PSI dan Partai Gerakan Rakyat, Akankah Menuju ke Senayan?

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Tony Rosyid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menguat isu bahwa di belakang berdirinya PSI ada sosok Jokowi. Sejumlah orang meyakini isu ini sejak awal PSI berdiri. Mereka memprediksi Jokowi akan menunjukkan diri setelah purna presiden. Ternyata betul, setelah selesai dua periode, PSI "diambil" Jokowi melalui putra bungsunya, Kaesang Pangarep.
Lantas, kenapa di dua pemilu PSI tidak lolos masuk Senayan? Karena sepertinya Jokowi belum mau berkonflik terbuka dengan PDIP, partai yang telah membesarkannya. Setelah lepas dari PDIP, Jokowi kini leluasa untuk mengurus PSI.
Bagaimana kans PSI ke depan? Ada yang memprediksi 99 persen PSI akan lolos ke Senayan. Apakah prediksi ini punya data dan argumentasi yang kuat?
Pertama, PSI punya ikon: Jokowi. Terlepas dari kontroversinya, Jokowi adalah mantan presiden. Sebagai presiden dua periode, Jokowi telah membangun investasi sosial tidak saja sistemik, tapi juga terstruktur. Jokowi meletakkan banyak orang di tempat-tempat strategis di pemerintahan. Jokowi juga merawat basis massa dengan cukup intens.
Dalam berbagai survei, pendukung Jokowi masih dua digit. Ini pendukung solid. Secara umum mereka bisa ditarik menjadi pemilih PSI, meski tidak seratus persen. Separuh saja pendukung Jokowi memilih PSI, maka partai yang dinakhodai Kaesang ini akan masuk Senayan.
Kedua, bergabungnya Ahmad Ali, mantan waketum Nasdem,berpindah ke PSI dan menjadi faktor penambah suara yang tidak bisa dianggap kecil. Ahmad Ali tidak sendirian. Ahmad Ali membawa gerbong Nasdem Sulawesi ke PSI. Sejumlah elite Nasdem di Sulawesi mayoritas sudah beralih ke PSI. Ini tanda-tanda cukup akan adanya migrasi suara besar-besaran Nasdem Sulawesi ke PSI.
Ketiga, ada faktor Gibran sebagai wakil presiden. Meski wakil, Gibran punya sebagian kekuasaan untuk mengakses instrumen negara. Gibran menjadi juru kampanye yang akan memberi pengaruh terhadap suara PSI.
Keempat, PSI punya logistik cukup kuat. Tanpa logistik, partai akan melangkah sampai depan Senayan. Orang tidak meragukan kekuatan finansial Jokowi dan Ahmad Ali. Dua politisi yang dikenal sebagai petarung yang all out.
Gerindra dan Nasdem, dua contoh partai yang berhasil masuk Senayan dan bertahan hingga hari ini, karena kekuatan logistik di awal perjuangan. Sama dengan PSI, kesiapan logistiknya lebih dari cukup untuk bertarung di 2029.
Dari semua kekuatan PSI, baik tokoh, basis massa, logistik hingga akses kekuasaan, sulit membayangkan PSI tidak masuk Senayan. Wajar jika sejumlah politisi meyakini PSI akan berada di Senayan dan menjadi partai yang diperhitungkan.
Bagaimana dengan Partai Gerakan Rakyat? Partai Gerakan Rakyat punya tokoh yang tidak kalah kuat, baik popularitas maupun elektabilitasnya. Yaitu Anies Rasyid Baswedan. Elektabilitas terakhir Anies tembus 19,9 persen (Median dalam survei Januari 2026). Ini modal besar bagi Partai Gerakan Rakyat untuk berlayar.
Tersisa tiga syarat lagi untuk dipenuhi Partai Gerakan Rakyat. Pertama, logistik. Sekali lagi, "di Indonesia saat ini" partai tanpa logistik hanya akan mengantarkan para anggotanya di halaman Senayan. Tidak masuk Senayan.
Kedua, bergantung pada caleg-calegnya. Apakah Partai Gerakan Rakyat bisa merekrut tokoh-tokoh vote getter? Ini sangat menentukan perolehan suara.
Ketiga, strategi kampanye. Terutama terkait kebutuhan teknis dalam memastikan perolehan suara. Ini penentu akhir mengingat pragmatisme pemilih dan liberalisme politik pemilu. Anda paham maksudnya bukan?
Kalau tiga syarat ini terpenuhi, Partai Rakyat dalam jangka panjang punya peluang untuk menjadi partai besar. Masuk Senayan dulu, lalu partai ini akan cepat membesar dalam asuhan Anies Baswedan.
Jepara, 25 Maret 2026
