentral Eropa (ECB).