Konten dari Pengguna

Korban Perang pada Kisah Mahabharata

Tomy Revaldy

Tomy Revaldy

Mahasiswa Universitas Pamulang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tomy Revaldy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

<a href="https://www.freepik.com/free-photo/team-soldiers-walk-city-after-nuclear-war-illustration_14402271.htm#query=war&position=1&from_view=search">Image by liuzishan</a> on Freepik
zoom-in-whitePerbesar
<a href="https://www.freepik.com/free-photo/team-soldiers-walk-city-after-nuclear-war-illustration_14402271.htm#query=war&position=1&from_view=search">Image by liuzishan</a> on Freepik

Kisah Mahabharata

Kekerasan sudah menjadi penyelesaian masalah sedari ribuan tahun lalu, manusia rela melukai manusia lain demi memuaskan ego mereka. Kekerasan dilakukan untuk mengetahui siapa yang lebih unggul dan layak untuk dihormati. Dengan alasan harga diri manusia rela menyakiti manusia lainnya bahkan hingga menghilangkan nyawa. Kekerasan bukan hanya dilakukan secara individu, namun juga secara berkelompok. Kelompok satu dengan yang lain saling menjatuhkan dengan berbagai alasan. Itulah yang dinamakan perang. Manusia sangat suka berperang bahkan hingga sekarang bibit-bibit tersebut masih sering muncul. Nampaknya emosi manusia tidak begitu berkembang sejalan dengan tingkat intelektualnya. Di zaman yang sudah modern ini, kekerasan masih banyak digaungkan oleh mereka yang mencintainya.

Bahkan perang sudah menjadi tema besar dalam sebuah karya sastra seperti yang dikisahkan dalam wiracarita atau kisah kepahlawanan Mahabharata yang termasyhur, kisah legenda dari India yang menceritakan konflik hingga terjadi perang antara saudara tersebut terjadi karena perebutan tahta untuk menguasai kerajaan Hastinapura. Dalam novel Mahabharata yang ditulis ulang oleh Nyoman S. Pendit pada BAB 44 "Pahlawan-Pahlawan Muda Berguguran" diceritakan bahwa banyak pasukan-pasukan dari kedua belah pihak gugur dalam perang tersebut.

"Begitu matahari terbit, sangkakala ditiup, tanda peperangan dimulai. Pagi-pagi benar Abhimanyu telah dikepung oleh Aswatthama, Bhurisrawa, Citrasena, Salya dan Cala, putra Salya. Putra Arjuna yang masih muda itu bertarung dengan sengit, bagaikan seekor singa menghadapi lima ekor gajah. Belum lama berperang, dia sudah berhasil membunuh Cala" .

"Berikutnya Bhurisrawa maju menghadapi Satyaki dan menyerangnya dengan membabi buta. Putra-putra Satyaki yang berjumlah sepuluh orang tidak membiarkan ayah mereka dikeroyok. Serentak mereka maju dan melancarkan serangan balasan. Serangan putra-putra Satyaki itu dihadapi Bhurisrawa dengan garang. Dengan seluruh kekuatannya ia meremukkan sepuluh kesatria itu hingga tewas semuanya".

"Sementara itu, Arjuna telah membabat habis ratusan prajurit Kaurawa, seperti peladang yang dengan kesal menerabas semak belukar. Setiap bala bantuan yang dikirim Duryodhana langsung dihabisi Arjuna".

Banyak korban berjatuhan tak dapat menghentikan egoisme manusia, bahkan tak hanya mati secara fisik, namun perlahan nuraninya pun juga ikut mati.

"Beberapa tepat mengenai Bhima yang lalu bergegas naik kembali ke keretanya. Kepada sais keretanya ia memerintahkan agar kereta dipacu ke kubu Kaurawa, “Ayo Wisoka, ini hari yang gemilang. Aku melihat anak-anak Dritarastra siap kuremukkan, mudah sekali. Semudah menggoyang dahan jambu agar buahnya rontok berserakan di tanah. Rupanya Kaurawa sudah tak sabar ingin segera dikirim ke neraka!” Delapan saudara Duryodhana mati remuk terkena amukan gada Bhima" .

Setelah nurani mati konsep baik dan buruk pun menjadi kabur, semuanya merasa benar meskipun sikapnya bertentangan. Menghakimi orang lain dan bertindak kejam hanya karena merasa orang lain pantas mendapatkannya.

"Duryodhana termenung-menung. Hatinya gundah memikirkan kekalahannya. Hatinya mulai bimbang. Keyakinannya mulai goyah. Apakah Kaurawa bisa menang jika pertempuran terus berlanjut?"

Yang awalnya berambisi perlahan mulai meragukan langkah yang diambil, namun tetap saja egoisme mengambil alih hati manusia. Manusia yang tidak dapat mengontrolnya hanya akan jatuh ke dalam jurang yang lebih dalam.

Walaupun kisah fiksi dan sudah ada selama ratusan tahun, namun kisah Mahabharata masih tetap bisa menjadi pembelajaran bagi kita manusia modern untuk menghindari peperangan. Karena pada akhirnya perang hanya akan  menelan banyak korban jiwa. Tak ada yang diuntungkan dalam perang tersebut, justru kerugiannya jauh lebih besar.