Konten dari Pengguna

Ibu: Garda Terdepan dalam Upaya Memberantas Stunting

Titis Aura

Titis Aura

Mahasiswa Prodi Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Titis Aura tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemberian MP-ASI kepada bayi untuk memberantas stunting Sumber : www.canva.com
zoom-in-whitePerbesar
Pemberian MP-ASI kepada bayi untuk memberantas stunting Sumber : www.canva.com

Indonesia digadang-gadang akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2045. Bonus demografi merupakan keadaan dimana struktur penduduk didominasi oleh kalangan usia produktif.

Hal tersebut sejalan dengan visi pemerintah untuk menjadikan Sumber Daya Manusia Indonesia Emas Tahun 2045. Namun, mempersiapkan generasi emas pada tahun 2045 bukanlah tugas yang mudah, mengingat stunting masih menjadi isu gizi utama yang dihadapi oleh balita di Indonesia.

Pada tahun 2022 tercatat angka stunting di Indonesia masih tergolong tinggi sebesar 21,6%, hal ini didasarkan pada hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). Oleh sebab itu, diperlukan adanya langkah-langkah untuk mencapai target pengurangan stunting menjadi 14% pada tahun 2024.

Stunting adalah suatu masalah yang terjadi karena kurangnya asupan gizi. Pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap masalah stunting karena dianggap sebagai isu kesehatan masyarakat yang serius, dengan dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan anak serta kemajuan pembangunan nasional.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah telah meluncurkan berbagai program gizi dan kesehatan masyarakat, seperti Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT), Program Pemberian Asi Eksklusif, Program Peningkatan Konsumsi Buah dan Sayur, Program Penyuluhan Gizi, serta Program Perbaikan Sanitasi dan Air sebagai upaya konkret dalam menanggulangi stunting.

Penelitian menunjukkan bahwa peran ibu sangat besar dalam mencegah dan mengatasi stunting pada anak. Program 1000 Hari Pertama Kehidupan anak (HPK) merupakan upaya terbesar dalam menurunkan angka kejadian stunting.

Stunting bisa disebabkan oleh teknik pengasuhan yang kurang efektif, terutama karena ibu hamil tidak tahu tentang pentingnya nutrisi yang baik sebelum, saat, dan setelah melahirkan.

Menurut sejumlah data, 60% bayi usia 0-6 bulan tidak menerima ASI eksklusif. Di sisi lain, 2/3 bayi berusia enam hingga dua puluh empat bulan tidak menerima ASI dan Makanan Pendamping (MP-ASI).

ASI eksklusif merujuk pada praktik memberikan ASI kepada bayi sejak baru lahir hingga usia enam bulan. ASI eksklusif menyediakan semua nutrisi yang diperlukan bayi untuk enam bulan pertama kehidupannya sehingga bayi lebih tahan terhadap penyakit.

Selain memberikan manfaat kesehatan bagi bayi, memberikan ASI eksklusif juga membantu ibu dalam mengurangi risiko kehamilan, sebagai kontrasepsi (KB) alami, serta mencegah perdarahan pascapersalinan sehingga mengurangi risiko anemia defisiensi besi.

Pada bayi berusia enam bulan, MP-ASI memiliki peran yang sangat penting karena ASI yang diberikan ibu tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi pada usia tersebut, dan kemampuan pencernaan bayi sudah cukup untuk menerima makanan yang lebih padat.

Hasil survei menunjukkan bahwa salah satu penyebab gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan anak usia 6 hingga 24 bulan di Indonesia adalah kualitas makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang buruk dan pola asuh yang tidak sesuai, sehingga mengakibatkan kekurangan mikronutrien dan energi, terutama seng (Zn) dan zat besi (Fe).

Pemberian MP-ASI dapat membantu meningkatkan asupan nutrisi anak dan menjaga keseimbangan antara zat gizi yang dibutuhkan anak.

Penelitian menegaskan terdapat hubungan positif antara frekuensi pemberian makanan pendamping ASI dan status gizi anak. Frekuensi dalam pemberian MP-ASI yang tepat pada anak berusia enam hingga sembilan bulan diberi makan tiga kali makanan lumat didampingi pemberian ASI; anak berusia sembilan hingga dua belas bulan diberi makan tiga kali makanan lembik dengan dua kali makanan selingan dan tetap diberikan ASI; kemudian anak berusia dua belas hingga dua puluh empat bulan diberi makan tiga kali makanan keluarga dengan dua kali makanan selingan dan tetap diberikan ASI.

Peran ibu sangat krusial dalam mengatasi stunting pada balita di Indonesia. Edukasi kesehatan gizi sebelum, saat, dan setelah kelahiran menjadi penting untuk memastikan pemahaman tentang asupan gizi yang cukup. Dukungan penuh dalam memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan membantu memastikan pertumbuhan optimal dan kekebalan tubuh yang kuat.

Selanjutnya, pemilihan dan penyajian makanan pendamping ASI yang tepat juga sangat penting dalam mencegah stunting. Secara keseluruhan, keterlibatan ibu dalam memberikan perawatan, nutrisi, dan pendampingan yang tepat memiliki dampak besar dalam mengurangi risiko stunting pada balita Indonesia.

Referensi:

Gusman, Y.M. and Farlikhatun, L. (2024) ‘Hubungan Riwayat Pemberian Asi Eksklusif, Pola Asuh, dan Pengetahuan Ibu tantang Gizi dengan Terjadinya Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan’, Malahayati Nursing Journal, 6(2), pp. 600–615.

Khoiriyah, H. and Wantonoro (2024) ‘Analisis Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kejadian Stubtinng Pada Balita’, Jurnal Kebidanan Indonesia, 15(1), pp. 106–120. Available at: https://stikesmus.ac.id/jurnal/index.php/JKebIn/index Jurnal.

M, R. (2023) ‘Hubungan Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI ( MP-ASI ) dengan Status Gizi Anak Usia 6-24 Bulan’, Nursing Care and Health Technology Journal, 3(1), pp. 22–28. Available at: http://ojs.nchat.id/index.pho/nchat.