Apakah Overthinking Merusak Otak? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Saya seorang mahasiswa jurusan Farmasi di Universitas Islam Indonesia
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari TOMMI SAPUTRA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa pikiran tak berhenti mengulang hal-hal kecil, membayangkan skenario terburuk, atau menyesali keputusan masa lalu secara berlebihan yang tak hanya melelahkan mental, tetapi juga ternyata bisa berdampak buruk secara biologis pada otak manusia.
Lalu, apakah overthinking benar-benar bisa merusak otak? Jawabannya singkat: ya, jika dibiarkan terus-menerus. Berikut penjelasan ilmiahnya.
Apa Itu Overthinking?
Secara psikologis, overthinking didefinisikan sebagai kecenderungan untuk menganalisis secara berlebihan sebuah situasi, baik yang sudah terjadi (rumination) maupun yang belum terjadi (worry). Alih-alih menemukan solusi, overthinking justru membuat pikiran terjebak dalam siklus yang melelahkan dan tidak produktif (Nolen-Hoeksema, 2000)
Otak yang Terjebak dalam Mode Bahaya
Ketika seseorang overthinking, otak akan mengaktifkan amigdala, pusat pengatur rasa takut di otak. Aktivasi amigdala secara terus-menerus menyebabkan tubuh dalam mode "siaga bahaya" meski ancaman itu belum tentu nyata. Hal ini meningkatkan kadar hormon stres kortisol.
Dalam jangka panjang, kortisol yang terus-menerus tinggi dapat mengakibatkan :
Kerusakan pada hippocampus, yaitu bagian otak yang berperan dalam memori dan pembelajaran (Lupien et al., 2009).
Menyusutnya volume prefrontal cortex, yaitu bagian yang berfungsi untuk mengatur pengambilan keputusan dan pengendalian emosi (McEwen, 2017).
Gangguan konektivitas antar bagian otak yang berdampak pada konsentrasi dan daya ingat.
Dampaknya Lebih Besar dari yang Kita Kira
Sebuah studi dari University of Michigan menemukan bahwa orang yang memiliki kecenderungan rumination tinggi memiliki risiko dua kali lipat untuk mengalami gangguan depresi dan kecemasan (Michl et al., 2013). Bahkan, kebiasaan berpikir berlebihan dikaitkan dengan peningkatan inflamasi otak yang dapat memperparah gangguan suasana hati.
Selain efek psikologis, overthinking juga berpengaruh pada kesehatan fisik, seperti:
Gangguan tidur
Nyeri otot kronis
Sistem imun yang melemah
Risiko penyakit kardiovaskular meningkat
Apakah Otak Bisa Pulih?
Berita baiknya, otak memiliki neuroplastisitas (kemampuan untuk memperbaiki diri dan membentuk jalur baru). Dengan intervensi yang tepat, seperti:
Mindfulness & meditasi, terbukti menurunkan aktivitas amigdala dan meningkatkan ketenangan (Holzel et al., 2011)
Olahraga teratur, meningkatkan produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF) yang membantu regenerasi otak.
Menulis jurnal, membantu mengorganisasi pikiran dan mengurangi beban kognitif.
Kesimpulan: Jangan Remehkan Overthinking
Overthinking bukan sekedar kebiasaan buruk, melaikan proses mental yang dapat mengganggu keseimbangan hormon, menyusutkan bagian penting otak, dan meningkatkan risiko ganguan mental. Meski tidak merusak otak dalam arti harfiah seperti trauma fisik, efeknya terhadap fungsi dan struktur otak tidak bisa dianggap sepele.
Maka dari itu, penting bagi kita untuk menyadari pola pikir yang berlebihan itu tidak baik dan mulai melatih pikiran untuk hadir di masa kini. Sebab terkadang, yang perlu kita kalahkan bukan dunia luar, tapi dunia di dalam kepala kita sendiri.
Tommi Saputra, mahasiswa Farmasi Universitas Islam Indonesia.
