Upaya Menemukan Rombongan Wartawan yang Hilang Saat Liput Erupsi Anak Krakatau

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 12 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026).  Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO

Tim SAR gabungan melanjutkan pencarian terhadap delapan orang yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Dari delapan orang tersebut, lima di antaranya merupakan wartawan.

Memasuki hari kedua operasi pencarian, Tim SAR Gabungan memperluas area pencarian dengan membagi operasi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU).

“Dalam operasi hari kedua, Tim SAR Gabungan membagi pencarian menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) untuk memperluas cakupan area,” kata Kasubsie Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Rizky Dwianto, melalui keterangannya, Rabu (9/9/2026).

SRU 1 menggunakan KN SAR Tetuka 247 dengan rencana penyisiran sejauh 68,3 nautical mile (NM) dan jarak antarjalur pencarian (spacing) 3 NM. Sementara itu, SRU 2 menggunakan KAL Anyer dengan rencana penyisiran sejauh 69,5 NM dan spacing 3 NM.

Kedua SRU tersebut melakukan penyisiran di area perairan yang telah ditentukan berdasarkan perencanaan operasi SAR.

Adapun SRU 3 menggunakan RIB 01 Lampung dengan rencana penyisiran sejauh 67 NM dan spacing 1 NM. Sementara itu, SRU 4 menggunakan RIB 02 Banten untuk menyisir perairan di sepanjang Pulau Rakata dan Pulau Panjang.

Area di sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang menjadi salah satu lokasi pencarian berdasarkan hasil evaluasi operasi sebelumnya.

Pencarian melibatkan personel Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, USS Pandeglang, Kantor Pencarian dan Pertolongan Lampung, serta unsur TNI-Polri, pemerintah daerah, Balawista, nelayan, masyarakat, dan unsur terkait lainnya.

Sejumlah sarana turut dikerahkan dalam operasi tersebut, di antaranya KN SAR Tetuka 247, KAL Anyer, KP Sanjaya, RIB 02 Banten, RIB 02 Lampung, RIB 03 Lampung, rescue car, truk personel, drone termal, serta berbagai peralatan SAR air, medis, komunikasi, dan peralatan pendukung lainnya.

instagram embed

Delapan orang yang masih dalam pencarian terdiri atas Warta (55), selaku kapten kapal; Surakman (60), ABK; Heriyanto (49), guide; serta lima jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis lepas.

Rombongan bertolak dari Dermaga Marina, Lippo Carita, Desa Sukajadi, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, sekitar pukul 14.00 WIB, Senin (7/9).

Kondisi cuaca di lokasi pencarian dilaporkan cerah berawan. Angin bertiup dari arah selatan ke utara dengan kecepatan sekitar 14 knot, sedangkan tinggi gelombang berkisar 0,4 hingga 1 meter.

"Tim SAR Gabungan akan terus mengoptimalkan seluruh unsur, sarana, dan peralatan yang tersedia untuk menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian," ucapnya.

Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten juga mengimbau masyarakat, nelayan, dan pengguna jasa transportasi laut untuk memberikan informasi apabila menemukan tanda-tanda keberadaan speed boat maupun delapan orang yang masih dalam pencarian.

Basarnas Lampung Ikut Cari

Personel Basarnas bersiap menerbangkan pesawat nirawak saat pencarian kapal cepat yang hilang kontak di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO

Basarnas Lampung ikut mengerahkan dua unit Rigid Inflatable Boat (RIB) untuk mencari delapan orang yang hilang kontak setelah menaiki speed boat di perairan Selat Sunda, Pandeglang, Banten. Lima di antaranya adalah wartawan.

Dua RIB tersebut diberangkatkan pada Rabu (9/9) pukul 07.00 WIB. RIB 02 membawa tujuh personel, sedangkan RIB 03 membawa 10 personel. Keduanya langsung menuju area pencarian yang telah ditentukan dalam operasi SAR hari kedua.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Lampung Deden Ridwansah mengatakan timnya akan berkoordinasi dengan seluruh unsur SAR gabungan selama proses pencarian.

