kumparan
18 April 2017 12:52

Orchard Road dan Mal-mal Singapura yang Terancam Bangkrut

Mal Singapura
Orchard Road (Foto: Wikimedia Commons)
Ke manakah orang Indonesia ketika mereka melancong ke Singapura?
ADVERTISEMENT
Selain menonton Coldplay, bisa dipastikan salah satu destinasi kunjungannya adalah berbelanja di Orchard Road. Bagi mereka, mungkin, barang-barang yang dibeli di negara tetangga jelas punya kualitas yang lebih unggul (dan harga yang lebih murah) ketimbang membelinya di negara sendiri.
Meski begitu, destinasi belanja Singapura ternyata tengah berada di situasi yang tidak menyenangkan. Sementara biaya operasional tetap tinggi, angka penjualan retail di tempat-tempat tersebut terus menurun.
Beberapa media Singapura menyebut pemandangan kios yang tutup di mal-mal Singapura merupakan hal biasa. Pada beberapa pusat perbelanjaan besar, seperti Claymore Connect, Mandarin Gallery, Shaw Centre, Pacific Plaza, hingga Suntec City terus terlihat kios-kios yang kosong dan jumlah pengunjung yang sedikit.
Mal Singapura
The Shoppes, Marina Bay Sands (Foto: Wikimedia Commons)
Data Penurunan Penjualan
ADVERTISEMENT
“Pengunjung di toko ini tak lebih dari 10 per harinya. Bahkan di hari-hari tertentu, kami benar-benar tidak menjual barang apapun. Kami cuma duduk dan harus membayar sewa,” ucap penyewa lapak di Orchard Gateway bernama Ho.
“Kami hanya menunggu selesainya kontrak, dan kami akan pindah dari sini,” ujarnya lagi dikutip dari Strait Times.
Yang Ho alami tersebut bukan menjadi barang langka di kalangan para penjual di mal-mal tengah kota Singapura.
“Kami terbiasa dengan satu atau dua pelanggan per hari. Dan itu sudah sangat bagus buat kami,” ucap Michael Chen, pemilik lapak lain di Orchard Central. “Rasanya kami ingin tutup saja.”
Kasus menurunnya angka jual di pusat-pusat perbelanjaan Singapura terjadi secara menyeluruh, meskipun dampaknya lebih terasa pada mal-mal yang berada di pusat kota dan yang berada di daerah-daerah wisata.
ADVERTISEMENT
Menurut data yang dipublikasikan oleh Inside Retail Asia, angka penjualan retail-retail Singapura sudah menurun dari tahun 2014. Pada laporan tahun 2015, angka penjualan retail di kuartal kedua menurun sekitar 1 persen. Sementara itu, pada tahun 2016 angka tersebut turun lebih jauh lagi sebesar 6,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Mal Singapura
Suntec City Mall (Foto: Wikimedia Commons)
Kehadiran Mal-mal di Pinggir Kota
Fenomena retail-retail pusat kota yang kosong tanpa pengunjung ini disebabkan oleh beberapa hal. Yang pertama adalah kehadiran mal-mal lain yang berada di daerah lebih pinggiran. Produk-produk seperti Uniqlo, H&M, Onitsuka Tiger, British India, dan Juicy Couture yang juga masuk ke retail-retail di daerah pinggiran ini membuat masyarakat Singapura sendiri malas untuk jauh-jauh ke pusat kota.
ADVERTISEMENT
Kebijakan jemput pelanggan ini diikuti produk-produk kelas atas seperti Chanel dan Rolex, yang turut membuka lapak di Parkway Parade, sebuah pusat perbelanjaan yang kalah populer dibanding Orchard Road.
Mal-mal yang relatif lebih kecil di pinggiran kota ini lebih mudah dijangkau ketimbang orang-orang harus beranjak ke Orchard Road. Hal-hal teknis lain, seperti tempat parkir yang mahal dan tidak mudah ditemukan, membuat orang-orang memilih menggunakan transportasi umum ke pusat perbelanjaan yang lebih dekat.
“Ini karena kita bisa jalan kaki ke mal-mal di pinggir kota. Kenapa orang-orang lokal harus ke Orchard Road hanya untuk membeli beberapa barang?” ucap Mich Chan, seorang warga Singapura menyoal retail-retail besar yang kosong.
Diprediksi, retail-retail di daerah pinggiran kota ini akan terus mengganggu kemapanan mal besar seperti yang ada di Orchard Road. Dalam lima tahun ke depan, sudah ada rencana pembangunan mal-mal seluas 180 ribu meter persegi di daerah pinggiran kota Singapura.
ADVERTISEMENT
Mal Singapura
Ion Orchard Road (Foto: Wikimedia Commons)
Peningkatan Aktivitas Belanja Online
Selain hadirnya mal-mal yang lebih kecil di daerah pinggiran, kegiatan bisnis Orchard Road dan pusat perbelanjaan besar lain terganggu dengan meningkatnya minat belanja online masyarakat Singapura.
"Kami sangat berusaha menghindari Orchard Road, kecuali ada agenda spesifik yang kami perlukan di sana. Mengunjungi Orchard Road hanya membuat kami stres. Apalagi dengan anak-anak, kami sangat menghindarinya," ucap Sophia Chan, saat ia mengunjungi Orchard Road bersama suaminya. Ia mengaku itu kali kunjungan pertamanya ke Orchard Road sejak tiga bulan terakhir.
"Kami lebih memilih untuk berjalan-jalan ke tempat lain bersama keluarga. Untuk barang-barang yang kami perlukan, kami lebih memilih membelinya secara online," akunya. Dan kecenderungan yang dipaparkan oleh Chan ini juga dilakukan oleh kebanyakan masyarakat Singapura lainnya.
ADVERTISEMENT
Belanja online
Ilustrasi: Seorang pengguna melakukan belanja online dengan metode bayar kartu kredit. (Foto: Negative Space (CC0 Public Domain))
Menurut data yang dikeluarkan oleh PayPal, 73 persen orang dewasa pengguna internet melakukan transaksi belanja online di tahun 2016. Jumlah nilai transaksi online oleh masyarakat Singapura tahun 2016 pun sangat tinggi, yaitu mencapai 3 miliar dolar Singapura, atau senilai 28 triliun rupiah.
Angka-angka tersebut pun diprediksi terus akan meningkat di tahun-tahun berikutnya. PayPal sendiri memprediksi jumlah transaksi masyarakat Singapura untuk belanja online akan meningkat 15 persen di tahun 2017. Jelas, kabar buruk bagi Orchard Road dan mal-mal besar lainnya.
Bagaimana di Indonesia?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan