Whelmed: Kisah Anak Kosan yang Berjuang Antara Kuliah dan Kerja

Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang - Tangerang Selatan
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Tohirun Saudale tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banyak anak kosan yang datang dari suatu daerah dengan niat memperbaiki nasib dan meraih cita-cita, namun tidak sedikit yang harus berhenti karena keadaan atau bahkan karena takdir. Mereka bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan berkewajiban mengirimkan sebagian penghasilan untuk kebutuhan orang tua atau kebutuhan rumah lainnya. Situasi yang kompleks namun masih dapat diatasi ini sering menjadi bagian dari keseharian anak kosan, bahkan setiap bulan.
Memikirkan kebutuhan diri sendiri demi masa depan sekaligus memikirkan kebutuhan keluarga di rumah agar menjadi anak yang berbakti dan dianggap baik dalam keluarga adalah tantangan berat bagi anak kosan. Hal ini membuat istilah overwhelmed sering melekat dalam kehidupan mereka.
Kata "overwhelmed" berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti sedikit berbeda dengan "whelmed". Dalam penggunaan modern, istilah tersebut sering digunakan untuk menggambarkan perasaan yang berada di antara "underwhelmed" (tidak terkesan) dan "overwhelmed" (kewalahan). Dengan demikian, "whelmed" dapat diartikan sebagai perasaan yang cukup tertekan atau sibuk, tetapi tidak sampai benar-benar kewalahan.
Penting untuk diketahui bahwa banyak anak kosan yang terlalu fokus pada kesibukan hingga mengabaikan kesehatan mereka. Akibatnya, tidak sedikit cerita tentang bagaimana mereka gagal meraih apa yang diinginkan karena jatuh sakit.
Terlebih bagi anak kosan yang memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui program kelas karyawan atau pembelajaran campuran (blended e-learning). Perasaan overwhelmed bagi mereka sudah menjadi hal yang biasa—menghadapi deadline pekerjaan, atasan yang terkadang tidak menyenangkan, mengerjakan segudang tugas, menghadiri perkuliahan, dan sebagainya.
Rutinitas yang padat ini sering kali menjadi sumber overwhelmed bagi anak kosan. Namun, ini merupakan risiko yang telah mereka sadari sejak awal. Seperti yang diungkapkan Sutan Sjahrir dalam salah satu pepatah yang sering dikutip oleh para motivator terkenal:
Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan dimenangkan.
Pepatah tersebut mengajarkan bahwa untuk mencapai sesuatu yang berarti dalam hidup, kita harus berani mengambil risiko dan keluar dari zona nyaman. Pesan ini sangat relevan bagi anak kosan yang bekerja sambil menuntut ilmu demi memperbaiki kehidupan. Meskipun risiko sering kali membawa ketidakpastian, risiko juga membuka peluang untuk pertumbuhan dan pencapaian yang lebih besar.
Tantangan demi tantangan dapat dihadapi dengan terus memperbaiki diri, melalui langkah-langkah berikut:
Manajemen Waktu, membagi waktu antara kuliah, kerja, dan kehidupan pribadi sangat penting. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan untuk mendukung masa depan yang lebih baik. Kuliah memungkinkan peningkatan keterampilan dengan pengetahuan yang lebih luas, pekerjaan mendukung keuangan karena kehidupan perkuliahan membutuhkan biaya yang cukup besar, dan kehidupan pribadi mencakup keluarga, pasangan, atau pertemanan yang memberikan dukungan emosional.
Tekanan Finansial, mengatur kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliah dengan penghasilan terbatas menjadikan anak kosan pandai menyiasati pengeluaran. Pilihan kampus dengan biaya terjangkau menjadi pertimbangan utama bagi anak kosan yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Biaya kuliah di Universitas Pamulang, misalnya, setara dengan biaya membeli kopi kekinian sebanyak 3–5 kali, dengan biaya mulai dari 200 ribu rupiah per bulan.
Kesehatan Mental dan Fisik, multitasking sering dianggap mampu meningkatkan produktivitas, namun sebenarnya dapat membawa dampak negatif bagi kesehatan mental dan fisik. Dampaknya antara lain penurunan konsentrasi, gangguan tidur, dan risiko burnout. Oleh karena itu, menjaga kesehatan fisik dan mental menjadi hal yang sangat penting bagi anak kosan yang bekerja sambil kuliah.
Seperti pada penjelasan sebelumnya, momen kewalahan (whelmed) sering kali membuat seseorang kesulitan dalam menghadapi situasi tersebut.
