Seskab Teddy dan Tugas Negara Menjaga Mimpi Anak Indonesia
Tulisan dari Dr Anthony Leong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemiskinan tidak hanya menjadi berbahaya ketika sebuah keluarga kekurangan pendapatan. Kemiskinan menjadi jauh lebih berbahaya ketika seorang anak mulai percaya bahwa keadaan keluarganya adalah batas bagi masa depannya.
Ketika anak berhenti sekolah, persoalannya bukan hanya kehilangan ruang kelas. Perlahan ia dapat kehilangan lingkungan belajar, kepercayaan diri, kesempatan, bahkan keberanian untuk mempunyai cita-cita.
Karena itu, ada sesuatu yang menarik dari kunjungan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya ke Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 di Politeknik Penerbangan Indonesia Curug, Tangerang, pada 8 Agustus 2026.
Di hadapan anak-anak yang sebagian pernah putus sekolah atau bahkan belum memperoleh kesempatan pendidikan secara layak, Seskab Teddy menyampaikan pesan sederhana: mereka harus kembali bersekolah dan berani mempunyai mimpi besar.
Pesan itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi anak yang pernah merasa masa depannya berhenti karena kemiskinan, keberanian bermimpi justru merupakan sesuatu yang sangat mahal.
Sekolah Rakyat sendiri merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto yang pelaksanaan utamanya berada di bawah Kementerian Sosial pimpinan Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Program ini dirancang untuk menjangkau anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem melalui pendidikan berasrama yang tidak hanya menyediakan pembelajaran, tetapi juga tempat tinggal, makanan, pemenuhan gizi, kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya.
Pada Januari 2026, Presiden Prabowo meresmikan 166 titik Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota. Saat itu tercatat 15.954 siswa didukung 2.218 guru dan 4.889 tenaga kependidikan. Per Agustus 2026, menurut keterangannya, sekitar 43 ribu anak telah memperoleh kesempatan pendidikan melalui program tersebut.
Angka-angka itu penting. Tetapi yang lebih penting adalah manusia di belakang setiap angka.
Empat puluh tiga ribu anak berarti puluhan ribu cerita keluarga. Ada anak yang sebelumnya putus sekolah, ada yang hidup dalam keterbatasan ekstrem, dan ada yang mungkin pernah menganggap pendidikan berkualitas bukan sesuatu yang tersedia bagi dirinya.
Di situlah peran Sekretaris Kabinet menarik untuk diperhatikan.
Program ini memang dijalankan Kementerian Sosial. Kredit terhadap pelaksanaannya harus ditempatkan secara proporsional kepada kementerian dan seluruh jajaran yang mengerjakannya. Namun Seskab Teddy terlihat ikut mengawal program prioritas Presiden hingga detail pelaksanaan di lapangan.
Jejaknya sudah terlihat sejak fase awal.
Pada 8 Maret 2025, Seskab Teddy bersama Mensos Saifullah Yusuf dan Wamensos Agus Jabo meninjau calon lokasi Sekolah Rakyat di Sentra Terpadu Pangudi Luhur, Bekasi. Yang diperiksa bukan sekadar gedung dari kejauhan. Rombongan mengecek ruang kelas, asrama, ruang makan, lapangan olahraga, tempat ibadah hingga berbagai fasilitas pendukung.
Pada 2026, Seskab Teddy kembali turun melihat kesiapan Sekolah Rakyat di Pejompongan, Jakarta. Ia berdialog dengan calon siswa dan orang tua serta melihat fasilitas yang akan digunakan. Kemudian pada Agustus ini, ia kembali bersama jajaran Kemensos memantau persiapan sekolah di Curug, Tangerang.
Pola tersebut menunjukkan satu pelajaran penting mengenai pemerintahan yakni kebijakan besar selalu ditentukan oleh detail kecil.
Mengawal Kebijakan sampai Menjadi Kenyataan
Seorang presiden dapat mempunyai gagasan besar. Menteri dapat menyusun kebijakan. Anggaran dapat disediakan. Namun keberhasilan sebuah program sosial pada akhirnya ditentukan oleh hal-hal yang sangat konkret: apakah ruang kelas siap, apakah asrama layak, apakah makanan tersedia, apakah guru cukup, dan yang paling mendasar, apakah anak yang menjadi sasaran benar-benar ditemukan dan dibawa kembali ke sekolah.