“Kami mengerahkan dua unit RIB beserta personel untuk mendukung operasi SAR di wilayah Selat Sunda. Tim akan melaksanakan pencarian sesuai search area yang telah ditetapkan dan berkoordinasi dengan seluruh unsur SAR gabungan di lapangan. Kami berharap upaya pencarian ini dapat segera menemukan kedelapan korban,” ujar Deden dalam keterabgannya, Rabu (9/9)

Permintaan dukungan dari Basarnas Banten diterima Basarnas Lampung pada Rabu sekitar pukul 00.33 WIB melalui Rencana Operasi SAR (Renops) H.2.

Dalam pencarian ini, tim gabungan dari Lampung turut melibatkan Pos SAR Bakauheni, kru KN SAR Basudewa, Lanal Lampung, Polairud, Mabes Polairud, Ditpolairud Polda Lampung, Kesbangpol Lampung, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perhubungan, BPBD Lampung, hingga ITERA.

Selain dua RIB, operasi juga didukung KRI Lepu dan sejumlah peralatan SAR lainnya. Hingga Rabu (9/9), delapan orang tersebut masih berstatus dalam pencarian.

Warga Turun Tangan

SAR dan Polda Banten lakukan pencarian 5 jurnalis yang diduga hilang kontak saat meliput ke kawasan Gununag Anak Krakatau, Selasa (8/9/2026). Foto: Dok. Polda Banten

Warga Pulau Sebesi, Lampung, juga sempat ikut dalam pencarian rombongan tersebut.

Darul, warga Pulau Sebesi, mengatakan belum ada informasi kelima wartawan itu tiba di wilayah permukiman Pulau Sebesi. Menurutnya, rombongan tersebut kemungkinan belum sempat singgah di pulau tersebut sebelum hilang kontak.

“Sejauh ini di Pulau Sebesi, nggak ada” kata Darul saat dihubungi wartawan, Rabu (9/9).

“Yang saya tau mereka belum sempet ke Sebesi,” lanjutnya.

Pulau Sebesi merupakan pulau berpenghuni terdekat dari Gunung Anak Krakatau, jaraknya sekitar 20 km.

Darul mengatakan warga Pulau Sebesi mengetahui informasi hilangnya rombongan wartawan pada Selasa (8/9). Sejumlah warga kemudian ikut melakukan pencarian di sekitar pulau, tetapi belum menemukan petunjuk keberadaan mereka.

“Iya ada warga juga yang ikut mencari tapi belum mendapatkan petunjuk,” ujarnya.

Dia menyebut kondisi perairan di sekitar Pulau Sebesi dan Anak Krakatau sempat mengalami gelombang yang cukup tinggi saat rombongan wartawan tersebut berangkat.

“Karena pas hari keberangkatan wartawan, itu memang gelombang di Sebesi atau di sekitaran Anak Gunung Krakatau lumayan tinggi,” kata Darul.

Meski sempat terjadi angin kencang akibat perubahan cuaca, kondisi perairan saat ini disebut sudah membaik.

“Sempat, karena mungkin lagi perubahan cuaca,” ujarnya.

“Tapi kalau kita orang pulau sudah biasa,” lanjut Darul.

“Tetap berjalan normal untuk penyeberangan atau nelayan beraktivitas,” sambungnya.

Kepala Desa Sukajadi Sandi Wyasa sebelumnya membenarkan speedboat yang mengangkut rombongan tersebut hilang kontak. Selain lima wartawan, kapal itu membawa seorang tour guide dan dua kru kapal.

Kontak terakhir diketahui dilakukan tour guide bernama Heri Bonsay. Ia sempat mengirim foto kepada istrinya saat berada di sekitar Anak Krakatau pada pukul 18.14 WIB.

Polisi Perluas Pencarian

Peta Kaldera Krakatau. Foto: Omira & Ramalho/ITIC/Unesco

Polda Lampung memperluas area pencarian terhadap rombongan wartawan yang hilang kontak saat berlayar dari Pantai Carita, Pandeglang, Banten, menuju kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK), Selat Sunda.

