Konten dari Pengguna

Filsafat Ronggowarsito (10): Mengendalikan Nafsu

Toto TIS Suparto

Toto TIS Suparto

Penulis Filsafat Moral, Pengkaji di Institut Askara

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Toto TIS Suparto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh Toto TIS Suparto

b. Mengendalikan Nafsu

Semana iku bebasan

padu-padune kepengin

enggih mekoten man Doblang

bener ingkang angarani

nanging sajroning batin

sejatine nyamut-nyamut

wis tuwa arep apa

Muhung mahas ing asepi

Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma

Segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan?

Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian.

Namun sebenarnya di dalam hati repot juga. Sekarang sudah tua,

apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari Tuhan.

Kitab Bijak Pujangga Jawa ( Foto: Penerbit Askara)

Sebenarnya kalau kita cari padanannya, maka bakal ketemu kata nafsu untuk keinginan hati tersebut. Coba kita lihat dulu pengertian harafiahnya, bahwa nafsu itu merupakan keinginan hati yang kuat. Misalnya begini, ketika kita terus menerus punya keinginan untuk makan, sejatinya kita sedang diliputi nafsu makan. Banyak orang yang bersedih manakala tak punya nafsu makan. Biasanya mereka yang sedang menderita sakit, umumnya dijauhi oleh nafsu makan ini.

Kemudian kita bertanya-tanya, apakah nafsu itu baik? Penulis cenderung menganut prinsip bahwa nafsu yang proporsional akan menjadi baik bagi kita. Contohnya nafsu makan itu. Kalau tak punya nafsu makan akan kurang bagus bagi kesehatan, tetapi jika nafsu makan berlebihan maka berdampak buruk bagi kesehatan. Jadi yang ideal adalah yang proporsional.

Oleh karena itu nafsu itu tidak selalu buruk. Kalau kita punya nafsu lawamah, tentu kita sedang menjalani sesuatu yang baik. Nafsu lawamah adalah dorongan batin untuk mengikuti jalan kebaikan dan kebenaran. Tetapi kita juga acap mendengar istilah nafsu iblis. Ini nafsu yang tidak baik, karena nafsu iblis itu merupakan dorongan batin untuk melakukan tindakan yang mengarah pada kemaksiatan dan kejahatan.

Ronggowarsito ingin bilang, kita boleh punya nafsu tetapi yang proporsional. Untuk mencapai tingkatan ini, kita harus pandai-pandai mengendalikan nafsu. Jangan sampai kita punya nafsu makan berlebihan. Jangan pula kita diperbudak nafsu iblis! Apalagi, kata Ranggawarsita, sekarang sudah tua, apa pula yang dicari. Maksudnya, sudah tua segala keinginan harus dikendalikan. Buat apa berlebihan mencari segenap keinginan. Kalau sudah tua, saatnya untuk "...menyepi diri agar mendapat ampunan dari Tuhan."

Kita selayaknya mohon ampunan karena dalam perjalanan hidup bisa saja terperangkap nafsu iblis. Kita menyepi diri, menjauh sesaat dari segala keramaian duniawi, dan kemudian menghadap Tuhan agar memeroleh ampunan tersebut. (*/Askara)

  • Selanjutnya Sabar dan Ikhtiar (Bag 11)