Bendung Gerak Serayu: Pilar Ketahanan Pangan yang Mengancam Napas Ekologi

Konsultan Teknik dan lingkungan yang sedang menempuh program magister ilmu lingkungan universitas jenderal soedirman
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Tofan Fauzi Sulistiono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bendung Gerak Serayu (BGS) yang terletak di Kabupaten Banyumas bukan sekadar bangunan beton pemecah arus, tetapi jantung bagi denyut nadi pertanian di wilayah selatan Jawa Tengah. Diresmikan pada tahun 1997, infrastruktur ini telah menjadi tulang punggung bagi ketahanan pangan dengan mengairi sawah seluas 20.795 hektare di tiga kabupaten: Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Namun, di balik keberhasilan ekonomi tersebut, terdapat dinamika ekosistem yang saat ini berada pada titik kritis dan membutuhkan perhatian serius media serta pemangku kebijakan.
Secara fungsional, BGS adalah simbol kemajuan teknologi pengairan. Dengan sistem pintu air otomatis, bendung ini mampu mengubah pola tanam petani dari yang semula mengandalkan tadah hujan menjadi pola panen tiga kali setahun (padi-padi-palawija). Keberadaannya secara langsung mendukung target produksi Gabah Kering Giling (GKG) Provinsi Jawa Tengah yang sangat vital bagi stabilitas nasional. Akan tetapi, kemegahan ini membawa dampak lingkungan yang tidak bisa diabaikan.

Degradasi habitat akuatik menjadi persoalan utama yang menghantui ekosistem eksisting BGS. Keberadaan bendungan ini secara fisik telah menghalangi jalur ruaya (migrasi) ikan dari hulu ke hilir maupun sebaliknya. Hal ini sangat merugikan jenis ikan migratori asli Sungai Serayu, terutama ikan sidat (Anguilla spp.). Ikan sidat dalam stadia elver yang mencoba bermigrasi ke hulu seringkali tertahan di bawah bangunan bendungan. Ironisnya, kondisi ini justru dimanfaatkan oleh nelayan untuk melakukan penangkapan benih sidat secara besar-besaran di titik hambatan tersebut, yang jika terus berlanjut, akan memutus rantai populasi sidat secara permanen di DAS Serayu.
Selain ancaman terhadap biodiversitas, ekosistem buatan ini menunjukkan kelemahannya saat berhadapan dengan fenomena alam yang ekstrem. Meskipun dilengkapi teknologi canggih, BGS terbukti tidak berdaya menghadapi banjir besar. Saat debit air meningkat drastis di musim hujan, bendungan seolah kehilangan fungsinya, air tetap meluap dan menggenangi pemukiman serta lahan pertanian di sekitarnya. Hal ini diperparah oleh kondisi hulu DAS Serayu yang terus mengalami penurunan luas hutan dan peningkatan lahan pertanian yang tidak terkendali, sehingga memicu sedimentasi tinggi yang mengancam umur teknis infrastruktur pengairan.
Saya berpendapat bahwa pengelolaan BGS saat ini masih bersifat "instrumental"—hanya memandang sungai sebagai wadah penyedia air irigasi dan belum mengadopsi pendekatan "ekohidrolik" yang menyeluruh. Kita tidak boleh terjebak dalam dikotomi antara perut manusia dan kelestarian biota sungai. Jika migrasi sidat terhenti dan sedimentasi terus dibiarkan akibat rusaknya hulu, maka dalam jangka panjang, BGS bukan lagi menjadi solusi, melainkan beban ekologis yang mahal biaya perawatannya.
Sinergi antara pemangku kebijakan, nelayan, dan masyarakat petani sangat mendesak untuk diwujudkan agar keseimbangan ekosistem terjaga. Harus ada regulasi ketat mengenai penangkapan benih di bawah bendungan serta pembangunan fasilitas jalur ikan (fishway) agar konektivitas biologis sungai pulih kembali.
Bendung Gerak Serayu bagi Sungai Serayu ibarat sebuah bendungan di pembuluh darah utama. Ia memang berhasil mengalihkan energi untuk memberi makan organ penting (pertanian), namun di saat yang sama, ia menghentikan sirkulasi makhluk hidup (biota sungai) yang seharusnya mengalir bebas dari jantung hulu hingga ke muara hilir. Tanpa pemulihan ekosistem, jantung ini suatu saat akan mengalami "penyumbatan" total yang merugikan kita semua.
Salam Lestari .
Tofan Fauzi Sulistiono (P2A025005)
Magister Ilmu Lingkungan
Universitas Jenderal Soediman