Pencarian memasuki hari kedua pada Rabu (9/9). Polisi bersama Basarnas Lampung dan unsur SAR lainnya menyisir sejumlah wilayah perairan, mulai dari Pulau Legundi, Pulau Sebesi hingga kawasan Gunung Anak Krakatau.

Dirpolairud Polda Lampung Kombes Pol. Erick Sartani Marbun mengatakan area pencarian diperluas dengan mempertimbangkan sejumlah kondisi di laut.

“Kami terus memperluas area pencarian dengan memperhatikan kondisi cuaca, arus, serta titik terakhir komunikasi. Seluruh personel di lapangan kami minta tetap mengutamakan keselamatan dan melaporkan setiap perkembangan secara berkala,” kata Erick dalam keterangan terlulisnya, Rabu (9/9).

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol. Yuni Isawandari Yuyun mengatakan pencarian terus dilakukan bersama Basarnas dan unsur terkait.

“Polri bersama Basarnas dan unsur terkait terus melakukan upaya pencarian. Personel dan sarana yang ada kami siagakan untuk mendukung operasi SAR ini,” ujar Yuni, Rabu (9/9).

Dalam pencarian hari kedua, Polda Lampung melibatkan personel dari KP.XXV-1001 dan KP.XXV-2009 Pelabuhan Panjang serta KP HAYABUSA 3008 Ditpolairud Baharkam Polri. Basarnas Lampung juga mengerahkan personelnya.

Yuni mengatakan fokus pencarian saat ini adalah menemukan delapan orang yang masih hilang kontak tersebut.

“Koordinasi dan sinergi terus dilakukan. Fokus kami saat ini adalah menemukan dan memberikan pertolongan kepada seluruh korban yang masih dalam pencarian,” katanya.

Polda Banten Siapkan Pos Antemortem

Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki di pos pencarian 5 wartawan yang hilang di Pantai Carita, Banten, Rabu (9/9/2026). Foto: Dok. kumparan

Polda Banten menyiapkan pos antemortem sebagai bagian kesiapsiagaan dalam pencarian rombongan wartawan yang hilang kontak setelah berangkat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK), Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang.

Kapolda Banten Irjen Hengki mengatakan pos tersebut disiapkan oleh Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Banten untuk mendukung proses identifikasi jika nantinya diperlukan.

“Kami telah menyiapkan posko antemortem sebagai bentuk kesiapsiagaan dalam mendukung proses identifikasi apabila diperlukan,” jelasnya pada Rabu (9/9).

Hengki mengatakan pencarian rombongan wartawan masih dilakukan bersama Basarnas, TNI, Polairud, Lanal, BPBD, dan unsur terkait lainnya. Operasi pencarian telah berlangsung sejak Polda Banten menerima informasi pada Selasa (8/9).

“Sejak mendapatkan informasi pada hari Selasa, tim sudah melakukan pencarian. Dari kemarin hingga hari ini dilanjutkan, baik Basarnas, Polda, Polairud, Lanal, TNI, BPBD dan unsur terkait lainnya bersama-sama melakukan pencarian,” kata Hengki.

Menurut Hengki, pencarian saat ini masih difokuskan melalui jalur laut. Pemantauan dari udara akan dipertimbangkan dengan melihat perkembangan situasi, termasuk aktivitas Gunung Anak Krakatau.

“Untuk sampai dengan sekarang belum. Nanti melihat perkembangan hari ini, saya akan minta petunjuk. Kita bisa juga melakukan pemantauan, tetapi situasi erupsi juga harus menjadi pertimbangan,” ujarnya.

Hengki juga menegaskan keselamatan tim SAR menjadi perhatian selama proses pencarian.

“Kita akan bekerja keras untuk menemukan rekan-rekan kita yang sampai sekarang belum ditemukan. Namun, keselamatan seluruh tim terpadu yang melakukan pencarian juga harus menjadi perhatian,” tegasnya.

