Konten dari Pengguna

Artificial Intelligence vs Peran Manusia

Tofa Waluyo Alifya

Tofa Waluyo Alifya

Dosen Departemen Administrasi Bisnis FISIP UNPAD

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tofa Waluyo Alifya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalimat yang sering muncul pada khalayak masyrakat bahwa “AI akan menggantikan peran manusia dalam pekerjaannya”.

Kalimat tersebut mungkin menjadi salah satu kekhawatiran ditengah pesatnya pekembangan kecerdasan buatan atau lebih dikenal sebagai “ Artificial Intelligence”. AI berkembang dengan pesat, segala kegiatan hampir dapat digunakan oleh AI, mulai dari membuat desain, menganalisis data, menyusun kode program, sampai membantu mengambil beberapa keputusan penggunanya. Tidak heran jika mahasiswa mulai bertanya apakah pekerjaan yang mereka impikan di masa depan akan tetapa ada ketika mereka lulus. Karyawan mulai merasa khawatir apakah pekerjaannya masih tetap bisa ia kerjakan sendiri tanpa bantua AI. Bahkan perusahaan pun menghadapi dilema, apakah AI harus diadopsi tanpa menghilangkan peran manusia?, walupun di beberapa kasus seperti amazon yang sudah menerapkan robot/AI sebagai karyawan, mereka tetap bertahan dengan pekerja manusia.

Tidak sesederhana “AI versus manusia”, persoalan ini justru lebih relevan soal bagaimana manusia menggunakan AI untuk berkerja lebih baik?.

Gambar 1: AI merupakan alat yang digunakan oleh manusia sebagai sarana untuk mempermudah pekerjaan. Sumber: pinterest

AI adalah tools, bukan sebagai pengambil keputusan utama

Dalam perpektif sumber daya manusia, teknologi pada dasarnya merupakan enabler yang mengubah cara kerja administratif menjadi proses yang bernilai tambah bagi organisasi/perusahaan. Ketika teknologi baru hadir, perkerjaan memang mengalami perubahan budaya kerja. Beberapa pekerjaan akan berkurang, namun sebagian lainnya berubah bentuk dan pada saat yang sama muncul pekerjaan-pekerjaan baru.

Oleh karena itu, mengatakan jika AI tidak akan pernah menggantikan perkerjaan manusia juga kurang tepat. Pada jenis pekerjaan tertentu yang rutin, berulang, dan clerical, jenis pekerjaan ini memang perlu otomatisasi dan berpotensi memgurangi kebutuhan terhadap tenaga manusia. Namun, dari sudut pandang yang luas, AI tidak serta-merta menggantikan manusia tapi ia justru mengubah cara manusia itu sendiri bekerja.

Nah, disinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Seorang pekerja yang mampu menggunakan AI untuk melakukan pekerjaan administratifnya, dapat menghemat waktu yang sebelumnya habis untuk pekerjaan administratifnya-rutin tersebut. Waktu tersebut kemudian dapat digunakan untuk pekerjaan yang lebih membutuhkan analisis , kreativitas, critical thingking, negosiasi, dan decision making sekalipun.

Pada akhirnya output yang dihasilkan pekerja bukan seberapa banyak pekerjaan yang ia lakukan, tetapi seberapa baik ia menggunakan AI (teknologi) sebagai alat bantu yang dapat menghasilkan keputusan dan pekerjaan yang lebih bernilai. Sehingga yang ingin disampaikan pada artikel ini bahwa perusahaan mulai membutuhkan orang yang mampu bekerja lebih efektif dengan bantuan AI (teknologi).

Ketidakmampuan beradaptasi

Sejarah perkembangan teknologi telah mengajarkan kita bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dihindari. Ketika komputer mulai digunakan secara luas, banyak pekerjaan yang berubah. Ketika internet berkembang, cara komunikasi perusahaan pun dalam melakukan bisnisnya berubah. Begitu pula ketika terdapat otomatisasi mesin pada industri, sejumlah pekerjaan juga ikut berubah dan pekerjaan manual berkurang. Namun, dari realitas tersebut ada satu yang tidak berubah, yaitu: manusia tidak berhenti bekerja. Yang berubang adalah jenis pekerjaannya, kompetensi yang diperlukan, dan cara pekerjaan tersbut dikerjakan.

AI pun kemungkinan besar bekerja dengan pola yang serupa. Ancaman yang datang bukan dari AI tersebut, melainkan dari ketidakmampuan manusia untuk beradaptasi terhadap perubahan. Bayangkan terdapat dua orang dengan kompetensi yang sama. Orang pertama membutuhkan tiga jam untuk menyusun laporan karena prosesnya dilakukan secara manual, sementara orang kedua memggunakan AI untuk membantu mengolah data data dan membuat kerangka awal , kemudian memerikasa pekerjaannya, memperbaiki, menganalisis, dan menyempurnakan hasilnya dalam waktu kurang dari 2 jam. Dalam kondisi tersebut tentu perusahaan/organisasi akan melihat perbedaan produktivitas.

