Stop Balas Singkat Chat, Cari Topik Itu Susah Keleus!

Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Bina Nusantara
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nethania Catrice Tiovilda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan seperti berbincang santai atau berbalas chat dapat dikatakan telah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh hampir semua orang di era saat ini. Apalagi ketika pandemi melanda dunia ini, segala kegiatan kita akhirnya harus berlangsung secara online. Mungkin kalian pernah chatting dengan orang yang kalian sukai hingga 4–8 jam lamanya.
Chatting bisa jadi memang menyenangkan. Apalagi kalau kalian sepemahaman dengan lawan chatting kita, pasti ingin chat terus-terusan. Tidak heran jika itu terjadi, karena memang hal itu diperlukan supaya bisa memulai, memelihara, atau bahkan mempertahankan suatu hubungan agar tidak menjauh atau yang kerap disebut dengan lost contact.
Namun, pernahkah kalian merasa jengkel atau kesal karena chat kalian hanya dibalas singkat? Sudah pusing nyari ide untuk memulai chat, sudah panjang-panjang nulis, eh, dibalesnya singkat banget.
Jawaban seperti "iya" dan "engga" atau bahkan hanya "y" dan "g" terkadang bisa menjadi sangat menyebalkan. Apalagi ketika kita sedang berusaha memulai sebuah cerita untuk memperpanjang percakapan dengan lawan chatting kita.
Di saat kita lagi aktif memberikan pertanyaan tentang sesuatu, malah dijawab "wkwk" doang. Hal itu terus berlanjut hingga akhirnya sampai pada titik di mana kita tidak tahu harus mengetikkan apa. Alhasil, ketikan "bye" pun dikeluarkan.
Ya, itu tandanya kita telah kehabisan topik. Kita memang mau chat lagi, tetapi itu pun harus pikir-pikir lagi.
"Aku harus gimana ya?"
"Mau bahas apa ya?"
Setidaknya dua pertanyaan itulah yang akan muncul di benak kita saat ingin memulai chat lagi. Momen seperti itu sering membuat orang-orang akhirnya menjadi canggung dan bingung dalam mencari solusinya.
Salah satu alasan mengapa kita bisa kesulitan cari topik adalah karena kurang tahu topik apa yang disukai oleh lawan bicara kita. Oleh karena itu, jika kita memang ingin melakukan percakapan panjang dengan seseorang, maka lakukanlah observasi atau analisa singkat mengenai apa yang menjadi kesukaan, kebutuhan, atau kepentingan dari lawan bicara kalian.
Akan tetapi, dalam beberapa situasi, hal tersebut bisa saja tidak ampuh. Malah bisa menambah kecanggungan. Jika demikian, maka cobalah untuk bertanya langsung kepada lawan bicara kita. Tanyakan apa yang dia rasakan saat ini, entah itu marah, senang, sedih, atau kesal.
Kita bisa mulai mengembangkan topik dari jawaban mereka tadi dan terus membicarakannya untuk sementara waktu sembari memikirkan topik lain. Nah, di sinilah letak alasan lain mengapa cari topik itu semakin susah.
Ketika ditanya seperti itu, orang cenderung hanya menjawab 'engga", "biasa aja", atau bahkan "gpp". Memang singkat, padat, dan tidak jelas, karena jawaban seperti itu tidaklah menjawab. Ketika sudah seperti itu, kita justru menjadi semakin bingung harus memulai topik apa karena takut memilih topik yang tidak tepat dan malah merusak suasana hati lawan bicara kita.
Pada akhirnya, untuk memecah kecanggungan, kita biasanya akan mulai melontarkan beberapa pertanyaan random dan absurd sebagai pengalihan pembicaraan. Tindakan seperti ini bisa saja berhasil. Tetapi bisa juga gagal dan membuat lawan bicara kalian semakin kesal.
Berhenti sejenak, nanti baru dicoba lagi. Kondisi seperti ini lah yang cenderung membuat orang-orang takut kehabisan topik pembicaraan. Namun, pada dasarnya kita tidak semudah itu kehabisan topik bahkan jika dengan orang asing sekalipun.
Dikutip dari Kompas.com, hal yang serupa pernah dijelaskan dalam sebuah studi yang dimuat dalam Journal of Personality dan Social Psychology. Studi tersebut menemukan bahwa orang-orang terkadang terlalu cepat menghentikan suatu percakapan karena menganggap percakapannya dianggap membosankan oleh lawan bicara mereka.
Selain itu, orang juga sering merasa ragu untuk menyisihkan lebih waktunya untuk memperpanjang percakapan. Sebab, mereka dihantui rasa takut akan kehabisan hal untuk dibicarakan nantinya.
Untuk membuktikan hal tersebut, para peneliti di Kellog School of Management di Northwestern University pun melakukan sebuah percobaan dengan memasangkan dua orang asing untuk melakukan percakapan satu sama lain. Setelah selang beberapa menit, peneliti menghentikan percakapan mereka dan menanyakan bagaimana perasaan mereka saat bercakapan satu sama lain.
Menariknya, kedua orang tersebut cenderung menunjukkan bahwa mereka menikmati percakapan yang mereka lakukan. Peneliti pun meminta mereka melanjutkan percakapannya lagi.
Setelah sekian menit kemudian, peneliti kembali menghentikan percakapan mereka dan menemukan bahwa kedua orang tersebut justru menemukan lebih banyak topik untuk dibicarakan saat percakapan berlanjut terus dan mereka cenderung menikmatinya satu sama lain.
Selain itu, peneliti juga membuktikan bahwa sebenarnya suatu proses percakapan tidak bergantung dengan siapa mereka berbicara, baik teman dekat ataupun orang asing, keduanya tetap bisa membangun komunikasi yang menyenangkan.
Dari studi dan penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kehabisan topik tidak seharusnya menjadi ketakutan karena memang intensitas suatu percakapan bukan dipengaruhi oleh durasi dan topik, namun lebih pada feedback atau respons yang diberikan oleh setiap lawan bicara.
Maka, alasan yang membuat kalian sulit memulai topik tadi adalah respons yang kurang terbuka dari lawan bicara kalian dalam percakapan tersebut. Oleh karena itu, berilah tanggapan yang selayaknya pada setiap lawan bicara kalian yang memulai chat sebagai sebuah bentuk penghargaan kepada mereka.
Meskipun begitu, kalian tetap perlu mengantisipasinya agar tidak terulang lagi. Kalian bisa mulai membangun konteks terlebih dahulu dengan memberikan sedikit lelucon ataupun pujian. Seseorang cenderung akan merasa senang dan luluh jika diberikan pujian secara spesifik dan tulus.
Kemudian, dari pujian tersebut kalian dapat mulai bertanya sedikit demi sedikit untuk mendorong dia menceritakan kisah dirinya di balik pujian tersebut. Ketika sudah sampai pada tahap ini, cobalah untuk berperan menjadi pendengar yang baik karena orang-orang pada umumnya suka menceritakan tentang dirinya.
Kita juga bisa menanggapi satu per satu ceritanya. Setelah itu, mengajukan pertanyaan lanjutan agar chat yang kalian lakukan dapat lebih interaktif dan menyenangkan.
Setidaknya itulah beberapa hal yang dapat kalian coba. Kalau tidak dicoba lagi, kita tidak akan bisa gerak dari titik kecanggungan tersebut. Kalau dicoba lagi, malah takut gagal dan tambah canggung. Jadi, teruntuk kalian yang suka balas chat singkat-singkat, ayo dikurangi dari sekarang.
Karena memulai topik itu tidak semudah memblokir kontak mantanmu," —Nethania Catrice Tiovilda.
