Konten dari Pengguna

Menghapus Rasa Minder: Ruang Aman Pejuang Jerawat di Solo

Seftira Nugraha

Seftira Nugraha

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Seftira Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kelana Coffee, Solo, Minggu (30/8). (Foto: Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Kelana Coffee, Solo, Minggu (30/8). (Foto: Dok. Pribadi)

Sebagai seseorang yang bertahun-tahun bergelut dengan masalah jerawat, saya tahu persis rasanya. Ada fase di mana cermin menjadi musuh terbesar, dan keluar rumah pun membutuhkan keberanian ekstra. Urusan kulit ini sering kali dianggap remeh, padahal beban psikologis yang ditanggung itu nyata.

Keresahan itulah yang membawa saya dan sembilan orang lainnya berkumpul di Kelana Coffee and Eatery, Solo, pada akhir Agustus lalu. Sore itu bukan sekadar agenda nongkrong biasa, melainkan sebuah gathering intim yang diinisiasi oleh LABORE Skin Fighter Solo, sebuah komunitas bagi pemilik kulit sensitif dan berjerawat.

Satu hal yang saya apresiasi, peserta langsung dibagi ke dalam kelompok terfokus: acne, kulit sensitif, dan hiperpigmentasi. Menurut saya, pembagian ini sangat tepat. Siapa pun yang datang dengan masalah kulitnya masing-masing langsung merasa diterima dan dirangkul tanpa jarak.

Bukan Sekadar Edukasi Sepihak

Poin utama yang saya garis bawahi dari pertemuan ini adalah konsep acaranya. Umumnya, beauty gathering didominasi oleh presentasi produk sepihak dari atas panggung alias jualan terselubung. Namun, sore itu berbeda. Pihak penyelenggara justru duduk setara untuk mendengar feedback dan cerita jatuh-bangun kami di lapangan.

Bagi saya, pendekatan ini terhitung. Di tengah industri kecantikan yang agresif memamerkan keunggulan produk, ruang untuk sekadar didengarkan seperti ini terasa sangat mewah.

Diskusi kami juga menjadi lebih berbobot berkat kehadiran derma specialist. Dari obrolan tersebut, saya mendapatkan edukasi penting yang mematahkan mitos lama: pemilik kulit berminyak ternyata tetap membutuhkan pelembap (moisturizer). Hidrasi tetap menjadi kunci utama untuk menjaga benteng kulit (skin barrier), terutama saat jerawat sedang meradang parah. Penjelasan medis ini menjadi penengah yang pas di tengah maraknya informasi simpang siur di media sosial.

Menemukan Support System yang Jujur

Namun, bagian terbaik dari sore itu adalah sesi bertukar cerita. Kami datang sebagai orang asing yang belum saling mengenal, tetapi cepat membaur karena dipersatukan oleh "nasib" yang sama: lelah dengan siklus coba-coba produk perawatan wajah.

Rekomendasi produk dan tips yang saling kami lemparkan terasa sangat valid karena lahir dari pengalaman nyata di lapangan, bukan sekadar klaim iklan atau konten endorsement. Tanpa rasa canggung dan penghakiman, kami berhasil membangun jaringan relasi baru yang sangat suportif di Solo.

Pertemuan singkat ini sukses mengubah stigma. Masalah jerawat yang biasanya memicu rasa minder dan tabu untuk dibahas, sore itu justru dibicarakan dalam ruang yang penuh penerimaan.

Saat pulang, ada rasa lega yang luar biasa. Menyadari bahwa kita tidak sedang berjuang sendirian terbukti menjadi suntikan rasa percaya diri yang besar. Kegiatan intim berbasis komunitas seperti ini sangat layak untuk diadakan secara berkala di Solo, agar para pejuang kulit selalu memiliki ruang aman untuk saling menguatkan.