Konten dari Pengguna

Ketahanan Pangan

Tofan Fauzi Sulistiono

Tofan Fauzi Sulistiono

Konsultan Teknik dan lingkungan yang sedang menempuh program magister ilmu lingkungan universitas jenderal soedirman

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tofan Fauzi Sulistiono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peningkatan Produktivitas Tanaman Pangan : 'Memahami Valuasi Sumber Daya Alam'

Penulis : Tofan Fauzi dan Rahab

kondisi lahan tinggi sebelum menjadi sawah, sumber : foto sendiri
zoom-in-whitePerbesar
kondisi lahan tinggi sebelum menjadi sawah, sumber : foto sendiri

Indonesia dijuluki sebagai negara agraris karena mayoritas penduduknya bergantung hidup pada sektor pertanian yang didukung oleh lahan pertanian yang luas, subur serta iklim tropis yang sangat ideal untuk bercocok tanam berbagai komoditas pangan.

Seiring berjalanya waktu dan perkembangan pembangunan konstruksi bangunan gedung yang semakin masif pada wilayah yang bukan peruntukanya seperti lahan pertanian menjadi area pemukiman padat penduduk. Semakin berkurangnya lahan pertanian tersebut menyebabkan terjadinya penurunan produktivitas pangan terutama sektor pertanian pada komoditas padi seperti di Kabupaten Cilacap. Hal ini akan mengancam kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.

Sehubungan dengan hal tersebut dan dalam rangka mewujudkan kemandirian, kedaulatan dan ketahanan pangan nasional, maka upaya untuk memperluas baku lahan sawah menjadi sangat penting dengan memanfaatkan dan mengelola sumber daya lahan dan air yang ada serta pemberdayaaan petani dalam meningkatkan kesejahteraan petani pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Kedaulatan pangan harus dimulai dari swasembada pangan yang secara bertahap diikuti dengan peningkatan nilai tambah usaha pertanian yang secara luas untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Dalam rangka mendukung swasembada pangan di Desa Pesanggrahan Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap telah berhasil meningkatan produksi padi melalui kegiatan cetak sawah pada lokasi lahan yang semula tidak produktif untuk dilakukan penanaman padi karena letaknya terlalu tinggi dan sulit dilakukan pengairan. Cetak sawah dengan menggali tanah hingga ketinggian sama dengan sawah yang disekitarnya supaya lahan menjadi rata dapat teraliri air irigasi sawah sebelumnya. Tanah bekas galian lahan pertanian tersebut merupakan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai komoditas tanah urug yang memiliki nilai ekomoni tinggi tentunya dengan izin yang telah ada.

Dengan memahami valuasi sumberdaya alam tersebut, kini Desa Pesanggarahan telah memiliki lahan baku pertanian produktif yang semakin luas untuk digunakan bercocok tanam komoditas tanaman padi, selain itu pada saat pembuatan sawah tersebut juga menghasilkan keuntungan dari hasil penjualan tanah urug hasil material galian yang tidak diperlukan pada area persawahan produktif.

Program Magister Ilmu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman