Menjadi Dewasa di Tengah Tuntutan untuk Selalu Berhasil

Saya Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Manajemen SDM
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Titania Azqia Novianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi Dewasa Tidak Harus Selalu Berhasil: Belajar Berdamai dengan Proses Kehidupan
Menjadi dewasa sering kali dibayangkan sebagai fase kehidupan ketika seseorang sudah mandiri, memiliki pekerjaan, mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, dan mengetahui arah masa depannya. Namun, kenyataannya tidak semua hal berjalan sesuai dengan gambaran tersebut. Ada orang yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan, ada yang belum mendapatkan pekerjaan setelah lulus, dan ada pula yang masih berusaha menemukan tujuan hidupnya.
Di tengah berbagai harapan tersebut, menjadi dewasa terkadang terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai. Kita seolah dituntut untuk terus berkembang, mencapai sesuatu, dan membuktikan bahwa diri kita mampu menjalani kehidupan dengan baik.
Bagi mahasiswa tingkat akhir dan lulusan baru, tekanan ini terasa semakin dekat. Setelah menyelesaikan pendidikan, muncul pertanyaan mengenai pekerjaan, penghasilan, karier, hingga kemampuan untuk hidup mandiri. Pertanyaan tersebut sebenarnya wajar, tetapi dapat menjadi beban ketika kita merasa harus menemukan semua jawabannya dalam waktu yang bersamaan.
Tanpa disadari, proses menuju kedewasaan yang seharusnya menjadi kesempatan untuk mengenali diri sendiri justru berubah menjadi tuntutan untuk selalu berhasil.
Ketika Pencapaian Orang Lain Membuat Kita Merasa Tertinggal
Salah satu tantangan yang sering dihadapi generasi muda adalah kebiasaan membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan pencapaian orang lain. Kita melihat teman yang sudah bekerja di perusahaan ternama, memiliki penghasilan sendiri, membangun bisnis, atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Di sisi lain, mungkin ada seseorang yang masih berjuang menyelesaikan skripsi, mengirimkan lamaran pekerjaan, atau memikirkan langkah yang harus diambil setelah lulus kuliah.
Misalnya, seorang mahasiswa berusia 22 tahun sedang berusaha menyelesaikan skripsinya. Ia membagi waktu antara mengerjakan revisi, mencari lowongan pekerjaan, dan mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja. Namun, ketika membuka media sosial, ia melihat teman-temannya sudah lebih dahulu mendapatkan pekerjaan dan mulai membangun kehidupan yang mereka inginkan.
Awalnya, ia mungkin ikut merasa senang. Akan tetapi, semakin sering melihat pencapaian tersebut, muncul pertanyaan dalam dirinya, "Mengapa orang lain sudah sejauh itu, sedangkan aku masih berada di tahap ini?"
Padahal, ia juga sedang berusaha. Ia memiliki tanggung jawab, menghadapi kesulitan, dan berusaha menyelesaikan sesuatu yang menjadi bagian dari kehidupannya. Hanya saja, prosesnya berbeda dengan orang lain.
Situasi ini menunjukkan bahwa perasaan tertinggal tidak selalu muncul karena kita tidak melakukan apa-apa. Terkadang, perasaan tersebut muncul karena kita terlalu berfokus pada apa yang telah dicapai orang lain hingga melupakan kemajuan yang sudah kita buat sendiri.
Kita juga tidak bisa mengabaikan pertanyaan dari lingkungan sekitar, seperti kapan lulus, kapan bekerja, atau kapan bisa mandiri secara finansial. Walaupun sering kali disampaikan sebagai bentuk perhatian, pertanyaan tersebut dapat terasa menekan ketika seseorang sedang berjuang menemukan jawabannya.
Pada akhirnya, kita bukan hanya menghadapi tantangan kehidupan, tetapi juga berusaha memenuhi harapan yang terbentuk dari lingkungan sekitar.
Media Sosial dan Gambaran Kesuksesan yang Tidak Utuh
Kehadiran media sosial membuat pencapaian orang lain semakin mudah terlihat. Dalam beberapa menit, kita dapat menemukan cerita tentang seseorang yang berhasil mendapatkan pekerjaan impian, memperoleh beasiswa, membeli barang yang diinginkan, atau mengembangkan usaha dari nol.
Cerita-cerita tersebut tentu dapat memberikan inspirasi. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain dan menemukan motivasi untuk terus berkembang. Namun, masalah muncul ketika inspirasi berubah menjadi alasan untuk meragukan kemampuan diri sendiri.
Hal yang perlu diingat adalah apa yang terlihat di media sosial tidak selalu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang. Kita mungkin melihat hasil akhirnya, tetapi belum tentu mengetahui proses panjang, kegagalan, keterbatasan, dan pengorbanan yang menyertainya.
Membandingkan kehidupan kita secara keseluruhan dengan bagian terbaik dari kehidupan orang lain tentu bukan perbandingan yang seimbang.
Ketika terus-menerus melihat pencapaian orang lain, sesuatu yang sebelumnya kita anggap sebagai kemajuan dapat terasa biasa saja. Kita mulai merasa kurang berhasil hanya karena orang lain memiliki pencapaian yang berbeda atau terlihat lebih besar.
Karena itu, media sosial sebaiknya digunakan sebagai sumber informasi dan inspirasi, bukan sebagai ukuran mutlak untuk menentukan nilai diri. Keberhasilan seseorang tidak mengurangi kesempatan kita untuk berhasil, sebagaimana keterlambatan kita mencapai suatu tujuan tidak otomatis membuat orang lain lebih unggul dalam segala hal.
