Tontowi Ahmad, 'Pembantai' Pasangan Dunia dari PB Djarum

Traveler. Blogger. Mother. Badminton Lover.
Tulisan dari Titiw tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Mungkin itu jawaban dari sebuah doa.”
Itulah kalimat yang dilontarkan Tontowi Ahmad--peraih medali emas Olimpiade 2016 cabang bulu tangkis ganda campuran--ketika ia sudah hopeless dengan bulu tangkis. Lahir di Banyumas 18 Juli 1987, pria yang akrab disapa Owi tersebut pernah berada di titik ingin mundur saja dari olahraga ini.
Ia tidak merasa punya masa depan dengan bulu tangkis, namun sempat berdoa, “Jika memang masa depan saya di sini, mohon ditunjukkan jalannya.” Bagaikan jawaban dari atas, ia dihubungi untuk bergabung di klub bulu tangkis tersohor di Indonesia, Perkumpulan Bulu Tangkis Djarum (PB Djarum).
Sedikit mundur ke belakang, Owi kecil tidak langsung begitu saja jatuh cinta dengan bulu tangkis. Adalah ayah Owi yang bercita-cita memiliki anak yang menjadi pemain bulu tangkis dunia. Dari situ, ia ditempa ayahnya untuk mengikuti latihan dan segala pertandingan. Namun, makin dipaksa, Owi makin tidak mau untuk bermain bulu tangkis.
Ayahnya tidak kurang akal, dari membelikan Owi video game jika menang pertandingan, hingga menyelipkan uang di net, semua ia lakukan. Hasil bersih keras sang ayah membuahkan hasil. Owi perlahan mulai menyenangi permainan menepok bulu angsa tersebut.
Owi adalah satu dari atlet bulu tangkis favorit saya di Indonesia. Bersama dengan Liliyana Natsir alias Butet, mereka merupakan ganda campuran terbaik yang kita miliki. Bagaimana tidak, rangkaian gelar juara mereka raih.
Sea Games, Indonesia Open, hattrick All England 3x berturut-turut di tahun 2012-2014, hingga puncak prestasi untuk para atlet, yaitu medali emas Olimpiade 2016 di Rio Janeiro, Brazil. Itu hanya segelintir “kegilaan” mereka di lapangan, yang jika saya sebut satu-satu artikel ini berubah jadi Wikipedia prestasi Owi-Butet.
Berasal dari klub yang sama, yakni PB Djarum, Owi bersama Butet menyumbangkan banyak gelar untuk Indonesia, dan juga memberikan kebanggan pada PB Djarum yang diresmikan pada tahun 1974. Sedikit curhat mengenai PB Djarum, saya sempat berkunjung ke GOR Jati PB Djarum di Kudus yang diresmikan tahun 2006.
Pertama kali saya menginjakkan kaki di sana, terlihat deretan lapangan hijau yang apik, kamar atlet yang layak, kantin yang full dengan makanan bergizi, hingga deretan pelatih yang berkualitas.
Hall of Fame bersinar dengan foto-foto atlet yang mengukirkan prestasi. Tak terhitung lagi atlet-atlet jebolan PB Djarum yang mengharumkan nama bangsa. Selain Owi dan Butet, ada juga Kevin Sanjaya, Mohammad Ahsan, Maria Kristin, dan juga beberapa atlet lawas seperti Hariyanto Arbi, Lim Swie King, Sigit Budiarto.
Kembali kepada Owi, PB Djarum sebagai klub yang membesarkannya harus diberi acungan jempol atas supportnya kepada para atlet. Owi yang sudah memiliki dua orang anak tersebut menuturkan bahwa dukungan PB Djarum tidak hanya saat dia baru masuk di klub itu saja. Sampai sekarang PB Djarum masih memberikan banyak sekali support materi, dan support di banyak bidang.
Dahulu, Owi sempat berkelakar dengan temannya “Kalo dipasangin sama Ci Butet, gue yakin bisa ngebantai semua pemain di sini.” Ketika betul-betul dipasangkan Owi terkejut karena ia pikir hanya untuk sementara, tapi ternyata untuk seterusnya.
Kata-kata Owi terwujud. Hampir semua pemain bulu tangkis ganda campuran papan atas pernah mereka kalahkan. Bahkan, ada yang dibantai hingga berkali-kali. Dengan teknik chop Butet di depan net yang sulit ditebak lawan, dan power smash Owi yang mematikan, mereka pernah berada di pucuk tertinggi seorang atlet, yaitu berada di peringkat satu dunia.
Owi dan Butet akan berpisah tahun ini setelah perjalanan panjang mereka selama bertahun-tahun. Selentingan terdengar, bahwa mereka akan bermain terakhir kali di kejuaraan Indonesia Master 2019. Butet gantung raket, sedangkan Owi akan meneruskan perjuangannya di lapangan dengan partner yang baru. Ah, sebagai pecinta bulu tangkis, saya sedikit haru biru mendengar kabar ini.
Namun, Owi akan terus melaju hingga tiba masanya juga ia gantung raket. Satu hal yang ingin ia teruskan kepada siapapun pengganti Butet di sisinya nanti adalah “Kerja keras, komitmen, dan jangan mau ngalah, itu yang selalu saya ingat tentang Ci Butet dan membawa kami menjadi juara.”
Sukses selalu Tontowi Ahmad. Asa yang muncul dari bulir-bulir keringat kalian masih ada dan akan selalu ada. Kami nantikan lagu Indonesia Raya berkumandang dan bendera merah putih berkibar di seluruh pelosok dunia. Semoga.
