Konten dari Pengguna

Ketika Laba Mengalahkan Nurani

Tio Pani Malau
Saya adalah mahasiswa semester 6 prodi manajemen fakultas ekonomi dan bisnis universitas katolik santo thomas medan
3 Agustus 2025 9:17 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ketika Laba Mengalahkan Nurani
Di tengah derasnya arus globalisasi dan kapitalisme, dunia bisnis seakan berlomba untuk mencapai satu hal yang sama: laba sebesar-besarnya dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Tio Pani Malau
Tulisan dari Tio Pani Malau tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Di era modern yang serba kompetitif, tujuan utama banyak pelaku bisnis adalah memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Laba menjadi tolok ukur utama kesuksesan, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding tanggung jawab sosial atau nurani kemanusiaan. Dalam situasi ini, muncul pertanyaan yang menggugah. Apakah etika masih memiliki tempat dalam dunia bisnis yang dikuasai oleh angka dan ambisi?
Ilustrasi ketika laba  mengalahkan hati nurani sumber foto : canva
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ketika laba mengalahkan hati nurani sumber foto : canva
Kenyataannya, terlalu banyak perusahaan yang menempatkan keuntungan di atas segalanya. Skandal korupsi, manipulasi laporan keuangan, eksploitasi tenaga kerja, pencemaran lingkungan, hingga pemasaran yang menyesatkan konsumen, semua ini adalah bukti nyata ketika nurani dikorbankan demi profit. Etika bisnis seakan hanya menjadi formalitas yang tertulis dalam dokumen visi-misi, tapi tidak dijalankan dalam praktik sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Padahal, bisnis yang beretika justru lebih berkelanjutan. Kepercayaan konsumen tumbuh dari kejujuran dan integritas. Karyawan bekerja lebih loyal jika diperlakukan secara manusiawi. Lingkungan tetap lestari ketika perusahaan tidak hanya fokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada dampak. Namun, hal-hal ini sering kali dianggap sekunder dibanding pencapaian target jangka pendek.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Salah satunya adalah karena sistem kapitalisme mendorong kompetisi ekstrem. Perusahaan dituntut untuk terus tumbuh, memperbesar pangsa pasar, dan memenangkan persaingan. Dalam tekanan itu, sebagian pengusaha memilih “jalan pintas”, mengabaikan nilai-nilai moral demi efisiensi dan efikasi. Ironisnya, konsumen pun kadang tidak terlalu peduli dengan etika perusahaan, selama harga murah dan produk sesuai harapan. Contoh kasus nyatanya adalah Freeport sebagai salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia sering dikritik karena dampak lingkungannya di Papua, khususnya pencemaran sungai dan degradasi lingkungan. Meski memberikan kontribusi ekonomi, isu etika muncul karena warga lokal tidak sepenuhnya merasakan manfaat, bahkan mengalami kerugian ekologis dan sosial. Ketika bisnis skala besar lupa akan keadilan sosial dan tanggung jawab lingkungan. Serta ada beberapa perusahaan kosmetik dan makanan sering menampilkan iklan berlebihan yang tidak sesuai fakta produk. Misalnya, iklan pemutih kulit yang menjual ilusi "cantik = putih", padahal secara medis tidak seaman yang diklaim. Ini bukan hanya soal jualan, tapi membentuk standar sosial yang merugikan banyak orang. Eksploitasi psikologis demi angka penjualan menunjukkan rendahnya tanggung jawab sosial perusahaan.
ADVERTISEMENT
Namun, tidak semua harapan hilang. Di tengah ketimpangan, muncul gelombang bisnis baru yang berlandaskan nilai. Konsep seperti sustainable business, corporate social responsibility (CSR), dan social enterprise mulai berkembang. Konsumen generasi muda pun semakin sadar pentingnya transparansi dan tanggung jawab sosial. Ini adalah peluang besar untuk membalik keadaan, menjadikan etika sebagai kekuatan, bukan beban.
Dalam dunia yang semakin kompleks, bisnis tidak bisa hanya dilihat dari sisi laba. Ia harus dilihat sebagai bagian dari masyarakat dan ekosistem. Keputusan bisnis memengaruhi kehidupan banyak orang dari petani, buruh, konsumen, hingga generasi yang akan datang. Oleh karena itu, sudah saatnya kita menegaskan kembali bahwa etika bukan sekadar tambahan, tetapi fondasi yang wajib ada dalam setiap tindakan bisnis.
ADVERTISEMENT
Menempatkan nurani di atas laba bukan berarti menolak keuntungan, tetapi justru menyeimbangkan keduanya demi kebaikan bersama. Di era sekarang ini, sukses sejati adalah ketika perusahaan tidak hanya bertumbuh secara finansial, tetapi juga secara moral.
Namun membangun bisnis yang etis tentu bukan perkara mudah. Diperlukan keberanian moral dari para pemimpin perusahaan untuk menolak praktik-praktik yang merugikan meski secara finansial menggiurkan. Etika tidak bisa hanya menjadi urusan divisi hukum atau CSR, tapi harus menjadi napas dari setiap keputusan strategis. Para pemimpin harus menjadi teladan, karena budaya etika dimulai dari atas.
Pendidikan juga berperan penting. Generasi muda yang kini menempuh pendidikan bisnis atau manajemen harus dibekali bukan hanya dengan keterampilan teknis, tetapi juga dengan kesadaran moral. Dunia kerja harus dipandang sebagai ladang kontribusi, bukan semata ladang kompetisi. Kampus, media, dan lembaga keagamaan pun memiliki tanggung jawab kolektif dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam dunia usaha.
ADVERTISEMENT
Selain itu, regulasi dan penegakan hukum juga perlu diperkuat. Negara tidak bisa hanya menjadi penonton ketika pelaku usaha menyimpang dari nilai etika. Hukum harus menjadi pagar yang menjaga agar bisnis tidak kehilangan arah. Namun tentu saja, hukum saja tidak cukup tanpa kesadaran moral dari dalam diri pelaku usaha itu sendiri.
Etika bisnis bukanlah penghalang bagi pertumbuhan, melainkan pengarah agar pertumbuhan itu tidak merusak. Keuntungan yang dicapai tanpa mengorbankan orang lain, tanpa merusak lingkungan, dan tanpa menipu konsumen—itulah yang disebut laba yang bermartabat. Dunia usaha ke depan harus bergerak ke arah ini, bukan hanya karena tuntutan moral, tetapi karena publik pun mulai lebih peduli dan menuntut transparansi serta tanggung jawab.
Kini saatnya kita sebagai konsumen, pelaku usaha, bahkan mahasiswa yang kelak akan menjadi pemimpin, menyadari bahwa bisnis bukan sekadar transaksi, melainkan relasi. Ada manusia, ada nilai, dan ada masa depan yang dipertaruhkan di dalamnya.
ADVERTISEMENT
Jika dunia bisnis ingin tetap relevan, maka etika harus kembali ke posisi utama, bukan sebagai hiasan di dinding kantor, tetapi sebagai roh yang menggerakkan seluruh aktivitas usaha.