Konten dari Pengguna

Membaca Kembali dan Menghidupkan Hakikat Kurban

Agus Sutisna

Agus Sutisna

Dosen FISIP Universitas Setia Budhi Rangkasbitung I Founder Yayasan Podiumm Pesantren Nurul Madany Cipanas Lebak

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agus Sutisna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kurban saat Lebaran Idul Adha. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kurban saat Lebaran Idul Adha. Foto: Shutterstock

Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha dengan ritus yang relatif seragam: mengumandangkan takbir, melaksanakan salat berjamaah, lalu menyembelih hewan kurban. Namun, di balik rutinitas tahunan yang sarat dengan keriuhan fisik ini, Idul Adha sebenarnya menyimpan sebuah narasi eksistensial yang sangat radikal tentang penghambaan, cinta, dan kemanusiaan. Jika kita gagal menangkap esensi di balik darah dan daging yang mengalir, kurban hanya akan menjadi sebuah selebrasi sosiologis tanpa makna spiritual.

Di era modern yang serba cepat dan materialistis ini, refleksi terhadap Idul Adha menjadi penting untuk menyelamatkan jiwa manusia dari kekeringan spiritual. Kita sering kali terjebak dalam aspek seremonial, menghitung jumlah hewan yang disembelih, atau membandingkan bobot sapi milik tokoh publik di media sosial. Tanpa sadar, kita telah menggeser fokus dari substansi transendental menuju tontonan superfisial yang justru menjauhkan kita dari hakikat ketakwaan itu sendiri.

Melalui artikel ini, mari kita membaca kembali makna sejati kurban, dan menghidupkannya dalam alam kesadaran teologis kita sebagai muslim.

Radikalitas Kepatuhan: Menguji "Berhala" di Dalam Hati

Akar sejarah Idul Adha bermuara pada ujian super berat yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim AS ketika diperintahkan untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail Alaihisalam. Secara logika kemanusiaan, perintah ini adalah sebuah paradoks yang menyakitkan. Namun, Al-Qur'an merekam momen tersebut sebagai puncak dari penyerahan diri yang absolut. Dalam Surah As-Saffat ayat 102, ketika Ibrahim menyampaikan wahyu tersebut kepada putranya, Ismail dengan tegar menjawab:

"Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Ilustrasi membaca Al Quran. Foto: Shutterstock

Refleksi mendalam dari ayat ini bukan terletak pada tindakan penyembelihannya (karena Allah kemudian mengganti Ismail dengan seekor domba), melainkan pada proses kesiapan untuk melepaskan. Cendekiawan muslim Iran terkemuka, Dr. Ali Shariati, dalam bukunya Hajj, menguraikan bahwa "Ismail" dalam konteks modern adalah simbol dari apa pun yang menjauhkan kita dari kebenaran.

"Ismail" bisa berupa jabatan, kekayaan, ego, reputasi, atau bahkan ambisi pribadi yang kita cintai secara berlebihan hingga mengaburkan akal sehat dan nurani. Menyembelih kurban adalah simbol dekonstruksi terhadap berhala-berhala modern yang bersemayam di dalam hati dan pikiran kita.

Jika kita jujur pada diri sendiri, setiap dari kita memiliki "Ismail" kecil yang selalu kita timang dan proteksi di dalam dada. Kita sering kali membangun benteng pembenaran atas keserakahan, kepemilikan material, dan status sosial yang kita miliki. Di sinilah letak radikalitas perintah Allah: Dia tidak menginginkan nyawa anak manusia, tetapi kerelaan ego manusia untuk tunduk pada kebenaran yang lebih tinggi. Pertanyaan reflektifnya: Siapkah kita mengeksekusi ego keduniawian tersebut ketika ia mulai berbenturan dengan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan?

