Konten dari Pengguna

Potret Buram Manajemen Pendakian Rinjani dan Kritik Degradasi Lingkungan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tiyas Ayu Karyasih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Monyet liar di Puncak Rinjani (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Monyet liar di Puncak Rinjani (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Sejak Sabtu, 21 Juni 2025, dunia maya terus memberitakan polemik jatuhnya seorang Turis asal Brazil, Juliana Marins di Gunung Vulkanik tertinggi kedua di Indonesia, Gunung Rinjani. Insiden hilangnya nyawa Juliana Marins menimbulkan ribuan gelombang respon pedas dari Netizen Brazil dan terus membanjiri setiap pemberitaan kasus tersebut, bahkan sampai ke akun Instagram Presiden Prabowo Subianto dengan mempertanyakan proses evakuasi serta pertanggungjawaban terhadap Juliana Marins yang jatuh di jalur pendakian Letter E yang terkenal dengan kondisi yang curam.

Protes Netizen Brazil di akun Instagram resmi Prabowo (Sumber: @Prabowo, 2025)
zoom-in-whitePerbesar
Protes Netizen Brazil di akun Instagram resmi Prabowo (Sumber: @Prabowo, 2025)

Sampai pada Jumat, 27 Juni 2025 dengan keluarnya hasil autopsi kedua yang mengungkap, bahwa Juliana Marins sempat bertahan selama 32 jam setelah jatuh pertama melalui proses analisis larva yang ditemukan di kepala Juliana dan disimpulkan, bahwa Senin, 22 Juni 2025 WITA sekitar pukul 12.00 siang Juliana sudah dinyatakan meninggal dunia akibat pendarahan internal cidera organ dalam dan trauma berat yang konsisten dengan benturan keras menurut laporan Correio Braziliense dan ahli forensik dari Kepolisian Sipil Brazil, Reginaldo Franklin (tempo.co, 2025).

Hilangnya nyawa Juliana Marins tersebut bukan hanya insiden biasa, justru telah menjadi potret buram terhadap proses evakuasi yang lemah, sistem keselamatan yang kurang dan buruknya tata kelola wisata alam di salah satu destinasi yang memiliki medan dan karakteristik gunung yang curam dan cukup ekstrim di Indonesia ini. Kematian Juliana seolah membuka polemik lama tentang pengelolaan sistem destinasi wisata alam di Indonesia yang masih terjebak dalam tatanan yang usang, yaitu lebih mementingan kuantitas pengunjung dari pada keselematan pengunjungnya dan mengesampingkan efek adanya degradasi lingkungan.

Sebanyak 11.759 pendaki terdata di sistem pendakian dan portal resmi Rinjani National Park pada bulan Juni 2025 (Rinjaninationalpark.id, 2025) dan terdapat sebanyak 180 kasus kecelakaan pendakian terhitung sejak tahun 2021 sampai Juni 2024 (Lombokpost.jawapos.com, 2025). Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebanyak 76 kasus, karena rentang sebelumnya sejak 2016 sampai 2020 terdapat sebanyak 104 kasus pendaki yang mengalami kecelakaan di Gunung Rinjani (Rinjaninationalpark.id, 2025). Angka kecelakaan tersebut tidak hanya sekedar data statistik, namun sebagai potret bukti gagalnya sistem pengelolaan destinasi wisata alam di Indonesia.

Data Statistik Pendaki Gunung Rinjani Juni 2025 (Sumber: Rinjaninationalpark.id, 2025)

Gunung Rinjani di sini merupakan entitas alam yang tidak meminta untuk didaki, juga memiliki hak sebagai ekosistem yang tidak semestinya terusik, dan bukan juga objek properti pariwisata yang terus-menerus dimanfaatkan untuk menarik pengunjung tanpa mempertimbangkan aspek kerusakan lingkungan.

Dengan kontrol manajemen yang masih setengah hati, serta manajemen yang tidak tegas dalam membatasi jumlah pengunjung dalam melalukan aktivitas pendakian, hal tersebut menjadikan Gunung Rinjani mengalami degradasi lingkungan, serta kurang mengikatnya syarat, prosedur dan minimnya alat pendakian yang sesuai standar, menyebabkan membludaknya jumlah pendaki yang otomatis berbanding lurus dengan meningkatnya angka kecelakaan tiap tahun di Rinjani.

Dalam jurnal kajian kerusakan lingkungan akibat perilaku pembuangan sampah serta pengaruhnya terhadap kelestarian fungsi Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani oleh Mifwan et al, 2018 menjelaskan bahwa sampah masih menjadi faktor utama kerusakan dan degradasi lingkungan di Rinjani, yang lagi-lagi berbanding lurus dengan peningkatan aktivitas wisata serta pendaki pada setiap tahunnya.

