Soroti Konser Andrea Bocelli, Hery Haryanto Azumi Soroti Diplomasi Budaya

Di tengah konflik dan ketegangan geopolitik global, musik memiliki kekuatan untuk mempertemukan manusia melampaui batas bangsa, bahasa, dan budaya.
Hal ini disampaikan Hery Haryanto Azumi, mantan Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus inisiator QUTB GLOBAL, sebuah inisiatif dan wadah dialog lintas peradaban dan budaya, dalam menyambut kedatangan maestro tenor dunia Andrea Bocelli ke Indonesia.
Menurutnya, seni dapat memainkan peran penting dalam membangun dialog, menumbuhkan empati, dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.
Hery memandang musik bukan sekadar bentuk ekspresi artistik atau hiburan, melainkan juga medium diplomasi kebudayaan yang dapat membuka ruang dialog antarbangsa. Melalui pengalaman emosional yang dibagikan bersama, musik memungkinkan manusia menemukan titik temu di tengah perbedaan latar belakang, bahasa, dan pandangan.
Pandangan tersebut tercermin dalam pesan yang disampaikannya melalui QUTB GLOBAL: “Musik menjadi jembatan, kebudayaan menjadi ruang perjumpaan, dan kemanusiaan menjadi tujuan bersama.”
Menurut Hery, upaya membangun saling pengertian tidak selalu harus dimulai melalui forum politik atau diplomasi formal. Seni dan kebudayaan juga dapat menjadi ruang bagi manusia untuk saling mengenal, memahami perspektif yang berbeda, serta menghormati identitas masing-masing tanpa harus menghilangkan keragaman.
Pendekatan ini sejalan dengan perhatian QUTB GLOBAL terhadap dialog lintas peradaban yang berlandaskan nilai-nilai spiritual, intelektual, dan kemanusiaan.
Momentum kedatangan Andrea Bocelli di Indonesia juga menjadi kesempatan untuk melihat potensi Indonesia dalam percakapan kebudayaan global. Dengan kekayaan tradisi, keragaman masyarakat, dan kehidupan spiritual yang menjadi bagian dari identitasnya, Indonesia memiliki modal untuk berkontribusi dalam membangun dialog yang lebih terbuka di antara berbagai bangsa dan budaya.
Kehadiran seniman kelas dunia seperti Andrea Bocelli menjadi pengingat bahwa apresiasi terhadap seni mampu melampaui batas-batas sosial dan budaya.
Keindahan musik dapat dinikmati oleh masyarakat dari latar belakang yang beragam, sekaligus menghadirkan pengalaman emosional yang memungkinkan mereka terhubung tanpa harus mengesampingkan perbedaan.
Bagi Hery, momentum ini tidak hanya relevan sebagai perayaan atas pencapaian dan keindahan seni, tetapi juga sebagai refleksi mengenai pentingnya menjaga ruang perjumpaan antarmanusia di tengah dunia yang terfragmentasi.
Pada akhirnya, seni memiliki makna yang lebih luas ketika mampu menumbuhkan empati, memperluas pemahaman, dan memperkuat ikhtiar bersama untuk membangun peradaban yang lebih manusiawi.
