Konten dari Pengguna

Filsafat Ronggowarsito (11): Sabar dan Ikhtiar

Toto TIS Suparto

Toto TIS Suparto

Penulis Filsafat Moral, Pengkaji di Institut Askara

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Toto TIS Suparto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

oleh Toto TIS Suparto

c. Sabar dan ikhtiar

Acap teman kita dengan entengnya menyatakan, "Sabarlah...Tuhan akan mendengarkan permintaanmu". Atau ada juga kerabat yang mengingatkan, "Sabar... ini hanya cobaan sesaat!" Segala dukungan itu memang memberikan semangat, tetapi bukan soal mudah untuk mempraktikkannya. Konsepnya memang sederhana, bahwa kita sudah mencapai sabar bilamana menjalani dengan ikhlas segala ujian hidup dari Tuhan. Tetapi terkadang kita tak bisa ikhlas menerimanya, dan malah memprotes, "Mengapa Tuhan berlaku tidak adil terhadap saya?"

Kitab Bijak Pujangga Ronggowarsito (Foto: Penerbit Askara)

Sabar itu jalan menuju sentosa. Kata Ranggowarsito, sentosa itu lepas dari kerepotan dan terhindar dari keangkaramurkaan. Sebagaimana dijelaskan dalam bait terakhir dari Serat Kalatidha:

Sageda sabar santosa

mati sajroning ngaurip

kalis ing reh aruraha

murka angkara sumingkir

tarlen meleng malat sih

sanityaseng tyas mematuh

badharing sapudhendha

antuk mayar sawetawis

boRONG angGA saWARga meSI marTAya

(Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa,

seolah-olah dapat mati di dalam hidup.

Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan.

Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada-Mu agar mendapat ampunan sekadarnya.

Kemudian kami serahkan jiwa dan raga).

Apa yang dikatakan Ronggowarsito persis seperti contoh-contoh yang diberikan oleh orang bijak lainnya. Misalnya, orang bijak itu menggambarkan secara sederhana maksud dari sabar ini, seperti seorang petani yang menebar benih di lahan subur. Petani itu harus menunggu saat memanen. Petani itu memahami ada waktu dalam proses memeroleh tujuan (panen).

Kalau seseorang memahami makna waktu dalam setiap proses, maka ia akan menikmati kenyamanan hati saat menunggu hasilnya. Tatkala ia berdoa kepada Tuhan, ia sadar benar bahwa doanya tidak serta merta dikabulkan. Ia akan menunggu dan menunggu sampai Tuhan memproses doanya dan pada akhirnya terkabul. Inilah hakikat sabar.

Oleh karena itu sabar ini juga dikaitkan dengan syukur. Mereka yang bersyukur itu adalah orang-orang yang bisa menikmati buah dari doanya, sebesar apapun buah dimaksud. Hal penting bagi mereka adalah doa-doanya sudah terkabulkan. Mereka menjadi nyaman karena Tuhan ada di dekat mereka. Tuhan sungguh Maha Pendengar tatkala doa-doanya dipanjatkan.

Namun doa-doa yang dipanjatkan bukanlah berdiri sendiri. Maksudnya, sembari berdoa ia tetap berupaya. Seorang atlet, misalnya, ia berdoa agar bisa menjadi juara. Akan tetapi doanya tak akan berbuah bilamana sekadar berdoa tanpa berlatih keras. Inilah dinamakan ikhtiar. Jadi, setiap doa musti dibarengi ikhtiar. Ini sekaligus menegaskan bahwa sabar bukanlah sekadar menunggu buah dari doa tanpa mau berupaya lebih keras lagi. Seorang petani saja setelah menebar benih ia harus merawatnya dengan bekerja keras.

Baru setelah kita berikhtiar, semuanya diserahkan kepada Tuhan. Apapun kehendak Tuhan, kita tak bisa memperkirakan. Bisa saja doa kita berbuah jelek, atau baik, atau buah biasa saja. Semua itu Tuhan yang berkehendak, dan manusia sekadar bisa sampai ikhtiar dimaksud. Seperti dijelaskan oleh Ronggowarsito pada bait kesembilan dan sepuluh dalam Serat Kalatidha, sebagai berikut:

Beda lan kang wus santosa

Kinarilah ing Hyang Widhi

Satiba malanganeya

Tan susah ngupaya kasil

Saking mangunah prapti

Pangeran paring pitulung

Marga samaning titah

Rupa sabarang pakolih

Parandene maksih taberi ikhtiyar

Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan.

Bagaimanapun nasibnya selalu baik.

Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah.

Namun demikian masih juga berikhtiar.

Sakadare linakonan

Mung tumindak mara ati

Angger tan dadi prakara

Karana riwayat muni

Ikhtiyar iku yekti

Pamilihing reh rahayu

Sinambi budidaya

Kanthi awas lawan eling

Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma

Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan persoalan.

Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib ikhtiar,

hanya harus memilih jalan yang baik.

Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan

waspada agar mendapat rakhmat Tuhan.(*/Askara)

= Selanjutnya : Pasrah…..(12)