Mental Anak Bisa Hancur Gara-Gara Toxic Parents

Mahasiswi Universitas Bina Nusantara
Konten dari Pengguna
25 Januari 2023 15:43
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari tiva adinda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi toxic parents. Foto: Hananeko_Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi toxic parents. Foto: Hananeko_Studio/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Setiap anak berhak mendapatkan kebahagiaan dan kasih sayang dari keluarganya sejak lahir. Namun, sangat disayangkan banyak anak yang tumbuh dengan orang tua yang kasar, destruktif hingga mampu meracuni psikis dan cara berpikir anak. Orang tua yang seperti itu di dalam bahasa psikologis disebut toxic parents.
ADVERTISEMENT
Toxic parents didefinisikan sebagai orang tua yang salah dalam mengasuh anak, orang tua yang kasar terhadap anak, tidak dewasa dan keterbelakangan mental dalam membesarkan anak.
Toxic parents tidak memberikan nilai positif, rasa aman, cinta dan kasih sayang kepada anaknya, sehingga anak tersebut tidak dapat tumbuh dalam keluarga yang hangat. Toxic parents seringkali disebut “playing victim”, karena seolah-olah mereka yang paling terbaik di dalam keluarga atau paling bahagia di keluarganya.
Masing-masing orang tua mempunyai pola asuh tersendiri agar sang anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Namun tanpa disadari beberapa pola asuh dapat menjurus ke pola asuh toxic parents. Pola asuh yang seperti ini harus dihindari karena dapat berdampak negatif terhadap psikologis dan mental anak. Selain pola asuh, toxic parents juga selalu menekankan hukuman fisik pada anaknya jika melakukan suatu kesalahan. Ada pula orang tua yang menghancurkan mental anaknya dengan perkataan kasar yang perlahan membunuh semangat anak. Hal tersebut lebih berbahaya karena tidak terlihat namun menyakitkan.
ADVERTISEMENT
Apabila anak tidak mengikuti peraturan dan kepercayaan orang tua, toxic parents biasanya akan memberikan hukuman atau bahkan mengurangi rasa cinta dan kasih sayang kepada sang anak dan tidak peduli seburuk apa pun posisi anak tersebut. Pada akhirnya, anak tersebut terpaksa mengikuti peraturannya karena sang anak tidak ingin menjadi pengkhianat keluarga karena tidak patuh. Hal tersebut yang membuat anak sangat tertekan dan mempengaruhi faktor psikologis dan kesehatan mental anak.
Kesehatan mental seringkali menjadi masalah utama di kalangan anak remaja. Banyak masalah terkait stres, depresi dan gangguan bipolar menjadi lebih umum di kalangan remaja. Bahkan, banyak anak remaja sampai bunuh diri karena orang tua tidak tahu bahwa anaknya mengalami gangguan mental. Oleh karena itu, penting sekali bagi orang tua untuk mengenali masalah psikologis anak sejak dini.
ADVERTISEMENT
Orang tua harus mengerti faktor-faktor yang mempengaruhi mental anak seperti pendidikan, lingkungan, perhatian orang tua, cara berkomunikasi dan cara memberi kasih sayang terhadap anak. Jika dari kecil anak tersebut sudah dibiarkan mempunyai gangguan mental, maka di fase remaja mereka akan memiliki gangguan mental dan jangan sampai anak tersebut memiliki trauma keluarga. Masalah keluarga membuat anak menjadi tertutup terhadap siapa pun, bahkan dengan orang tua sendiri.
Menurut Dr. Ajeng Indri H, S.Psi, M.Psi sebagai psikolog anak dan remaja di RS Hermina Galaxy, toxic parent biasanya muncul sebagai siklus yang berulang. Orang tua yang melakukan perilaku toxic terhadap anaknya, mungkin sebenarnya pernah menjadi korban toxic parents di masa lalunya. Pengalaman tersebut pada akhirnya menumpuk dan cara berpikir mereka, sehingga secara tidak sadar mereka meneruskannya di masa depan.
ADVERTISEMENT
Adapun kebiasaan toxic parents yang sering dilakukan pada anak, antara lain:

1. Memiliki ekspektasi berlebihan terhadap anak

Ketika anak memiliki impian dan harapan, terkadang orang tua menghancurkannya dengan harapan yang berlebihan. Misalnya, jika seorang anak ingin menjadi seorang guru, ayah dan ibunya memberikan komentar-komentar negatif. Mereka tidak mendukung keinginan anaknya dan justru membimbing anaknya sesuai dengan keinginan orang tua. Hal ini membuat anak merasa stres dan tertekan.