Dia turut mengingatkan pengguna transportasi laut untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau sesuai imbauan PVMBG.

“Dari Vulkanologi sudah mengimbau semenjak meningkatnya erupsi ini, tidak boleh mendekati dalam radius tiga kilometer. Jadi harus lebih dari tiga kilometer dari Gunung Anak Krakatau,” ingatnya.

Hengki meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi, termasuk kabar soal tsunami yang beredar di media sosial.

“Yang paling penting masyarakat tetap tenang, jangan cepat percaya dengan berita yang belum dapat dipastikan kebenarannya, khususnya terkait isu tsunami maupun informasi lain yang beredar di media sosial,” tutupnya.

Alasan Pencarian Belum Lewat Udara

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki (kiri) bersama Direktur Pemberitaan LKBN ANTARA Virgandhi Prayudantoro (kedua kanan) melihat informasi data korban penumpang kapal yang hilang kontak di Dermaga Marina Lippo Carita, Pandeglang, Banten, Rabu (9/9/2026). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO

Proses pencarian lima wartawan, satu tour guide dan dua ABK KM Arupadhatu 1 yang hilang kontak sejak Senin (7/9), saat hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, masih dilakukan di jalur laut. Sementara pencarian melalui jalur udara urung dilakukan lantaran masih keluarnya abu vulkanik.

Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki mengatakan, pihaknya masih akan melihat perkembangan kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau untuk mempertimbangkan proses pencarian melalui jalur udara.

"Sampai dengan sekarang belum (dilakukan jalur udara). Nanti kalau perkembangan sampai dengan hari ini saya akan minta petunjuk," kata Hengki di posko pencarian korban hilang di Dermaga Marina, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Rabu (9/9).

Selain itu, diakui Hengki, Gunung Anak Krakatau yang masih erupsi menjadi salah satu pertimbangan karena masih terbatasnya areal tersebut untuk penerbangan.

Sementara itu, lanjut Hengki, operasi pencarian saat ini masih difokuskan melalui jalur laut dengan membagi area pencarian menjadi lima sektor.

"Untuk penerbangan kan masih (terbatas), penerbangan pun beberapa yang berjalan, apalagi di sekitar sini yang memang pusat terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau," ujar Hengki.

Di samping itu, Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengaku, saat ini pihaknya telah mengerahkan 5 tim menggunakan KN SAR Tetuka, KAL Anyer, RIB 01 Kantor SAR Lampung, RIB 02 Banten dan KP Sanjaya milik Polairud Mabes Polri.

Tak hanya itu, kata Al Amrad, area pencarian pun telah diperluas sekitar 236 nautical mile atau sekitar 505 kilometer di hari kedua ini.

"Pencarian juga diperluas ke sejumlah pulau kecil, termasuk Pulau Krakatau Besar dan Pulau Panjang untuk mengantisipasi kemungkinan kapal melakukan sandar darurat," kata Al Amrad.

Basarnas Ungkap Kronologi

Berikut kronologi hilangnya rombongan tersebut berdasarkan penuturan Deputi Pencarian, Pertolongan dan Kesiapsiagaan Basarnas Mayjen TNI (MAR) Edy Prakoso:

7 September 2026

Pukul 14.00 WIB

Rombongan wartawan bertolak dari dermaga Pagedokan Carita untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Pukul 14.42 WIB

Korban melakukan kontak terakhir dengan wartawan bernama Abai. Diketahui rombongan berjumlah delapan orang yang terdiri dari lima wartawan, dua kru kapal, dan satu guide.

8 September 2026

Pukul 13.55 WIB

Jurnalis Antara Banten yang bernama Bayu melaporkan bahwa rekan-rekannya yang meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak bisa dihubungi sejak Senin (7/9).

Edy mengatakan sejak mendapat laporan tersebut upaya pencarian langsung dilakukan.

