Paylater dan Pinjol: Jebakan Utang Digital yang Menggilas Gen-Z

Mahasiswa Manajemen Institut Teknologi Dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Tio Febriawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hanya bermodalkan KTP dan jepretan swafoto, dana segar dari layanan Paylater dan Pinjol kini bisa langsung cair dalam hitungan menit. Baju impian di keranjang belanja digital hingga tiket konser idola pun bisa langsung dibawa pulang hari ini, bayarnya belakangan. Bagi generasi muda yang hidup di tengah tekanan sosial dan fenomena FOMO (Fear of Missing Out), kemudahan teknologi keuangan ini sekilas hadir bagai juru selamat.
Namun, di balik kepraktisan layar sentuh smartphone, kemudahan instan ini sebetulnya menjadi pisau bermata dua. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara konsisten menunjukkan bahwa angka kredit macet pada platform Paylater dan Pinjol justru didominasi oleh usia produktif, termasuk kelompok mahasiswa dan Gen-Z. Fenomena "gali lubang tutup lubang" demi melunasi tagihan bukan lagi cerita asing, melainkan telah bertransformasi menjadi teror psikologis nyata.
Pergeseran Etika dalam Fitur Paylater dan Pinjol
Jika dibedah melalui kacamata etika dan fikih muamalah, fenomena menjamurnya utang digital yang destruktif ini mencerminkan adanya pergeseran nilai yang sangat mendasar.
Dalam konsep muamalah, akad utang-piutang (Qardh) pada hakikatnya dikategorikan sebagai akad sosial (Tabarru’) yang berlandaskan prinsip ta’awun atau tolong-menolong. Artinya, ketika seseorang atau sebuah lembaga memberikan pinjaman, niat dasarnya adalah untuk meringankan beban sesama, bukan dijadikan sarana komersial untuk mengeruk keuntungan sepihak.
Sayangnya, realitas praktik Paylater dan Pinjol kontemporer—terutama yang menerapkan skema bunga tinggi serta denda akumulatif yang tidak rasional—telah mengubah akad tolong-menolong yang mulia tersebut menjadi akad komersial (Tijari) yang sangat agresif. Keuntungan perusahaan dikeruk di atas ketidakberdayaan peminjam. Unsur kezaliman dan ketidakjelasan klausul hitungan denda sering kali terselubung di balik lembaran syarat dan ketentuan panjang yang jarang dibaca saksama.
Terjebak 'Gengsi' dan Gaya Hidup Konsumtif
Di sisi lain, kritik ini tidak boleh hanya diarahkan kepada penyedia aplikasi layanan keuangan, melainkan juga harus menjadi otokritik yang jujur bagi diri kita sebagai konsumen.
Faktanya, tidak sedikit anak muda yang mengaktifkan fitur pinjaman digital bukan karena urusan darurat yang mendesak (dharuriyyat), melainkan demi menuruti keinginan gaya hidup (tahsiniyyat). Mulai dari membeli gadget model terbaru, pakaian bermerek, hingga sekadar menjaga gengsi demi validasi sosial di media sosial.
Menggunakan pinjaman digital untuk memenuhi gaya hidup yang melampaui batas kemampuan finansial merupakan bentuk kelalaian yang fatal. Di dalam ajaran Islam, perkara utang adalah urusan besar yang membawa konsekuensi moral dan tanggung jawab yang berat. Ketika kita dengan sengaja menumpuk utang demi sebuah gengsi, kita sebetulnya sedang menjerumuskan diri ke dalam jurang bahaya (mudarat).
Mengembalikan Literasi Keuangan yang Beretika
Melalui fenomena ini, sudah saatnya kita menggaungkan kembali pentingnya literasi keuangan yang membumi dan beretika. Prinsip muamalah tidak boleh hanya mandek sebagai hafalan teori di ruang kelas perkuliahan, melainkan harus hadir sebagai kompas etika praktis dalam menggenggam perangkat digital sehari-hari.
Redefinisi etika dalam utang digital ini sudah sangat mendesak:
Dari Sisi Penyedia Layanan: Kemudahan fintech wajib diimbangi dengan transparansi yang adil, edukasi risiko, dan sistem yang tidak menjebak nasabah.
Dari Sisi Konsumen (Gen-Z): Kemampuan menahan diri (self-control) serta ketegasan dalam menyusun skala prioritas hidup adalah benteng pertahanan yang paling utama.
Sebelum mengklik tombol "Ajukan Pinjaman" atau menggunakan fitur bayar nanti, tanyakan kembali pada diri sendiri: Apakah langkah ini merupakan jalan keluar yang benar-benar kita butuhkan, atau justru awal dari jebakan finansial yang akan merusak masa depan kita?