Contohnya, Andi adalah anak kosan yang merantau ke Kota Jakarta. Ia bekerja sebagai staf operasional pada sebuah hotel berbintang lima di luar kota Jakarta. Pekerjaan Andi dapat dilakukan dari mana saja karena sifat pekerjaannya yang berbasis remote work. Namun, beberapa kali dalam sebulan ia harus melapor diri ke kantor. Sebagai staf yang masih membutuhkan banyak pengetahuan dalam bidang komunikasi, Andi memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang sesuai dengan kebutuhan, waktu, biaya, dan metode pembelajaran yang diinginkannya. Universitas Pamulang menjadi pilihan yang tepat bagi Andi karena semuanya sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.
Sebagai anak kosan yang bekerja dari Senin hingga Sabtu, ia memilih untuk mengikuti kelas kuliah pada hari Kamis dari pagi hingga sore hari. Pekerjaan pada hari Kamis dilakukan sambil mengikuti perkuliahan di kelas bersama dosen. Multitasking ini ia lakukan setiap hari Kamis selama dua semester. Namun, saat memasuki semester tiga, Andi merasa kewalahan karena ditugaskan untuk keluar kota pada awal semester, sehingga tidak dapat mengikuti perkuliahan hari Kamis secara langsung di kampus. Banyak mata kuliah praktik yang harus dilakukan di kampus, sehingga ia tidak dapat mengikuti praktik tersebut. Beban kerja yang sering kali lembur hingga tengah malam, kewajiban untuk mengakses e-learning, memantau kesehatan orang tua dari jauh, serta keharusan untuk menghentikan sementara usaha menjual parfum membuat Andi merasa sangat kewalahan.
Oleh karena itu, Andi memprioritaskan hal-hal yang dapat dilakukan sesuai kemampuannya, karena multitasking telah membuatnya mengalami burnout dan berbagai kesulitan lainnya.
Hal yang dialami Andi mungkin juga dapat dirasakan oleh anak kosan di luar sana. Setiap anak kosan seperti Andi memiliki tips untuk bertahan dalam situasi kewalahan seperti itu, yaitu:
Memprioritaskan Tugas, Manajemen waktu dan kemampuan memprioritaskan tugas sangat penting bagi anak kosan seperti Andi. Dengan jadwal kerja yang pasti dan akses pembelajaran daring yang teratur, keduanya dapat saling mendukung satu sama lain.
Mencari Dukungan Sosial, Memiliki teman untuk berbagi cerita terkait kehidupan kampus dan pekerjaan sangatlah penting, sehingga dapat saling mendukung apabila terdapat hal yang sulit atau tidak dapat ditangani sendiri.
Merawat Kesehatan, Kesehatan harus menjadi perhatian utama karena dapat menjadi hambatan untuk keduanya. Lakukan olahraga di akhir pekan, tidur yang cukup, dan menjaga pola makan yang teratur.
Mengatur Ekspektasi, Setiap individu memiliki keterbatasan, sehingga penting untuk berdamai dengan hal tersebut dan fokus pada proses yang sedang dijalani.
Namun, sebagai anak kosan yang melakukan segala sesuatunya sendiri, kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan di kamar kos ternyata dapat menjadi meditasi untuk membersihkan pikiran, atau disebut juga mental cleanse dari rasa kewalahan. Menurut Newport Healthcare, bersih-bersih dapat meningkatkan fokus, tidur nyenyak, mengurangi stres, dan meningkatkan suasana hati. Contoh kegiatan yang dapat menjadi bentuk penyembuhan diri, yaitu : mencuci piring dengan suara air mengalir serta gerakan yang berulang dapat memberikan efek menenangkan. Melipat baju dapat meningkatkan fokus sehingga memberikan rasa kontrol. Menyapu dan mengepel dengan menggerakkan tubuh secara ringan dapat meningkatkan suasana hati secara instan. Terakhir, merapikan lemari dengan membuang barang yang tidak diperlukan membantu membersihkan pikiran secara mental.
Kehidupan di depan tidaklah pasti. Teruslah berjuang demi kehidupan yang lebih baik dengan menghadapi segala risiko dengan sabar, konsisten, dan komitmen terhadap diri sendiri agar dapat mencapai hal tersebut dengan baik.
Ayo, ceritakan perjuanganmu di sini dengan tetap semangat menghadapi segalanya, sambil tersenyum dan penuh keikhlasan.