2. Selalu menyalahkan anak

Jangan selalu menyalahkan anak karena hal ini akan menyebabkan anak kurang percaya diri dan akan bingung untuk mengutarakan pendapatnya saat dewasa nanti.

3. Mengumbar keburukan anak

Seperti halnya manusia, anak-anak memiliki perasaan yang perlu dilindungi. Jagalah harga dirinya di depan banyak orang, jangan mudah menyerah hanya karena melihat anak lain lebih mampu dari anakmu sendiri. Membicarakan hal-hal buruk kepada anak, apalagi mendengarnya langsung, pasti akan cukup melukai hatinya hingga melukai kepercayaan dirinya juga.
ADVERTISEMENT

4. Memiliki sifat egois dan kurang empati

Sebagai orang tua, selalu mengutamakan diri sendiri tanpa mengetahui apa kebutuhan dan perasaan anak. Orang tua dengan kriteria ini biasanya mengukur segala sesuatu sesuai dengan cara yang ingin mereka kendalikan. Atur semua kegiatan anak dari A sampai Z sesuai keinginan tanpa bertanya atau meminta anak berkompromi. Tentu saja, ini adalah tindakan yang salah, karena orang tua seperti itu tanpa sadar telah mengacaukan hati dan psikologi anak.
Toxic parents memiliki dampak negatif yang sangat berpengaruh pada kesehatan mental anak dan tumbuh kembang anak. Selain memiliki rasa kurang percaya diri, anak tersebut juga sering menyalahkan dirinya sendiri. Perilaku tersebut akan terbawa hingga ia dewasa bahkan sampai ia memiliki anak.
Secara umum, dampak negatif anak terhadap toxic parents adalah mereka tumbuh menjadi pribadi yang memiliki citra diri yang buruk, merasa tidak berharga, merasa kesepian tanpa teman, selalu memiliki rasa bersalah, stress, mudah marah dan gangguan mental lainnya.
Ilustrasi anak dengan orang tua bercerai. Foto: Prostock-studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak dengan orang tua bercerai. Foto: Prostock-studio/Shutterstock
Adapun hal yang orang tua bisa lakukan untuk menghindari terjadinya toxic parents dan menciptakan komunikasi yang berkesan, antara lain:
ADVERTISEMENT

1. Anggap anak sebagai teman

Berikan perhatian dan kasih sayang saat dia menceritakan kisahnya, tanggapi sebagai sahabat, bukan sebagai orang tua yang mengurusi kehidupan anaknya.

2. Puji keberhasilan kecil yang telah dilakukan anak

Hal ini membuat anak merasa dihargai dan dapat membanggakan keluarganya, juga dapat meningkatkan rasa percaya dirinya.

3. Yakinkan pada anak kalau kita bisa diandalkan

Tidak hanya dengan kata-kata tentunya, tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan. Marilah kita menjadi orang tua yang dapat dipercaya dan selalu ada untuk anak-anak ketika mereka membutuhkan bimbingan, dorongan atau hanya pujian.

4. Memberi ungkapan dengan perbuatan

Terkadang komunikasi tidak terjadi melalui kata-kata, namun bukan berarti tidak ada komunikasi. Cinta dapat diekspresikan dengan menyentuh, memeluk, membelai, menatap dengan penuh kasih atau berciuman. Hal ini memungkinkan anak merasa dicintai dan diperhatikan.
Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk memberikan yang terbaik bagi anak dan terus mencoba untuk selalu ada di sisinya. Mari kita lihat bahwa setiap anak itu istimewa dengan keunikan yang mereka miliki di dalam dirinya masing-masing serta mencintai anak tanpa syarat karena hakikatnya tuhan tidak pernah menciptakan produk yang gagal.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020