Lebih jauh lagi, peristiwa Ibrahim dan Ismail mengajarkan kita tentang seni melepaskan keterikatan (detachment). Manusia modern sering kali menderita karena mereka menaruh kebahagiaan mutlak pada hal-hal yang bersifat fana. Ketika objek cinta duniawi itu terancam hilang, manusia mengalami krisis eksistensial yang hebat. Melalui drama kosmik di bukit Mina, kita diajak untuk memahami bahwa kepemilikan sejati hanyalah milik Allah, dan apa yang ada di tangan kita hanyalah titipan dari-Nya yang sewaktu-waktu harus siap dikembalikan tanpa penyesalan.

Pada akhirnya, penggalan sejarah ini mengetuk pintu kesadaran kita yang paling dalam mengenai makna cinta universal. Cinta Ibrahim kepada Ismail adalah cinta natural seorang ayah, tapi cinta kepada Allah adalah cinta metafisik yang melampaui batas biologis. Ketika kedua cinta ini diuji, Ibrahim memilih cinta yang hakiki. Narasi reflektif ini membimbing kita untuk menata ulang hierarki cinta di dalam hati, memastikan bahwa cinta kita kepada makhluk tidak pernah mengalahkan kepatuhan kita kepada Sang Pencipta.

Dimensi Teologis: Allah Tidak Butuh Daging, Dia Melihat Takwa

Ilustrasi ajaran agama. Foto: Shutterstock

Secara fikih, kita memang menyembelih hewan. Namun secara maknawi, Allah SWT sama sekali tidak mengambil keuntungan dari ritual tersebut. Prinsip tauhid ini ditegaskan secara eksplisit dalam Surah Al-Hajj ayat 37:

"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan mencapai (keridhaan) Allah, tetapi yang mencapai-Nya adalah ketakwaan kamu."

Ulama besar Imam Al-Ghazali dalam magnum opus nya, Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa ibadah ritual memiliki aspek zahir (lahiriah) dan batin (esensi). Zahir-nya adalah menyembelih hewan, tapi batin-nya adalah menyembelih sifat-sifat kebinatangan (sifatul bahimiyah) dalam diri manusia seperti ketamakan, sifat ingin menang sendiri, dan ketidakpedulian sosial. Tanpa adanya transformasi spiritual (takwa) setelah ritual penyembelihan, ibadah kurban kita terancam kehilangan substansinya di hadapan Tuhan.

Pernyataan Al-Ghazali ini membawa kita pada sebuah perenungan logis: Apa jadinya jika setelah Idul Adha, watak-watak eksploitatif kita tetap tumbuh ? Apakah israf, keserakahan, dan sejenisnya tetap tumbuh?

Hewan tersebut tidak berdosa, tapi ia mengorbankan dirinya agar manusia dapat mengambil pelajaran. Sangat ironis jika setelah darah hewan kurban membasahi bumi, manusia justru tetap memelihara tabiat "binatang" di dalam dirinya seperti memangsa hak sesama, serakah terhadap sumber daya alam, dan bersikap bebal terhadap penderitaan lingkungan sekitar.

Suasana lapak hewan kurban di Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Secara teologis, ayat di atas juga meruntuhkan mitos-mitos kuno pra-Islam di mana persembahan atau sesajen ditujukan untuk menenangkan kemarahan "dewa" atau penguasa alam gaib yang haus darah. Islam datang membawa revolusi teologis yang bersih; Allah adalah Al-Ghani (Maha Kaya) yang tidak membutuhkan makanan atau darah dan sesajen apa pun bentuknya. Kurban dalam Islam adalah instrumen edukasi diri. Dalam konteks ini, yang bertransformasi bukanlah Allah, melainkan kualitas batiniah sang hamba yang mempersembahkannya.

Maka, setiap tetesan darah yang mengalir dari leher hewan kurban seolah-olah menjadi cermin yang memantulkan kondisi spiritual kita. Apakah kita berkurban karena gengsi sosial agar dianggap sebagai orang yang dermawan di mata tetangga? Ataukah kita benar-benar sedang mengetuk pintu ampunan Allah dengan penuh ketundukan? Jika ketakwaan adalah mata uang yang berlaku di sisi-Nya, keikhlasan absolut adalah satu-satunya cara agar ibadah kita tidak bertransformasi menjadi sekadar jagal massal yang sia-sia.

