Senat Mahasiswa Protes Agenda Visi-Misi Calon Rektor UIN Jember di Lumajang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Senat Mahasiswa Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Senat Mahasiswa Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Foto: Istimewa

Senat Mahasiswa Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember memprotes proses pemilihan calon rektor. Mereka mengaku kecewa dan marah karena menilai proses pemilihan rektor sejak awal berjalan di luar aturan dan tidak transparan.

“Pemilihan rektor yang seharusnya menjadi proses sakral, bermartabat, dan partisipatif, justru direduksi menjadi panggung keangkuhan yang menabrak nalar, etika, dan asas kepatutan,” kata Ketua Senat Mahasiswa UIN KHAS Jember, Muhammad Oky Mabruri, dalam keterangan dan video yang diterima, Jumat (16/10).

Kritik Senat Mahasiswa UIN KHAS memuncak setelah adanya agenda penyampaian visi, misi, dan program calon rektor serta pemberian pertimbangan kualitatif oleh anggota senat. Berdasarkan dokumen yang diperoleh, acara itu akan digelar di salah satu hotel di Tompokersan, Lumajang, pada 19-20 Oktober 2026. Ada delapan calon rektor yang akan menyampaikan visi dan misi dalam agenda tersebut.

“Sejak awal, Senat Mahasiswa UIN KHAS Jember telah mengendus dan mengkritik keras langkah serampangan dalam proses penjaringan rektor ini,” ujar Oky.

Senat Mahasiswa UIN KHAS menilai terdapat kecacatan fundamental sejak pembentukan panitia penjaringan (panjar) yang dianggap asal-asalan dan sarat kepentingan. Selain itu, kata Oky, penyampaian visi dan misi calon rektor digelar di luar kampus.

“Pelanggaran kode etik yang paling nyata dan mencederai asas independensi adalah masuknya unsur satuan pengawasan intern (SPI) ke dalam kepanitiaan. Kami dihadapkan pada keputusan yang sangat tidak masuk akal: pelaksanaan sosialisasi visi dan misi calon rektor yang sengaja dijauhkan dari mahasiswanya dan dieksklusifkan di Lumajang,” ucapnya.

Senat Mahasiswa UIN KHAS mengaku telah mengirimkan nota keberatan secara resmi melalui surat elektronik terkait rencana acara di Lumajang. Namun, menurut mereka, pihak kampus tidak mengindahkan surat tersebut.

“Namun, surat kami hanya dianggap angin lalu. Mereka secara sadar telah membunuh ruang aspirasi mahasiswa dan mengkhianati amanah transparansi,” imbuhnya.

Atas hal tersebut, Senat Mahasiswa UIN KHAS Jember menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Menolak secara mutlak pelaksanaan sosialisasi visi dan misi calon rektor di Lumajang. Keputusan tersebut dinilai janggal dan mencederai prinsip dasar penyelenggaraan perguruan tinggi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 6.

  2. Menolak institusi dikelola oleh pihak yang dinilai tidak beretika. Sebagai bentuk upaya penyelamatan UIN KHAS Jember, Senat Mahasiswa akan segera menyusun dan mengirimkan laporan resmi mengenai dugaan pelanggaran tersebut kepada Menteri Agama Republik Indonesia. Langkah ini disebut sebagai bentuk tanggung jawab moral mahasiswa untuk membantu Menteri Agama meninjau persoalan tersebut secara komprehensif dan mengambil keputusan yang adil bagi masa depan kampus.

  3. Mengambil langkah tegas demi menjaga kondusivitas, integritas, dan nama baik institusi. Senat Mahasiswa tidak ingin kekacauan dan konflik pemilihan rektor yang pernah mencoreng nama UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya terulang di UIN KHAS Jember akibat ulah dan kepentingan politik sejumlah oknum di dalam panitia penjaringan.

  4. Menyampaikan peringatan terakhir kepada panitia penjaringan. Jika panitia tetap melanjutkan kebijakan yang mereka nilai sewenang-wenang tanpa evaluasi menyeluruh, Senat Mahasiswa UIN KHAS Jember bersama seluruh elemen mahasiswa menyatakan siap meningkatkan perlawanan. Mereka menyatakan tidak akan ragu turun ke jalan, mengonsolidasikan aksi massa besar-besaran, dan melumpuhkan arogansi birokrasi demi merebut kembali kedaulatan kampus.