"Kita Hidup di Bumi, bukan di Awang-awang" (Nasihat untuk HTI)

Banyak baca. Sesekali menulis.
Tulisan dari Akbar Risaldi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
MUHAMMADIYAH berdakwah di bidang pendidikan dan kesehatan. Nahdhatul Ulama setia dengan tradisi dan pendidikan pesantrennya. Seperti itu pula yang dilakukan Persis, Al-Irsyad serta MI atau Muslimin Indonesia. Bahkan salafy yang kerap dikait-kaitkan dengan pemahaman Wahabi, jelas-jelas tak mau turut campur masalah politik. Mereka lebih memilih berdakwah lewat kajian-kajian tauhid dan tholabul 'ilmi.
Orang-orang salafy, yang laki-lakinya punya ciri khas memelihara jenggot dan bercelana cingkrang, didoktrin untuk selalu taat pada pemerintah yang sah, selama mereka tidak menyeru pada kemaksiatan. Tulisan ini didasari oleh rasa empati sebagai sesama anak bangsa.

Penulis merasa "kasihan" dengan saudara-saudara kita yang tergabung dalam HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang berdakwah dengan target yang tak membumi di jaman ini.
Ulama-ulama salafy secara tegas dan terang-terangan menolak paham HTI. Begitu pula dengan kyai-kyai dan kaum Nahdliyyin. Muhammadiyah, yang tampaknya lebih halus dalam menyikapi persoalan ini, seolah hendak menasihati teman-teman HTI dengan karya-karya nyata yang telah mereka buat.
Khilafah adalah target jihad teman-teman HTI. "Tegakkan khilafah, angkat khalifah!" begitulah mereka.
Akhi dan ukhti HTI sebenarnya paham betul bahwa khilafah, jika istilah ini dimaknai sebagai pemerintahan Islam, tidak dinyatakan secara jelas dalam Alquran.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, juga bersabda: "Khilafah itu 30 tahun, dan sesudah itu al-mulk (kerajaan)". Apalagi, para ulama terdahulu hingga sekarang pun banyak yang berselisih pendapat mengenai "paket" khilafah dan khalifah.
Kalau sudah tahu demikian, tak elok rasanya teman-teman HTI tetap bersikeras memperjuangkan khilafah. Hal ini justru akan memperuncing perbedaan di kalangan umat, yang berpotensi mengganggu ukhuwah dan tali silaturahmi sesama anak bangsa.
Hari ini kita dihadapkan pada beragam persoalan: kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan sosial. Hari ini di sekitar kita, masih banyak ketidakadilan dan diskriminasi. Para petani kita banyak yang masih gagal panen. Para pekebun harus mati-matian bertahan ditengah gempuran berbagai komoditi impor. Nelayan tradisional kita terus terancam oleh kehadiran nelayan-nelayan asing bermodal besar. Bukankah itu ladang jihad yang teramat menggiurkan?
Seandainya HTI mampu membangun rumah-rumah sakit di negeri ini, tentulah pemerintah tak akan tega membubarkan organisasi ini. Bayangkan, kalau di beberapa tempat ada sekolah dan perguruan tinggi yang didirikan HTI, pasti para orangtua akan banyak berterima kasih, sebab kebutuhan pendidikan anak-anak ikut terbantu.
Misalkan teman-teman HTI mau ikut berkubang dalam lumpur membantu para petani, ikut berbasah-basah meringankan kesulitan para nelayan, niscaya simpati akan mengalir dari sudut-sudut perdesaan dan pesisir.
Apa yang didengung-dengungkan oleh teman-teman HTI selama ini bahkan tak ubahnya "PHP". Apa manfaat riil yang akan dirasakan masyarakat dengan kampanye khilafah dan khalifah? Apa gunanya khilafah bila tak ada upaya dan jaminan kesejahteraan bagi umat? Khilafah itu ibarat atap, dan kesejahteraan umat adalah pondasinya. Tak mungkin mendirikan sebuah bangunan dengan memasang atap terlebih dulu, namun mengabaikan pondasi serta dinding-dinding penyangganya.
Jadi, alangkah baiknya jika teman-teman HTI tak lagi mendengung-dengungkan frasa "tegakkan khilafah, angkat khalifah". Berjihadlah di bidang-bidang yang nyata, yang manfaatnya akan langsung dirasakan saudara-saudara kita yang kurang beruntung.
Bangunlah bumi tempat kita berpijak, bukan bermimpi membangun awang-awang bernama khilafah itu. Meluruskan haluan dakwah HTI dengan sekadar mengubah nama dan bendera kelompok mereka, tampaknya sesuatu yang sulit dilakukan. Sehingga, tak ada jalan lain bagi teman-teman HTI: secara sukarela membubarkan diri, atau pemerintahlah yang akan mengakhiri jalan cerita mereka...***