Ada banyak bentuk kemajuan yang tidak selalu terlihat di layar, seperti berani mencoba kembali setelah mengalami kegagalan, menyelesaikan tanggung jawab, mempelajari keterampilan baru, atau membantu keluarga sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Kemajuan semacam itu tetap berarti, meskipun tidak mendapatkan banyak perhatian dari orang lain.
Dewasa Bukan Berarti Harus Mengetahui Segalanya
Ada anggapan bahwa seseorang yang sudah dewasa harus selalu kuat, mandiri, mampu mengambil keputusan, dan mengetahui apa yang ingin dicapai dalam hidupnya. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.
Menjadi dewasa bukan berarti kita tidak boleh merasa takut, bingung, atau ragu. Ada masa ketika kita merasa yakin dengan pilihan sendiri, tetapi ada pula masa ketika kita perlu mengevaluasi kembali keputusan tersebut.
Kita mungkin sudah memiliki rencana, tetapi keadaan berubah sehingga mengharuskan kita mencari jalan lain. Kita juga bisa mengalami kegagalan meskipun sudah berusaha semaksimal mungkin.
Hal-hal tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa kita gagal menjadi orang dewasa. Justru, kemampuan untuk menghadapi perubahan, mengakui kesalahan, meminta bantuan ketika diperlukan, dan belajar dari pengalaman merupakan bagian dari proses pendewasaan.
Kedewasaan juga berkaitan dengan kemampuan memahami diri sendiri. Kita perlu mengenali apa yang menjadi prioritas, apa yang benar-benar ingin dicapai, dan apa yang selama ini hanya dilakukan karena takut tertinggal dari orang lain.
Bagi sebagian orang, keberhasilan berarti memiliki karier yang menjanjikan dan penghasilan yang stabil. Bagi yang lain, keberhasilan mungkin berarti mampu membantu keluarga, menjalani pekerjaan yang sesuai dengan minat, atau memiliki kehidupan yang lebih tenang.
Tidak semua orang harus memiliki definisi kesuksesan yang sama. Kita boleh memiliki ambisi besar, tetapi kita juga berhak menentukan jalan hidup yang sesuai dengan nilai, kemampuan, dan keadaan masing-masing.
Belajar Menentukan Standar Keberhasilan Sendiri
Menghadapi tuntutan kehidupan bukan berarti kita harus berhenti memiliki tujuan. Sebaliknya, kita tetap perlu berusaha, mengembangkan kemampuan, dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang diambil. Namun, usaha tersebut perlu disertai dengan cara pandang yang lebih realistis terhadap diri sendiri.
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menetapkan tujuan berdasarkan kebutuhan dan kondisi pribadi. Mahasiswa tingkat akhir, misalnya, dapat berfokus menyelesaikan skripsi, meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja, serta mempersiapkan diri menghadapi proses rekrutmen.
Tujuan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa langkah kecil agar lebih mudah dijalankan. Dengan begitu, kita tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga memiliki gambaran mengenai hal-hal yang dapat dilakukan saat ini.
Kedua, kita perlu memahami bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Penolakan saat melamar pekerjaan, hasil yang belum sesuai harapan, atau perubahan rencana dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi strategi dan memperbaiki kemampuan. Tidak semua hal dapat berjalan sesuai keinginan, tetapi kita tetap memiliki kesempatan untuk menentukan langkah berikutnya.
Ketiga, kita perlu membatasi kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain. Melihat pencapaian orang lain tidak menjadi masalah selama kita mampu menempatkannya sebagai inspirasi, bukan sebagai alasan untuk merendahkan diri sendiri.
Terakhir, belajarlah menghargai kemajuan yang sudah dicapai. Terkadang, kita terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang belum dimiliki hingga lupa melihat hal-hal yang sudah berhasil dilewati. Padahal, menyelesaikan tanggung jawab, berani mencoba, dan terus belajar juga merupakan bagian dari perkembangan diri.
Dukungan keluarga dan lingkungan juga memiliki peran penting. Daripada hanya menanyakan kapan seseorang akan berhasil, kita dapat memberikan ruang bagi mereka untuk bercerita, memahami kesulitan yang dihadapi, dan mendiskusikan langkah konkret yang dapat dilakukan.
Memberikan dukungan bukan berarti menghilangkan tanggung jawab seseorang. Sebaliknya, dukungan yang tepat dapat membantu seseorang menghadapi tanggung jawabnya dengan lebih baik.
Tidak Semua Hal Harus Selesai Hari Ini
Pada akhirnya, menjadi dewasa bukan tentang siapa yang paling cepat mendapatkan pekerjaan, siapa yang paling dahulu memiliki penghasilan besar, atau siapa yang terlihat paling berhasil di hadapan orang lain.
Menjadi dewasa adalah proses belajar mengambil keputusan, menghadapi konsekuensi, mengenali keterbatasan, dan terus memperbaiki diri meskipun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Kita boleh memiliki target dan berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik. Namun, kita juga perlu memberikan ruang bagi diri sendiri untuk belajar, melakukan kesalahan, dan memulai kembali ketika keadaan tidak sesuai harapan.
Tidak ada salahnya melihat keberhasilan orang lain sebagai motivasi. Akan tetapi, jangan sampai pencapaian mereka membuat kita lupa bahwa diri sendiri juga sedang menjalani perjalanan yang berarti.
Kita tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan pada usia tertentu. Ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu, pengalaman, dan proses panjang untuk dipahami.
Sebab, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah dibandingkan dengan orang lain, tetapi juga tentang bagaimana kita bertumbuh, menghadapi kesulitan, dan tetap berusaha menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Menjadi dewasa bukan berarti harus selalu berhasil. Terkadang, menjadi dewasa justru berarti berani menerima bahwa kita masih berproses, tanpa berhenti berusaha untuk menjadi lebih baik.
