RedTalks di Malang Bahas Peran Parpol, Ideologi, dan Generasi Muda

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Diskusi RedTalks: Indonesia Punya Kita: Nasionalisme Tanpa Batas Generasi  di Gedung Malang Creative Center (MCC), Kota Malang, Sabtu, (25/7/2026). Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi RedTalks: Indonesia Punya Kita: Nasionalisme Tanpa Batas Generasi di Gedung Malang Creative Center (MCC), Kota Malang, Sabtu, (25/7/2026). Foto: kumparan

Peran partai politik dalam menjaga ideologi negara hingga mendorong keterlibatan generasi muda menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi RedTalks: Indonesia Punya Kita: Nasionalisme Tanpa Batas Generasi di Gedung Malang Creative Center (MCC), Kota Malang, Sabtu,

Pengamat politik Rocky Gerung menilai partai politik sebagai muara kekuasaan mulai kehilangan pijakan ideologinya. Menurut dia, setiap partai politik, termasuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), perlu kembali menegakkan ideologi negara dan pemikiran para pendiri bangsa, termasuk Ir. Soekarno.

"Yang kita perlukan adalah argumen. Jadi, tantanglah PDIP, sekuat apa sih energi nasionalisme untuk menghalangi oligarki, sekuat apa Pandu Marhaen itu mampu untuk menjaga kedaulatan sebagai simbol dari Pancasila," tegasnya.

Sementara itu, Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo menilai partai politik memiliki peran penting dalam menghidupkan kembali ideologi negara di tengah dinamika politik saat ini. Menurutnya, PDIP sebagai salah satu partai politik memiliki peluang untuk menanamkan kembali nilai-nilai ideologi hingga ke generasi muda dan akar rumput.

"Ke belakang PDI itu kan dulu terkenal dengan jelas gak jelas, waktu apa yang disampaikan Pak Rocki tentang kembali ke market, saya kira lebih kembali ke jalan yang indah, karena merah jadi saya marah dengan harapan agar merah ramah pada grassroot," kata Suko Widodo.

Suko juga menilai generasi muda saat ini mulai menunjukkan sikap skeptis terhadap berbagai perubahan. Hal itu, menurutnya, terlihat dari pengalaman saat mengajar di kampus, ketika sebagian mahasiswa tampak kurang antusias mengikuti perkuliahan.

"Harus datang, kalau gelisah empati itu perjumpaan, ada proses komunikasi dalam bentuk pertemuan, saya berharap PDIP mengangkat kegelisahan itu. Persoalan kita jangan hanya melihat Jakarta saja, tapi di Ponorogo, Sampang, dimanapun di sekitar kita," lanjut Suko.

Menurutnya, semangat gotong royong menjadi modal penting untuk mengembalikan ideologi dalam kehidupan berbangsa. Karena itu, partai politik dinilai dapat menjadi salah satu penggerak lahirnya ideologi yang bekerja di tengah masyarakat.

"Kalau kita gotong royong kan kita punya kekuatan, kalau birokrasi nggak bisa bekerja, ya partai kayak PDIP itu yang menciptakan working ideologi itu," tuturnya.

Di sisi lain, Wakil Kepala Bidang (Wakabid) Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital DPD PDIP Jawa Timur Qintharra Ulya Yassifa menilai menurunnya keterlibatan anak muda dalam persoalan sosial dan politik dipengaruhi minimnya ruang yang diberikan partai politik. Akibatnya, banyak generasi muda yang lebih memilih bersikap pragmatis.

"Saya belajar engineering belajar desain tata ruang bertahun-tahun di luar negeri, kemudian saya balik ke Indonesia cuma satu pikiran saya, bagaimana saya bisa membantu kebijakan publik terhadap lingkungan di Indonesia salah satu caranya adalah dekat dengan membuat kebijakan tersebut bagaimana caranya saya masuk partai politik," ungkap Qintharra Ulya Yassifa saat diskusi.

Menurut Qintharra, gagasan dan ide yang dimilikinya mendapat ruang di PDIP meski sebagai generasi muda pengalaman politiknya masih terbatas. Ia mengatakan sejumlah gagasan yang disampaikan bahkan telah diimplementasikan untuk kepentingan masyarakat.

"Jadi kalau misalnya harus disamakan sama partai politik itu menuntut ilmu tersebut, saya rasa tidak, saya rasa ini beda, ini PDI Perjuangan sudah menunjukkan sebuah contoh yang sangat progresif," kata dia.

Diskusi RedTalks: Indonesia Punya Kita: Nasionalisme Tanpa Batas Generasi di Gedung Malang Creative Center (MCC), Kota Malang, Sabtu, (25/7/2026). Foto: kumparan

Ia menambahkan, ruang bagi generasi muda di PDIP tidak berhenti pada penyampaian gagasan, tetapi juga diwujudkan melalui keterlibatan dalam struktur organisasi partai.

"Kita di PDI Perjuangan Jawa Timur mewajibkan partisipasi anak muda itu minimal 20 persen di struktur, kita pastikan bahwa mereka juga akan bisa memberikan informasi, mereka katakan kita (parpol) juga cuma datang 5 tahun sekali, tapi kita benar-benar datang untuk buat acara terus-menerus," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rocky Gerung juga menyoroti menguatnya oligarki dan pentingnya ideologi sebagai dasar dalam menentukan arah kebijakan negara. Menurutnya, ideologi tidak hanya berfungsi sebagai dasar negara, tetapi juga menjadi landasan dalam mengambil keputusan, melakukan kajian, dan membangun argumentasi.

"Kalau anda ingin marah dengan arah, anda butuh argumen, supaya arahnya bisa dihasilkan dengan kepastian dan keyakinan, maka arah itu harus ideologis. Jadi, itu yang selalu saya ingin terangkan kepada teman-teman anak muda, bahwa mari kita bertengkar dengan argumen dan dengan arah ideologis," kata Rocky Gerung.

Rocky menilai ketika ideologi mulai ditinggalkan, berbagai kebijakan berpotensi kehilangan arah dan memunculkan kegelisahan di tengah masyarakat. Ia juga mengaitkan kondisi tersebut dengan dinamika geopolitik global yang dinilai memengaruhi arah kebijakan suatu negara.