Limbah Kayu jadi Biochar: Langkah Petani Dlingo Wujudkan Pertanian Berkelanjutan

Fresh Graduate Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Titis Bella Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
UGM Gelar Sosialisasi Pengolahan Limbah Biomassa Kayu Menjadi Biochar di Dlingo

DLINGO – Masyarakat Dusun Pancuran, Kalurahan Terong, Kapanewon Dlingo bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Pusat Studi Sumber Daya Lahan (PS2DL), mengikuti sosialisasi bertajuk “Pemanfaatan Limbah Biomassa Kayu Menjadi Biochar dengan Rotary Drum Pyrolysis” pada Sabtu (15/11). Kegiatan yang berlangsung di kediaman Kepala Kalurahan Terong, Bapak Sugiyono, S.E., ini mendapat sambutan hangat dari warga. Sosialisasi ini merupakan bagian dari program Pemberdayaan Masyarakat Tani Hutan Berbasis Agroforestri Berkelanjutan, yang berfokus pada penguatan kapasitas petani dalam pengelolaan sumber daya alam.
Pendampingan Teknis oleh Akademisi dan Mahasiswa
Kegiatan ini menghadirkan Ibu Nur Ainun Harlin Jennie Pulungan, S.Si., M.Sc., Ph.D. dari Fakultas Pertanian selaku ketua program, serta Dr. Wahyu Wardhana, S.Hut., M.Sc. dari Fakultas Kehutanan UGM sebagai narasumber teknis. Sosialisasi ini turut melibatkan komunitas mahasiswa Thermogen, yang memberikan pendampingan praktik dan demonstrasi penggunaan mesin pirolisis kepada peserta.
Dalam pemaparannya, Ibu Ainun menekankan bahwa kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat tani hutan sekaligus membuka wawasan mengenai potensi ekonomi hutan rakyat ke depan. “Sisa limbah hutan yang berlimpah sebenarnya dapat diolah menjadi produk bernilai, salah satunya arang (biochar). Biochar ini dapat dikembalikan ke lahan hutan untuk meningkatkan potensi pertumbuhan pohon serta tanaman sela di sekitarnya. Melalui teknologi berbasis rotary drum pyrolysis, kami dari UGM ingin menghadirkan solusi konkret bagi KTH untuk keberlanjutan produktivitas lahan,” tutur beliau.
Petani Jasema Antusias Pelajari Proses Pirolisis Biochar
Masyarakat dan anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Jasema menunjukkan minat yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Mereka mengikuti penjelasan mengenai cara kerja mesin pirolisis, tahapan produksi biochar, serta manfaat biochar dalam memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan retensi air, dan mendukung produktivitas lahan pertanian. Demonstrasi penggunaan mesin menjadi salah satu sesi paling menarik, karena warga dapat melihat langsung bagaimana limbah biomassa kayu yang semula tidak bernilai dapat diolah menjadi produk bermanfaat secara ekonomi dan ekologis.
Pemanfaatan Biochar untuk Pertanian dan Lingkungan Berkelanjutan
Antusiasme peserta mencerminkan kesiapan masyarakat untuk mengembangkan pemanfaatan biochar sebagai solusi bagi pertanian dan lingkungan. Melalui kegiatan ini, warga didorong untuk mengoptimalkan penggunaan mesin pirolisis secara mandiri sehingga pemanfaatan limbah biomassa dapat dilakukan secara lebih terstruktur, berkelanjutan, dan memberikan dampak jangka panjang bagi pengelolaan lingkungan di Kalurahan Terong. “Program ini sangat membantu kami. UGM selama ini dekat dengan masyarakat, dan kami berharap pendampingan serta pembelajaran seperti ini dapat terus berlanjut," tutur Ketua KTH Jasema, Bapak Sugiyono. Hal ini menggambarkan tingginya harapan masyarakat terhadap keberlanjutan program dan pendampingan teknis pada masa mendatang.
Kolaborasi Menuju Kemandirian Petani dan Pelestarian Lingkungan
Sebagai bagian dari sinergi antara masyarakat dan akademisi, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan kemandirian petani hutan dalam mengelola limbah biomassa sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di wilayah Dlingo. UGM dan KTH Jasema optimistis bahwa kolaborasi ini dapat terus berkembang menjadi model pemberdayaan yang mendukung praktik pertanian dan kehutanan berkelanjutan.
