Politik Kerja Presiden Prabowo: Ketika Hasil Menjadi Gaya Komunikasi
Tulisan dari Dr Anthony Leong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu corak kepemimpinan yang semakin terlihat dari Presiden Prabowo Subianto yaitu orientasi pada kerja dan hasil. Di tengah zaman ketika politik sering kali lebih riuh oleh produksi narasi, pencitraan, dan perdebatan di media sosial, Presiden Prabowo memperlihatkan karakter yang relatif berbeda. Tidak semua gagasan dijadikan konten, tidak setiap pekerjaan diumumkan, dan tidak setiap kegaduhan politik harus ditanggapi.
Gaya seperti ini menarik karena pada akhirnya pemerintahan memang tidak dinilai dari seberapa ramai narasi yang dibangun, melainkan dari hasil yang dirasakan masyarakat. Tentu, politik kerja juga harus diuji dengan angka. Dan sampai pertengahan 2026, terdapat sejumlah indikator yang memberikan alasan untuk optimistis, sekaligus ruang untuk melakukan evaluasi.
Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Secara kumulatif, pertumbuhan semester I-2026 mencapai 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi penting karena dicapai ketika perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan perdagangan.
Dari sisi investasi, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi semester I-2026 mencapai sekitar Rp1.010 triliun dan menyerap sekitar 1,4 juta tenaga kerja langsung. Bagi dunia usaha, investasi selalu berkaitan dengan kepercayaan. Modal membutuhkan prospek, kepastian hukum, stabilitas kebijakan dan peluang memperoleh imbal hasil. Karena itu, menjaga kepercayaan investor sekaligus memastikan investasi menghasilkan lapangan kerja menjadi pekerjaan yang sangat strategis.
Perkembangan lain juga patut dicatat. Tingkat kemiskinan pada Maret 2026, menurut BPS, turun menjadi 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang, dari 8,25 persen pada September 2025. Tentu tidak tepat menghubungkan penurunan kemiskinan hanya dengan satu kebijakan atau satu periode pemerintahan. Penurunan tersebut merupakan proses panjang. Namun kemampuan menjaga arahnya tetap positif merupakan sesuatu yang patut diapresiasi.
Orientasi kebijakan Presiden Prabowo terhadap pangan juga menunjukkan perspektif ekonomi-politik yang cukup jelas. Pemerintah mencatat produksi beras 2025 mencapai 34,7 juta ton, meningkat sekitar 13 persen dibandingkan 2024. Cadangan beras Bulog bahkan sempat mencapai 4,2 juta ton pada Juli 2025.
Pangan bukan sekadar urusan pertanian. Ia berkaitan dengan inflasi, daya beli, kemiskinan dan pada akhirnya stabilitas sebuah negara. Di tengah konflik geopolitik, perubahan iklim dan rapuhnya rantai pasok global, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri merupakan bagian dari kedaulatan nasional.
Logika serupa terlihat dalam hilirisasi dan ketahanan energi. Indonesia tidak boleh selamanya puas menjual bahan mentah dan membiarkan nilai tambah terbesar dinikmati negara lain. Kekayaan alam harus diterjemahkan menjadi industri, teknologi, pekerjaan dan kesejahteraan di dalam negeri.
Program seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, penguatan UMKM hingga pembangunan ekonomi desa juga memperlihatkan upaya menghubungkan pertumbuhan makro dengan masyarakat bawah. Pelaksanaannya tentu membutuhkan pengawasan, evaluasi, dan disiplin fiskal. Program sebesar apa pun akan kehilangan makna apabila tidak tepat sasaran atau membuka ruang kebocoran.
Di sinilah keberanian Presiden melakukan efisiensi anggaran menjadi relevan. Presiden menyampaikan sekitar Rp300 triliun anggaran telah dialihkan ke penggunaan yang dinilai lebih produktif. Bagi pelaku usaha, prinsip semacam ini sangat mudah dipahami: sumber daya terbatas harus ditempatkan pada kegiatan yang memberikan hasil terbesar.
Namun negara bukan perusahaan. Efisiensi tidak boleh berhenti sebagai pemotongan anggaran. Ia harus menjadi reformasi tata kelola: birokrasi yang lebih sederhana, pengadaan transparan, perizinan lebih cepat dan belanja negara yang benar-benar produktif.
Ujian Terbesarnya: Memberantas Korupsi
Pada titik inilah agenda ekonomi bertemu langsung dengan komitmen Presiden Prabowo dalam pemberantasan korupsi.
Korupsi bukan hanya persoalan moral atau hukum. Korupsi adalah persoalan ekonomi. Ia menaikkan biaya investasi, merusak kompetisi, menciptakan ekonomi biaya tinggi dan memberikan keuntungan kepada mereka yang memiliki akses kekuasaan dibandingkan mereka yang bekerja paling produktif.
Bagi pengusaha yang tumbuh melalui persaingan sehat, yang dibutuhkan bukan perlakuan istimewa dari pemerintah, melainkan level playing field. Aturan harus jelas, perizinan transparan, hukum konsisten dan kesempatan berusaha terbuka secara adil.
Karena itu, ketegasan Presiden Prabowo yang berulang kali menyatakan perang terhadap korupsi layak diapresiasi sekaligus dikawal. Pemberantasan korupsi dan penguatan reformasi politik, hukum, serta birokrasi telah ditempatkan dalam Asta Cita. Tetapi ukuran keberhasilannya tetap harus konkret.
Data justru menunjukkan pekerjaan rumah yang serius. KPK mencatat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 berada pada skor 34 dari 100, turun tiga poin dari skor 37 pada 2024. Angka tersebut harus dibaca secara jujur. Komitmen politik yang kuat harus diterjemahkan menjadi perbaikan sistem dan institusi.
Pemberantasan korupsi tidak cukup mengandalkan penangkapan setelah uang negara hilang. Pemerintah harus menutup ruang korupsi sejak awal melalui digitalisasi pelayanan dan pengadaan, transparansi perizinan, pengawasan sumber daya alam, tata kelola BUMN yang semakin profesional, serta penguatan institusi penegak hukum. Dan yang terpenting, hukum harus bekerja tanpa membedakan kawan maupun lawan.
Justru di sinilah Presiden Prabowo mempunyai kesempatan membangun warisan kepemimpinan yang kuat.
Pertumbuhan ekonomi 5,29 persen, investasi Rp1.010 triliun, menurunnya tingkat kemiskinan, penguatan produksi pangan dan berbagai program pembangunan adalah capaian yang patut dijaga. Tetapi warisan seorang presiden akan menjadi jauh lebih besar apabila pembangunan ekonomi tersebut sekaligus diikuti pembangunan institusi yang bersih.
Presiden Prabowo tampaknya memilih bekerja lebih banyak daripada membangun narasi tentang pekerjaannya. Pilihan itu memiliki konsekuensi: hasil harus berbicara lebih keras.
Masyarakat pada akhirnya tidak membutuhkan pemerintah yang setiap hari menjelaskan bahwa negara sedang bekerja. Masyarakat membutuhkan bukti bahwa pekerjaan tersedia, usaha berkembang, pangan terjangkau, anak-anak mendapatkan pendidikan dan gizi yang baik, uang negara tidak bocor, serta hukum berlaku adil.
Jika konsistensi itu mampu dipertahankan, politik kerja Presiden Prabowo dapat meninggalkan sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada popularitas sesaat: negara yang semakin kuat, ekonomi yang semakin mandiri, dunia usaha yang semakin sehat, dan pemerintahan yang semakin bersih.
Dalam politik, narasi memang diperlukan. Tetapi sejarah biasanya lebih lama mengingat hasil.

