Bukan Sihir Megah, Ini Alasan Funiculi Funicula Seri Kedua Begitu Magis

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Seftira Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Judul Buku: Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap
Penulis: Toshikazu Kawaguchi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa: Asri Pratiwi Wulandari
Tebal Buku: 200 halaman
ISBN: 9786020663845
Bagi yang suka membaca buku fiksi, imajinasi biasanya identik dengan mantra megah atau dunia fantasi yang luas banget. Tapi, Toshikazu Kawaguchi membuktikan hal sebaliknya lewat buku keduanya, Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap. Alih-alih menyuguhkan sihir yang heboh, keajaiban di buku ini justru lahir di dalam sebuah kafe bawah tanah yang sepi. Lewat secangkir kopi dan masalah emosi yang dekat dengan kehidupan nyata, di situlah letak magis yang sesungguhnya.
Kesan Pertama: Lebih Membekas dari Seri Pertama
Sejak halaman-halaman awal, aku langsung merasa seri kedua ini jauh lebih hangat dan menyentuh dibanding seri pertamanya. Aturan kafenya sendiri masih sama: kita bisa kembali ke masa lalu, tapi kenyataan pahit di masa kini tetap enggak akan berubah. Menurutku, batasan aturan yang keras ini justru bikin ceritanya terasa lebih nyata. Pesan yang ingin disampaikan penulis itu sederhana tapi ngena banget: kita memang tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita selalu punya pilihan untuk mengubah diri sendiri demi melangkah ke depan.
Keunggulan: Emosi yang Pas dan Suasana yang Hidup
Yang paling aku suka dari buku ini adalah cara Kawaguchi mengolah emosi karakternya. Kisah Gotaro dan Yukio sukses bikin kita terhanyut sedih, tapi untungnya tidak terasa lebay atau sengaja dibuat-buat. Penulis tahu kapan harus bikin pembaca terenyuh dan kapan harus memberi ruang untuk bernapas. Kehadiran karakter Miki di tengah cerita yang berat juga jadi penyeimbang yang pas. Aku selalu merasa ikut lega setiap kali tokoh anak kecil ini muncul di dalam cerita.
Sebagai orang yang senang membayangkan cerita saat membaca, aku juga menikmati banget penggambaran kafenya yang jelas dan hidup. Deskripsinya bikin suasana kafe terasa nyata di kepalaku, sampai aku seperti ikut duduk langsung di sana. Selain itu, tempo ceritanya menurutku lebih matang. Momen-momen penting diberi waktu untuk mengendap, jadi kesannya bertahan lebih lama setelah dibaca. Gaya bahasanya yang simpel juga bikin dialog antar-tokohnya terasa tulus.
Kekurangan: Kurang Ramah Pembaca Baru dan Transisi Cepat
Meski bagus, buku ini tetap punya kekurangan di mataku. Pertama, buku ini kurang ramah untuk pembaca baru. Kalau kamu belum membaca seri pertamanya, beberapa tokoh dan latar kafenya mungkin bakal terasa agak asing. Kedua, transisi antarkisah di dalamnya terasa lumayan cepat. Aku beberapa kali harus membaca ulang paragraf pembuka cuma buat memastikan siapa tokoh yang sedang bercerita. Ceritanya sendiri juga cukup berat secara emosional, jadi menurutku paling nyaman dibaca saat suasana hati sedang tenang.
Penutup: Rekomendasi untuk Pemilik Penyesalan
Funiculi Funicula seri kedua ini bukan sekadar buku lanjutan biasa buatku. Membaca lembar demi lembarnya terasa seperti obrolan seru yang bikin aku sengaja membacanya pelan-pelan supaya enggak cepat selesai. Buku ini wajib banget dibaca buat siapa pun yang pernah kehilangan, masih menyimpan penyesalan masa lalu, atau butuh pengingat bahwa kebahagiaan itu enggak perlu izin dari siapa pun, termasuk dari diri kita sendiri.
