Konten dari Pengguna

Anak Bungsu: Jangan Bandingkan Kami dengan Kakak

Tisa Tamariska

Tisa Tamariska

Mahasiswi Universitas Pamulang, Jurusan Sastra Indonesia.

·waktu baca 3 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tisa Tamariska tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kakak beradik bertengkar. Foto: shutter stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kakak beradik bertengkar. Foto: shutter stock

Stigma atau persepsi negatif terhadap anak bungsu seringkali kita temukan di dalam sebuah keluarga. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perbedaan perlakuan atau perhatian yang diterima, persepsi bahwa anak bungsu lebih manja dan bergantung pada anggota keluarga lainnya, atau adanya perbandingan yang tidak adil dengan kakak-kakak mereka.

Beberapa anak bungsu mungkin terkadang merasakan tekanan untuk mencapai atau melampaui prestasi kakak-kakaknya, terutama jika mereka dibandingkan secara terus-menerus.

Sebagai anak bungsu, sangatlah penting untuk diingatkan kepada orang lain, terutama kepada orang tua atau anggota keluarga lainnya, agar tidak membandingkan anak bungsu dengan kakak-kakaknya.

Karena pada dasarnya, setiap anak memiliki keunikan, kemampuan, dan potensi yang berbeda-beda. Membandingkan anak bungsu dengan kakaknya dapat menimbulkan perasaan tidak adil, rendah diri, atau tidak dihargai.

Sebagai anak bungsu, mereka juga ingin diberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kepribadian dan minatnya sendiri. Anak bungsu hanya berharap agar orang tua atau anggota keluarga lainnya dapat memberikan dukungan, penerimaan, dan perhatian yang sama kepada mereka seperti yang mereka berikan kepada kakak-kakaknya.

Ilustrasi adik dan kakak yang sedang bermain bersama. Foto: Shutterstock

Seringkali orang tua menerapkan standar harapan yang tinggi kepada anak bungsunya. Karena bagi orang tua, anak bungsu merupakan harapan terakhir di dalam keluarga. Apabila kakaknya berprestasi, orang tua cenderung menuntut anak bungsu agar bisa menyamakan atau bahkan melangkahi pencapaian kakaknya.

Hal ini membuat banyak anak bungsu sering merasa tertekan apabila tidak bisa menyamakan langkah dengan kakaknya. Apalagi jika mereka memiliki sosok kakak yang sempurna dalam banyak hal yang tentunya begitu sulit diikuti jika tidak memiliki kemampuan yang sama.

Selain berdampak kepada mental si anak bungsu, membanding-bandingkan mereka juga dapat menurunkan rasa kepercayaan dirinya, sehingga anak bungsu selalu merasa kurang karena tidak bisa seperti kakaknya.

Bahkan tidak jarang anak bungsu jadi membenci kakaknya jika terus dibanding-bandingkan oleh orang tua. Hubungan di antara keduanya memburuk, atau jadi terasa canggung. Mereka merasa semua tekanan yang diberikan terjadi karena kakaknya yang terlalu sempurna.

Ilustrasi keluarga bahagia. Foto: Shutterstock

Untuk para anak bungsu, jika ada perbandingan yang terus-menerus dilakukan, penting bagi kalian untuk berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang tua atau anggota keluarga lainnya tentang perasaan kalian.

Jelaskan bahwa setiap anak memiliki perjalanan dan potensi yang unik, dan bahwa perbandingan tidak sehat dapat mempengaruhi hubungan dan rasa percaya diri kita.

Lebih baik untuk memfokuskan energi kita pada pengembangan pribadi, mengejar minat dan tujuan kita sendiri, serta menghargai perbedaan di antara saudara-saudara kita.

Dengan saling mendukung dan menghargai satu sama lain, kita dapat membangun hubungan keluarga yang lebih positif dan saling melengkapi satu sama lain.

"Tak perlu repot-repot menyamakan diri dengan orang lain. Kau diciptakan untuk menjadi unik. Sudah terlalu banyak orang yang sama seperti kebanyakan orang," —Fiersa Besari.