"Upaya yang dilakukan oleh Basarnas pada tanggal 8 September hari Selasa 2026, Kantor SAR Banten yaitu mengerahkan KN SAR Tetuka dan 1 unit RIB 02 menuju lokasi lost contact pada radius 3,2 km dari Gunung Anak Krakatau dengan hasil nihil," tutur Edy.

9 September 2026

Pencarian kembali dilakukan dengan melibatkan unsur SAR dari TNI AL dan Polair. Sebanyak 10 kapal dikerahkan untuk mencari korban.

Hasil pencarian masih nihil. Meski begitu pencarian masih terus dilakukan.

"Basarnas beserta unsur di lapangan akan mengoptimalkan seluruh kekuatan yang ada," ujar Edy.

Tangis Keluarga

Keluarga dari tour guide 5 wartawan yang hilang, Heriyanto, Eva, di posko pencarian di Dermaga Marina, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Rabu (9/9/2026). Foto: Dok. kumparan

Keluarga korban hilang KM Arupadhatu 1 tak kuasa menahan tangis usai belum ada kabar penemuan para korban di hari kedua operasi pencarian. Di kapal itu, ada tiga awak bersama lima orang wartawan yang hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.

Keluarga tak kuasa tahan tangis saat menunggu di posko pencarian di Dermaga Marina, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Rabu (9/9).

Kapal tersebut berangkat dari Dermaga Pagedongan, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.

Rencananya para rombongan akan melakukan perjalanan PP (pulang pergi) di hari yang sama. Namun, hingga keesokan harinya, para rombongan tak kunjung pulang ke Pantai Carita dan hilang kabar.

Istri dari tour guide Heriyanto, Evie, mengaku mulai khawatir ketika suaminya tak kunjung pulang hingga malam. Padahal menurutnya, para rombongan dijadwalkan pulang di pukul 20.00 WIB.

"Senin malam sudah khawatir, karena kan enggak nginap bilangnya. Biasanya, jam 8 atau jam 9 malam itu udah sampai (Carita), ini sampai pagi enggak ada pulang," kata Evie sambil sesekali menyeka air mata saat ditemui di posko pencarian di Dermaga Marina, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Rabu (9/9).

Evie mengaku, kekhawatirannya semakin besar setelah tidak ada informasi keberadaan kapal yang ditumpangi suaminya dan rombongan 5 jurnalis di areal Gunung Anak Krakatau dari para nelayan dan tour guide lain.

Bahkan, kata Evie, dirinya sempat melakukan pencarian di sekitar pesisir Pantai Carita bersama anaknya untuk mencari keberadaan suaminya dengan harapan melihat KM Arupadhatu bersandar.

"Hari Selasa siang itu kebetulan ada kapal yang baru pulang juga (dari Gunung Anak Krakatau), pas ditanyain katanya nggak lihat ada kapal di sana. Ke nelayan juga bilang sama, nggak lihat ada kapal," ungkap Evie.

"Saya sampai ngajak anak buat nyari ke pesisir. Kata anak saya, kok ayah belum pulang, ayo kita cari Bu," ujar Evie sambil menirukan percakapannya dengan sang anak.

Sempat Kirim Foto

Rombongan Jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda saat hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Foto: Dok. Istimewa

Diakui Evie, suaminya sempat mengirimkan sebuah foto Gunung Anak Krakatau melalui pesan WhatsApp pada Senin (7/9) sekitar pukul 18.13. Namun saat dirinya membalas pesan tersebut sambil menanyakan kabar kepulangan suaminya justru sudah tak terkirim.

"Dia kirim foto itu di jam 18.13 WIB. Terus jam 19.35 WIB itu saya tanya lagi pulang jam berapa, enggak dibalas karena ceklis satu," ungkapnya.

Ia berharap, ada keajaiban dalam operasi pencarian sehingga tim SAR gabungan bisa segera menemukan keberadaan suaminya dan para korban lain dengan selamat.

"Mudah-mudahan bisa segera ada titik temu, ada kabar, ketemu dengan selamat semuanya," tandas Evie.