Para pendaki tersebut masih minim kesadaran terhadap cara dan kebiasaan dalam membuang serta mengelola sampah di Kawasan pendakian, sehingga efek yang ditimbulkan tidak hanya kerusakan serta degradasi lingkungan, namun ekosistem alam dan habitat hewan juga turut terganggu, seperti harusnya habitat monyet liar di Kawasan Rinjani tidak ditemui di Kawasan puncak Gunung Rinjani, karena tidak adanya pohon serta angin yang kencang, namun karena sampah yang tidak dikelola dan para pendaki membawanya sampai ke puncak, hewan-hewan tersebut mencium aroma sisa makanan dan akhirnya ikut berada ke puncak Gunung.

Monyet liar di Puncak Rinjani (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Para pendaki yang melakukan aktivitas pendakian banyak yang belum melakukan persiapan, atau bahkan menjadikan Gunung Rinjani sebagai objek pendakian pertamanya, karena tergiur dengan keindahan alam, sehingga menjadikan Gunung Rinjani sebagai objek selfie, trend destinasi checklist yang nantinya akan diposting di akun media sosial, tanpa mempertimbangkan prosedur, kesiapan mental dan fisik tentunya. Padahal menurut Mu & Nepal dalam Rahmi et al, 2021 menjelaskan, bahwa aktivitas pendakian yang berat termasuk Gunung Rinjani masuk dalam urutan ke-3 sebagai gunung tertinggi di Indonesia dan urutan ke-2 sebagai Gunung vulkanik tertinggi, membutuhkan pengalaman, komitmen, serta skill yang tinggi dalam melakukan aktivitas pendakian dan risiko objektif, juga persepsi risiko yang cenderung lebih tinggi.

Maka jelas, kembali lagi pihak pengelola yang masih focus dengan kuantitas jumlah pendaki, dan seolah menjadikan destinasi alam khususnya gunung sebagai sebuah komersialisasi alam dan pendakian, sehingga abai dengan syarat, prosedur, alat, hingga fisik para pendaki demi mengejar keuntungan semata. Sejalan dengan jurnal A global review of elasmobranch tourism activities, management and risk menjelaskan, bahwa jika dikelola dengan buruk, potensi manfaat ekonomi dan sosial dari wisata, dalam jurnal tersebut Elasmobranch, justru dapat menimbulkan konsekuensi ekologis (Teleah et al, 2020).

Sama halnya jika Rinjani tidak kelola dengan manajemen yang baik dengan meregulasikan kuota pendakian harian dibatasi atau dikurangi dari jumlah sebelumnya dan diperketat, pemandu atau guide yang sudah bersertifikasi, peningkatan pos-pos sebagai tempat untuk evakuasi dan teknologi pemantauan berupa cctv atau pelacakan yang sesuai standar manajemen tourism.

Hal ini diperkuat dengan jurnal The sublime attraction of active vulcanoes: an exploration of tourists’ experiences during a longdistance hiking route in Iceland yang menjelaskan, bahwa pendaki mempercayakan keselamatan dirinya kepada pemandu gunung, pengelola taman nasional, dan manajemen pendaki dan kelompoknya (Þórhildur et al, 2019), dan yang terakhir dijerat dengan denda yang tegas dan berat bagi pelanggar, pendaki illegal atau pendaki yang tidak sesuai dengan prosedur pendakian.

Saya sendiri sebagai seorang yang sering merasakan dunia pendakian dan juga pernah menjejakan kaki sampai ke Puncak Rinjani, kecewa melihat pemberitaan di beberapa media yang juga bersumber dari akun Instagram resmi Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, yang menginformasikan jalur pendakian Rinjani mulai dipasangin tangga khusus di titik-titik sulit atau curam (@btn_gn_rinjani, 2025). Dengan adanya pemasangan tangga diharapkan pengelola mampu menjadi solusi terhadap banyaknya kasus kecelakaan di Rinjani.

Proses pemasangan tangga khusus di jalur pendakian Rinjani (Sumber: @btn_gn_rinjani, 2025)

Miris ketika seharusnya pihak pengelola mampu meregulasi ulang dengan memperketat prosedur pendakian, mengurangi kuota pendaki harian, membuat kebijakan atau pelatihan sertifikasi pemandu atau guide. Sebaliknya, pihak pengelola justru mempermudah dengan pemasangan tangga yang artinya juga merubah alam, merubah jalur pendakian menjadi tidak alamiah lagi, sehingga diprediksikan akan mengundang kuantitas pendaki yang lebih banyak dan pada akhirnya semakin menggangu serta merusak ekosistem alam Rinjani.