Saat Kemenkes Jemput Bola Sceening TB ke Pesantren di Jombang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkes Budi Gunadi Sadikin bersama dr. Gia Pratama saat meninjau pelaksanaan skrining Tuberkulosis (TB) dengan rontgen dada dan Cek Kesehatan Gratis di SMA A. Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (20/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menkes Budi Gunadi Sadikin bersama dr. Gia Pratama saat meninjau pelaksanaan skrining Tuberkulosis (TB) dengan rontgen dada dan Cek Kesehatan Gratis di SMA A. Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (20/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, meninjau pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan skrining TB menggunakan rontgen dada di SMA A. Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (20/8).

Di kesempatan itu, Budi mengungkap tingginya angka kematian akibat Tuberkulosis (TB) di Indonesia. Ternyata, ada 120-140 ribu orang meninggal akibat TB setiap tahun.

“Ini penyakit yang kematiannya 120-140 ribu setahun. Lebih banyak dari Covid nih dan kalau kita ngomong setiap 5 menit 2 (orang) meninggal,” tutur Budi.

Budi mengatakan, TB merupakan penyakit menular. Dia menyebut Indonesia berada di peringkat kedua setelah India.

“Ini penyakit menular, Indonesia ranking 2 paling bawah sesudah India,” ujarnya.

Lebih lanjut, Budi membeberkan alasan tingginya angka kematian akibat TB di tengah tersedianya obat untuk penyakit tersebut. Menurutnya, proses skrining masih menjadi salah satu kendala karena membutuhkan waktu lama.

“Padahal obatnya ada. Kok kenapa obatnya ada, meninggalnya banyak? Karena memang skriningnya, ketahuannya sering sangat-sangat lama, karena susah-susah pakai X-ray. Kadang-kadang mesti pakai tes kayak Polymerase Chain Reaction (PCR) dulu,” beber Budi.

26 Santri di Ponpes Tebuireng Terindikasi TB

Menkes Budi Gunadi Sadikin, bersama Hj. Lelly Lailiyah, dan Kadinkes Kabupaten Jombang, Hexawan Tjahja Widada, saat meninjau pelaksanaan skrining Tuberkulosis dengan rontgen dada dan Cek Kesehatan Gratis di Jombang, Jawa Timur, Kamis (20/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Sebanyak 26 siswa di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, terindikasi Tuberkulosis (TB) setelah menjalani skrining dengan rontgen dada.

Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengatakan temuan kasus TB justru menjadi hal positif karena penyakit tersebut dapat langsung diobati.

“Tadi udah dicek, udah ketemu 26. Kalau ketemu nggak apa-apa. Ya, justru dengan ketemu bisa diobatin. Dan kalau udah diobatin sebulan jadi berhenti penularannya,” kata Budi dalam agenda pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan skrining Tuberkulosis (TB) di SMA A. Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (20/8).

Budi mengatakan, pasien TB tidak perlu dijauhi karena pengobatan tersedia.

“Jadi banyak orang yang bilang kalau ada TBC, ‘Wah kelihatan jelek’. Enggak, justru kalau ketemu TBC itu bagus. Karena bisa diobatin dan tidak menular,” terang Budi.

Sementara itu, istri Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Lelly Lailiyah, menyebut 26 siswa tersebut memiliki indikasi TB.

“Kebetulan tadi sudah ditemukan 26 siswa yang ada indikasi TBC,” kata Lelly.

Lelly mengatakan, santri yang terindikasi TB akan mendapatkan pengobatan secara gratis.

“Nah untuk semua santri-santri Tebuireng tidak perlu takut ketularan. Tapi memang ada caranya untuk supaya teman-teman kalian yang terindikasi itu diberikan obat langsung selama kurang lebih 1 bulan sampai dengan 3 bulan. Gratis. Nah yang gratis ini yang paling asli,” jelasnya.

Selaras dengan Budi, Lelly juga meminta para santri tidak mengisolasi atau menjauhi teman yang terindikasi TB. Dia menyarankan santri lainnya menggunakan masker.

“Jadi tidak boleh teman-temannya itu diisolasi atau dijauhi. Tetapi sama-sama cuma teman-temannya nanti pakai masker. Ya nanti teman-temannya pakai masker. Jadi itu harap dimaklumi,” kata Lelly.

Skrining TB Ditargetkan Jangkau 42 Ribu Pesantren

Menkes Budi Gunadi Sadikin bersama dr. Gia Pratama saat meninjau pelaksanaan skrining Tuberkulosis (TB) dengan rontgen dada dan Cek Kesehatan Gratis di SMA A. Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (20/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Pemerintah akan memperluas skrining Tuberkulosis (TB) ke pesantren-pesantren di seluruh Indonesia. Langkah ini dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mempercepat penemuan dan penuntasan kasus TB.

Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, menargetkan skrining tersebut dapat menjangkau 42 ribu pesantren.

Hal itu disampaikan Budi saat meninjau pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan skrining TB menggunakan rontgen dada di SMA A. Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (20/8).

Budi menjelaskan, proses skrining TB selama ini membutuhkan waktu lama karena pemeriksaannya cukup sulit. Menurutnya, pemeriksaan terkadang juga membutuhkan tes seperti Polymerase Chain Reaction (PCR).

“Padahal obatnya ada. Kok kenapa obatnya ada, meninggalnya banyak? Karena memang screening-nya sering sangat lama. Karena susah, pakai X-ray. Kadang-kadang mesti pakai tes seperti PCR dulu,” kata Budi.

Untuk mempercepat proses skrining, Kemenkes akan membeli ribuan alat X-ray yang dapat dibawa ke berbagai lokasi.

“Nah, sekarang dengan teknologi baru, X-ray itu bisa dibawa ke mana-mana. Kemenkes akan membeli X-ray yang banyak, ribuan, agar bisa melakukan screening atau X-ray rontgen ke sekolah-sekolah, ke pesantren-pesantren, ke lapas-lapas terutama yang memang tidurnya rapat-rapat, banyak, seperti berasrama seperti ini,” papar Budi.

Dalam kesempatan itu, Budi juga berharap skrining TB di Pondok Pesantren Tebuireng dapat diperluas ke pesantren-pesantren lainnya di Indonesia.

“Jadi saya terima kasih kepada pengurus Pondok Pesantren Tebuireng yang sudah mau memulai. Mudah-mudahan nanti bisa ke 42 ribu pesantren lainnya,” tandas Budi.