Namun, argumentasi ini tidak boleh digunakan sebagai pembenaran untuk meyalahkan pekerja yang kehilangan pekerjaan. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar menggunakan AI (teknologi). Organisasi/Perusahaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan proses transformasi teknologi dan memberikan pengetahuan kepada pekerjanya agar kesenjangan kompetensi tidak semakin lebar.

Gambar 2. Ilustrasi peran artificial intelligence sebagai alat untuk mengoptimalkan kemampuan manusia. Sumber: Generative AI, dibuat menggunakan ChatGPT/OpenAI, 2026.

Kesalahan dalam menggunakan AI

Terdapat dua sikap ekstrem yang perlu dihindari dalam penggunaan AI:

1. Menolak sepenuhnya AI

Melihat AI sebagai ancaman terhadap integritas pekerjaan atau bahkan terhadap martabat manusia, kekhawatiran tersebut dapat dipahami. Namun, menolak teknologi tanpa memahami manfaat dan resikonya juga bukan solusi. Pada dunia kerja, sikap tersebut justru dapat membuat seseorang kehilangan daya saing.

2. Terlalu bergantung kepada AI.

AI dapat membantu membuat tulisan, menganalisis data, menghasilkan ide, atau memberikan rekomendasi. Tetapi AI tidak selalu memahami konteks organisasi, budaya perusahaan, kepentingan pemangku kepentingan, maupun konsekuensi etis dari sebuah keputusan. Terlalu bergantung pada AI ini justru hal yang berbahaya, menggunakan AI bukan berarti menyerahkan pekerjaan sepenuhnya kepada AI. Prinsip sederhananya adalah AI membantu menghasilkan pekerjaan, sementara manusia tetap bertanggung jawab atas hasil pekerjaan tersebut.

Masa depan SDM terkait AI

Organisasi/Perusahaan perlu mengubah paradigma pengembangan kompetensinya. Perusahaan selama ini sering berfokus pada technical skills, pengalaman kerja, dan kompetensi konvensional. Kedepannya kemampuan menggunakan AI ini perlu menjadi bagian dari kompetensi kerja, dengan catatan bukan satu-satunya.

Karyawan tetap membutuhkan critical thinking, emphaty. Integrity, dan kompetensi lainnya baik itu soft competency maupun technical competency.

Semakin canggih AI, semakin penting pula kualitas manusia yang menggunakannya.

Di sinilah peran penting institusi pendidikan. Mahasiswa tidak cukup hanya diajarkan bagaimana menggunakan berbagai jenis aplikasi AI, mereka juga harus diajarkan bagaimana bertanya kepada AI, menverifikasi informasi, membaca data yang dihasilkan AI, mengkritisi hasil, memahami etika, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan manusia itui sendiri. Kemampuan prompting memang penting, tetapi kemampuan berpikir jauh lebih penting.

Menjadi “AI-Enabled Human

Akhirnya, kita perlu berhenti melihat hubungan AI dengan manusia sebagai pertarungan zero-sum, ketika AI menang maka manusia kalah. Paradigma tersebut terlalu sederhana, pertanyaan yang lebih pas adalah bagaimana menciptakan manusia yang AI enabled-human yang menggunakan AI untuk memperluas kemampuan dirinya, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikirnya.

Bagi mahasiswa, belajar AI bukan berarti menggunakannya untuk mengerjakan seluruh tugas. Gunakan AI sebagai sparring partner, untuk mencari alternatif gagasan, menguji argumentasi, menemukan kelemahan sebuah tulisan, atau membantu memahami konsep-konsep yang sulit. Bagi pekerja, gunakan AI untuk mengurangi pekerjaan rutin sehingga energi dapat dialihkan kepada pekerjaan yang membutuhkan penalaran, kreativitas, relasi, dan keputusan strategis. Bagi perusahaan, jangan menjadikan AI sekadar alat efisiensi biaya. Jadikan AI sebagai instrumen untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengembangkan kapasitas manusianya.

AI mungkin dapat menulis lebih cepat, menghitung lebih cepat, dan mengolah informasi lebih cepat. Tetapi kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pekerjaan. Manusia tetap dibutuhkan untuk memahami konteks, mempertimbangkan nilai, membangun kepercayaan, menunjukkan empati, mengambil tanggung jawab, dan menentukan keputusan yang benar.