Konten dari Pengguna

Kebahagiaanmu Tidak Ditentukan oleh Pendapat Orang Lain

Tisa Tamariska

Tisa Tamariska

Mahasiswi Universitas Pamulang, Jurusan Sastra Indonesia.

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tisa Tamariska tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang yang selalu dikomentari. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang yang selalu dikomentari. Foto: Shutterstock

Survei dari Anxiety and Depression Association of America (ADAA) menunjukkan bahwa sekitar 75 persen orang yang menderita gangguan kecemasan mengalami ketakutan berlebihan terhadap penilaian orang lain. Mereka cenderung menghindari situasi sosial yang memungkinkan mereka dinilai atau dievaluasi.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Personality and Social Psychology Bulletin menemukan bahwa rasa takut akan penilaian negatif dari orang lain dapat menghambat ekspresi diri secara otentik. Orang-orang yang merasa sangat terbebani dengan kekhawatiran ini cenderung mengekspresikan diri dengan cara yang lebih konformis atau menyembunyikan aspek-aspek penting dari diri mereka.

Begitu banyak orang yang masih takut untuk memberi tahu kepada orang lain tentang apa yang menjadi kebahagiaannya. Mereka terlalu takut dianggap aneh dan belum siap mendengar hal-hal yang menyakitkan dari komentar pedas orang lain.

Ilustrasi orang yang mendapat banyak komentar. Foto: Shutterstock

Ini tentang mereka, yang hanya ingin membuat story drama Korea yang tengah ditontonnya. Akan tetapi takut dengan komentar misalnya, "Ngapain, sih? nonton drama korea yang isinya cuma cinta-cintaan? Nggak mendidik!"

Tentang mereka, yang ingin mengapresiasi idola boyband Korea yang disukainya. Akan tetapi takut dengan komentar, "Suka kok sama idol korea, plastik, cowoknya kayak banci gitu!"

Tentang mereka, yang ingin mem-posting karya-karyanya lewat media sosial. Akan tetapi takut akan komentar, "Jelek banget, bagusan juga buatan gue!"

Tentang mereka yang ingin menceritakan betapa menyenangkannya anime yang tengah tayang. Akan tetapi takut dengan komentar, "Ih, udah gede nontonnya kartun, dasar wibu!"

Tentang mereka yang ingin dunia tahu betapa indahnya lantunan suara yang ia gaungkan. Akan tetapi takut dengan komentar, "Sok bagus banget suaranya, mendingan dipendam aja deh!"

Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang ingin mereka berita tahu kepada banyak orang, tentang bagaimana kebahagiaan yang ia rasakan, akan tetapi harus ditahan hanya karena takut dengan komentar negatif dari orang lain.

Kalimat negatif itu terus-menerus bermain di kepala mereka. Karena takut dicap aneh dan dipermalukan, akhirnya mereka memilih untuk menyembunyikan itu semua.

Mereka memilih untuk tidak pernah lagi menunjukkan hal-hal yang mereka sukai. Mereka terlalu takut tidak bisa memenuhi ekspektasi orang lain. Mereka takut pada akhirnya mereka akan dijauhi dan sendirian.

Padahal hanya ingin menyalurkan perasaan bahagia, tapi mengapa ditolak?

Padahal hanya memiliki selera yang berbeda, tapi mengapa dikucilkan?

Padahal mungkin hal-hal yang disukai itu bisa menjadi pelarian mereka dari jahatnya dunia yang tengah mereka rasakan. Mereka hanya ingin mencari tempat aman di tengah gempuran realita yang tiada ampunnya.

Tapi kebahagiaan mereka justru disalahkan, diremehkan, dipermalukan, dan tidak dihargai. Padahal wajar jika setiap manusia memiliki selera yang berbeda-beda.

Ilustrasi setiap orang berbeda-beda. Foto: Shutterstock

Jadi tolong, untuk kalian di luar sana yang masih merasakan hal tersebut, mulailah mengabaikan pendapat orang tentang kebahagiaanmu. Karena duniamu terlalu luas jika hanya untuk memikirkan perkataan mereka.

Segala sesuatu yang kita dengar adalah pendapat, bukan fakta. Segala sesuatu yang kita lihat adalah perspektif, bukan kebenaran," —Marcus Aurelius.

Sayangi dan bahagiakanlah dirimu sendiri. Karena orang lain akan selalu berkomentar. Akan tetapi yang menentukan kebahagiaanmu adalah dirimu sendiri, bukan orang lain.