Konten dari Pengguna

Kepala Sekolah Juga Manusia: Saat Kesejahteraan Menjadi Fondasi Kepemimpinan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alexius Tinambunan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita sering meminta kepala sekolah menjadi banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Ia harus menjadi pemimpin yang visioner, manajer yang tangguh, pengambil keputusan yang cepat, penggerak inovasi, pendengar yang baik, sekaligus orang yang selalu siap ketika sekolah menghadapi masalah.

Ilustrasi seorang pemimpin sedang berusaha menyelesaikan tugas-tugasnya. Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang pemimpin sedang berusaha menyelesaikan tugas-tugasnya. Sumber: Pixabay

Tetapi, pernahkah kita bertanya: siapa yang memastikan kepala sekolah baik-baik saja?

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya penting. Sebab, kita terlalu sering menilai kualitas seorang pemimpin dari seberapa banyak pekerjaan yang mampu ia selesaikan, bukan dari bagaimana ia menjalani proses memimpin itu sendiri.

Padahal, kepala sekolah juga manusia. Ia bisa lelah, kecewa, ragu, membutuhkan dukungan, bahkan sesekali merasa tidak tahu harus mengambil keputusan yang mana.

Karena itu, saya percaya bahwa pembicaraan tentang kepemimpinan sekolah perlu bergeser. Kita tidak cukup hanya berbicara tentang kompetensi kepemimpinan. Kita juga perlu berbicara tentang kesejahteraan pemimpin.

Menurut saya, setidaknya ada empat dimensi kesejahteraan yang penting dalam kepemimpinan sekolah: kesejahteraan mental, kesejahteraan dalam memimpin secara merdeka, kesejahteraan sosial, dan kesejahteraan finansial.

Pertama, kesejahteraan mental.

Kepala sekolah berhadapan dengan persoalan yang datang dari berbagai arah. Guru memiliki kebutuhan dan harapan. Peserta didik membawa persoalannya sendiri. Orang tua memiliki ekspektasi. Lembaga memiliki target. Regulasi terus berubah. Di tengah semua itu, kepala sekolah dituntut tetap tenang dan mampu mengambil keputusan.

Namun, ketenangan tidak bisa selalu dipaksakan.

Pemimpin yang sehat secara mental bukan berarti pemimpin yang tidak pernah mengalami tekanan. Ia adalah pemimpin yang memiliki ruang untuk mengelola tekanan, berbicara ketika membutuhkan bantuan, melakukan refleksi, dan menjaga keseimbangan dirinya.

Kedua, kesejahteraan untuk memimpin secara merdeka.

Merdeka dalam memimpin bukan berarti bebas tanpa batas. Merdeka berarti memiliki kepercayaan untuk berpikir, mengambil keputusan, mencoba sesuatu yang baru, dan bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut.

Sekolah tidak akan berkembang jika pemimpinnya selalu takut salah.

Inovasi membutuhkan keberanian. Dan keberanian hanya tumbuh ketika seorang pemimpin merasa dipercaya. Jika setiap gagasan baru selalu dicurigai dan setiap kesalahan dianggap sebagai kegagalan, lama-kelamaan pemimpin akan memilih jalan paling aman: tidak melakukan apa-apa.

Padahal, pendidikan justru membutuhkan pemimpin yang berani berkata, “Mari kita coba.”

Ketiga, kesejahteraan sosial.

Kepala sekolah bukan seorang pemain tunggal. Ia membutuhkan guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, yayasan, dan komunitas yang mau berjalan bersama.

Pemimpin yang memiliki relasi sosial yang sehat akan lebih mudah menerima kritik. Ia tidak merasa bahwa kritik adalah serangan terhadap dirinya. Ia mampu membangun percakapan, bukan sekadar memberikan instruksi.

Pada titik ini, kepemimpinan bukan lagi soal “saya memimpin mereka”, tetapi berubah menjadi “kita membangun sekolah bersama”.

Keempat, kesejahteraan finansial.

Hal ini kadang terasa kurang nyaman untuk dibicarakan dalam dunia pendidikan. Namun, kita perlu jujur bahwa kesejahteraan finansial juga memiliki hubungan dengan kualitas hidup dan kualitas kerja seseorang.

Penghargaan finansial yang layak bukan bentuk kemewahan. Ia adalah bagian dari penghargaan terhadap tanggung jawab, waktu, energi, dan beban kepemimpinan yang dijalankan seseorang.

Ilustrasi seorang pemimpin yang tetap melindung di tengah keterbatasan. Sumber: Pixabay

Ketika empat aspek kesejahteraan tersebut diperhatikan, saya percaya akan muncul sesuatu yang sangat penting dalam diri seorang pemimpin: rasa percaya diri.

Bukan percaya diri karena merasa paling pintar atau paling berkuasa. Melainkan percaya diri karena merasa cukup aman untuk belajar.

Pemimpin seperti inilah yang berani mengatakan, “Saya belum tahu.”

Ia mau belajar dari guru. Mau mendengarkan peserta didik. Mau menerima kritik dari orang tua. Mau belajar teknologi baru. Mau mencoba pendekatan baru. Bahkan, ia tidak malu mengakui bahwa ada keputusan yang perlu diperbaiki.

Di sinilah hubungan antara kesejahteraan dan inovasi menjadi sangat jelas.

Pemimpin yang sejahtera cenderung memiliki ruang untuk berpikir. Pemimpin yang memiliki ruang untuk berpikir akan lebih mudah belajar. Dan pemimpin yang terus belajar akan lebih siap berinovasi.

Pada akhirnya, mungkin kita perlu berhenti melihat kepala sekolah hanya sebagai orang yang berada di posisi paling atas dalam struktur organisasi.

Kepala sekolah adalah manusia yang kebetulan diberi kepercayaan untuk memimpin manusia lainnya.

Maka, jika kita ingin sekolah memiliki guru-guru yang sejahtera, peserta didik yang bahagia, dan budaya belajar yang sehat, mungkin kita harus mulai dari orang yang memimpin sekolah itu sendiri.

Pertanyaannya bukan lagi sekadar, “Seberapa hebat kepala sekolah kita?”

Tetapi:

“Apakah kita sudah menciptakan kondisi yang membuat kepala sekolah mampu memimpin dengan sehat, merdeka, percaya diri, dan terus mau belajar?”

Sebab, sekolah yang baik tidak hanya dibangun oleh pemimpin yang kuat.

Sekolah yang baik dibangun oleh pemimpin yang juga diberi kesempatan untuk menjadi manusia.