Solidaritas Horizontal: Membongkar Sekat Kelas Sosial

Islam tidak pernah memisahkan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Idul Adha adalah perwujudan nyata dari konsep ekonomi profetik, di mana kekayaan didistribusikan untuk memangkas kesenjangan. Hal ini diperkuat oleh hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

"Makanlah, simpanlah, dan bersedekahlah kalian (dari daging kurban tersebut)."

Perintah untuk "bersedekah" di sini memiliki dimensi sosiologis yang kuat. Cendekiawan kontemporer seperti Prof. Dr. Quraish Shihab sering menekankan bahwa esensi kurban adalah mendekatkan yang jauh. Kata "kurban" sendiri secara etimologi berasal dari kata "qaruba" yang berarti "dekat". Artinya, ibadah ini harus membawa dua dampak kedekatan sekaligus: mendekatkan diri kepada Sang Pencipta (hablum minallah), dan mendekatkan hubungan antarmanusia (hablum minannas). Di hari Idul Adha, sekat antara si kaya yang berkurban dan si miskin yang menerima kurban dilebur dalam satu nampan kebersamaan.

Secara naratif, mari kita bayangkan realitas sosial di sekitar kita. Di luar hari raya, ada tembok tebal yang memisahkan antara wilayah elite dan pemukiman kumuh. Ada jarak psikologis dan ekonomi yang membuat si miskin sering kali merasa asing di tanahnya sendiri. Namun, pada hari Idul Adha, bungkusan-bungkusan daging itu menjadi jembatan yang meruntuhkan tembok pembatas tersebut. Ia menjadi pesan bisu, tapi kuat: "Hari ini, kita makan menu yang sama. Kita setara sebagai manusia."

Ilustrasi salat Idul Adha di tengah pandemi. Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Pendekatan sosiologis ini menuntut kita untuk merefleksikan kontinuitas dari empati tersebut. Sangat mudah untuk menjadi dermawan selama tiga hari di bulan Dzulhijjah saat atmosfer keagamaan mendukung kita untuk berbagi. Namun, esensi sejati dari teologi sosial kurban adalah bagaimana mengonversi aksi musiman ini menjadi kesadaran sistemik yang menetap. Ibadah kurban adalah latihan intensif agar mata dan hati kita tetap terlatih mendeteksi kemiskinan yang terjadi di sekeliling kita pada sisa sebelas bulan lainnya.

Ketika kita menyerahkan potongan daging kepada tangan-tangan yang membutuhkan, ada sebuah transaksi spiritual yang terjadi. Kita tidak sedang memberi bantuan dari posisi atas ke bawah, tetapi menunaikan hak mereka yang dititipkan melalui harta kita. Refleksi ini menghindarkan kita dari penyakit superiority complex (merasa lebih mulia karena memberi). Sebaliknya, ia melahirkan rasa syukur yang mendalam karena kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi perpanjangan tangan kasih sayang-Nya di muka bumi.

Menjadi Manusia yang "Selesai" dengan Dirinya

Idul Adha adalah sebuah momentum spiritual refreshing. Melalui kisah Ibrahim, Ismail, dan ritual kurban, kita diajarkan untuk menjadi manusia yang sudah "selesai" dengan ego pribadi. Ketika kita mampu mengorbankan sebagian kecil dari apa yang kita miliki demi kemaslahatan bersama, kita sedang membuktikan bahwa iman kita bukan sekadar jargon di lisan, melainkan juga sebuah aksi nyata yang berdampak pada peradaban.

Maka, terdapat refleksi akhir bagi kita: setelah Idul Adha berlalu dan aroma daging kurban menghilang, apakah sifat egois kita sudah ikut tersembelih, atau justru ego tersebut masih hidup dan semakin gemuk di dalam dada? Hanya kedalaman takwa dan konsistensi sosial kita di hari-hari ke depan yang mampu menjawabnya.

Selamat merayakan Idul Adha dan menghidupkan makna sejatinya dalam keseharian kita—kini dan esok.