Dalam perspektif manajemen, inilah jarak antara policy dan delivery.
Indonesia sering kali tidak kekurangan gagasan. Tantangan terbesarnya justru memastikan gagasan menjadi pelayanan yang benar-benar sampai kepada rakyat.
Karena itu, menarik melihat seorang Sekretaris Kabinet tidak semata berada di sekitar meja rapat Presiden. Seskab Teddy beberapa kali terlihat turun melihat bagaimana salah satu program prioritas Presiden diterjemahkan di lapangan. Posisi Seskab memang bukan pelaksana teknis Sekolah Rakyat, tetapi fungsi koordinasi menjadi penting untuk memastikan arahan Presiden bergerak melalui kementerian dan tidak kehilangan tujuan ketika memasuki birokrasi.
Barangkali karakter kerja semacam itu ikut menjelaskan mengapa Seskab Teddy mulai memperoleh perhatian publik.
Survei Indonesia Political Opinion (IPO) yang dilakukan 27 Juli–3 Agustus 2026 terhadap 1.200 responden menempatkan Seskab Teddy di posisi kedua dalam penilaian positif terhadap kinerja jajaran Kabinet Merah Putih dengan 33,5 persen. Ia hanya berada di bawah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang memperoleh 42,8 persen, dan berada di atas Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan 32 persen. Dari sisi pengenalan publik, Seskab Teddy mencapai 41 persen.
Survei tentu bukan vonis akhir mengenai kualitas pejabat. Popularitas dan persepsi dapat berubah. Tetapi ada hal menarik ketika seorang pejabat yang sebagian besar tugas formalnya berada di belakang layar justru mendapat penilaian tinggi.
Boleh jadi masyarakat mulai menangkap sebuah gaya kepemimpinan baru: tidak harus selalu banyak berbicara, tetapi hadir, melihat persoalan, mengawal pekerjaan dan memastikan keputusan bergerak.
Khusus dalam Sekolah Rakyat, maknanya bahkan melampaui soal kinerja pejabat.
Program ini pada akhirnya berbicara tentang mobilitas sosial. Presiden Prabowo menargetkan setiap Sekolah Rakyat kelak mampu menampung hingga 1.000 siswa dengan sasaran keseluruhan mencapai 500 ribu peserta didik. Target itu sangat besar dan tentu membutuhkan waktu, anggaran, tenaga pendidik, fasilitas serta evaluasi kualitas yang serius.
Namun filosofinya patut dijaga, kemiskinan orang tua tidak boleh diwariskan menjadi kemiskinan kesempatan bagi anak.
Negara tidak dapat menentukan di keluarga mana seorang anak dilahirkan. Tetapi negara dapat memperbesar peluang agar tempat kelahiran dan kondisi ekonomi keluarganya tidak menentukan sejauh mana ia boleh melangkah.
Di sinilah ucapan Seskab Teddy kepada anak-anak Sekolah Rakyat menemukan bobotnya.
Mendorong mereka “bermimpi besar” tidak boleh berhenti sebagai kalimat motivasi. Negara harus menyediakan tangga agar mimpi itu mungkin dicapai. Sekolah adalah salah satu tangga terpenting.
Dan tugas pejabat publik bukan hanya merancang tangga tersebut dari Jakarta, tetapi memastikan anak yang paling membutuhkan benar-benar dapat menaikinya.
Jika Sekolah Rakyat kelak berhasil melahirkan dokter, guru, insinyur, pengusaha, perwira, ilmuwan, bahkan pemimpin nasional dari keluarga-keluarga yang hari ini berada di lapisan ekonomi paling bawah, maka keberhasilan terbesarnya bukan jumlah gedung yang dibangun.
Keberhasilannya adalah ketika seorang anak yang kemarin putus sekolah mampu menatap masa depan dan berkata: keadaan keluargaku tidak menentukan akhir hidupku.
Dalam konteks itulah kehadiran Seskab Teddy menjadi lebih dari kunjungan seorang Sekretaris Kabinet.
Ia ikut membawa pesan bahwa Republik ini mempunyai kewajiban menjaga mimpi anak-anaknya.
Karena negara yang kuat bukan hanya negara yang mampu membuat anak miskin kembali bersekolah. Negara yang kuat adalah negara yang membuat mereka kembali berani bermimpi.

