"Kalau HTI Dibubarkan, Kami Mau Makan Apa?"

Banyak baca. Sesekali menulis.
Tulisan dari Akbar Risaldi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabar dibubarkannya HTI sampai juga ke pedalaman Kalimantan. Penduduk kaget. Mereka hampir melakukan protes besar-besaran. Mereka menolak jika HTI dibubarkan karena tak mau kehilangan mata pencaharian.
“Kada kawa, kada hakun. Mun pamarintah mambubarkan HTI, ngintu sama haja pamarintah handak berperang wan kami! (Tidak bisa, tidak mau. Kalau pemerintah membubarkan HTI, itu sama saja pemerintah mau berperang dengan kami)!” tandas penduduk dalam Bahasa Banjar (Kalimantan Selatan).
Usut punya usut, ternyata orang-orang pedalaman itu sudah salah paham. Di benak mereka hanya tahu bahwa HTI adalah Hutan Tanaman Industri. Dan “HTI” itulah yang mereka pikir hendak dibubarkan oleh pemerintah.
Hutan Tanaman Industri merupakan suatu kawasan hutan yang dikelola perusahaan untuk memenuhi beragam kebutuhan industri. Di Kalimantan Selatan saja, terdapat belasan perusahaan pengelola HTI. Di Kalimantan Timur ada 38 perusahaan. Belum lagi di Kalimantan Tengah, Barat, serta Kalimantan Utara. Ada jutaan penduduk yang beroleh penghidupan dari sana.
Dalam hal etnis, selain Dayak dan sub-sub sukunya, ada pula etnis Kutai, Banjar, Tidung, Melayu dan sebagainya. Sejak berdirinya NKRI hingga hari ini, Pancasila-lah yang telah berhasil mempersatukan mereka.
Penduduk sudah bisa membayangkan, apa yang bakal terjadi apabila HTI dibubarkan. Mereka akan kehilangan pekerjaan lalu menganggur, dan harus cari sumber penghasilan lagi. Repot!
Setelah diberi penjelasan, mereka baru “ngeh” kalau HTI yang hendak dibubarkan pemerintah itu adalah organisasi Hizbut Tahrir Indonesia. Bagi mereka, organisasi ini tentulah asing di telinga.

Hizbut Tahrir (Indonesia) berasal dari luar negeri. Mereka masuk ke Indonesia melalui pintu kampus. Perguruan tinggi yang jadi gerbang masuknya Hizbut Tahrir (Indonesia) itu pun bukan di Kalimantan, melainkan di Jawa. Wajar bila banyak orang Kalimantan yang baru beberapa hari belakangan ini mendengar istilah HTI Hizbut Tahrir.
Target perjuangan HTI Hizbut Tahrir adalah mendirikan negara dengan sistem pemerintahan khilafah. Ini artinya, diakui atau tidak, sembunyi atau terang-terangan, mereka menolak Pancasila, ideologi NKRI yang artinya ideologi orang Kalimantan juga.
Selain Muslim, di Kalimantan juga banyak penganut agama Katholik, Protestan, Budha, Hindu dan juga Kaharingan (keyakinan asli orang Dayak). Dalam hal etnis, selain Dayak dan sub-sub sukunya, ada pula etnis Kutai, Banjar, Tidung, Melayu dan sebagainya. Sejak berdirinya NKRI hingga hari ini, Pancasila-lah yang telah berhasil mempersatukan mereka.
Mendengar penjelasan itu, dengan lega mereka pun berkata: “Oh, mun kaitu, HTI nang ngintu, ayuha bubarkan. Jangan HTI tempat kami begawi (Oh, kalau seperti itu, HTI yang itu, silakan sajalah dibubarkan. Jangan HTI tempat kami bekerja).”
