Konten dari Pengguna

Filsafat Ronggowarsito (8): Dialog Batin

Toto TIS Suparto

Toto TIS Suparto

Penulis Filsafat Moral, Pengkaji di Institut Askara

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Toto TIS Suparto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh Toto TIS Suparto

Pada bagian tujuh lalu diuraikan tentang dunia yang repot. Kali ini kerepotan dunia ini diperjelas pada bait kelima yang berbunyi berikut ini:

Ujaring panitisastra

awewarah asung peling

ing jaman keneng musibat

wong ambeg jatmika kontit

mengkono yen niteni

pedah apa amituhu

pawarta lolawara

mundhuk angreranta ati

angurbaya angiket cariteng kuna

Artinya kurang lebih;

Menurut buku Panitisastra (ahli sastra),

sebenarnya sudah ada peringatan.

Di zaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini,

orang yang berbudi tidak terpakai.

Demikian lah jika kita meneliti.

Kitab Bijak Ronggowarsito ( Foto : Penerbit Askara )

Apakah gunanya meyakini kabar angin akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya kisah zaman dahulu kala.

Apa yang ditulis Ronggowarsito itu ternyata masih klop dengan zaman sekarang ini, khususnya di negeri kita. Coba perhatikan, "...ing jaman keneng musibat, wong ambeg jatmika kontit...". Ya, di zaman penuh kebatilan ini bisa kita lihat orang-orang berbudi itu tidak terpakai. Padahal orang berbudi ini membuat karakter bangsa menguat. Orang berbudi cenderung memilih tindakan-tindakan baik karena mereka acap melakukan dialog batin. Saat melakukan dialog batin, mereka memasuki tahapan untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu secara benar. Ia menjadi manusia yang memiliki, menguasai dan memastikan dirinya sendiri. Seseorang menjadi paham atas dirinya.

Kalau kita mampu melakukan dialog batin, kita akan menemukan jalan menuju kebaikan. Memang, bukan soal mudah untuk mendefinisikan "baik" itu. Filsafat Barat saja masih belum bulat soal definisi itu. Misalnya, ada peringatan dari filsuf George Edward Moore; jangan bersusah payah untuk mencari definisi kata baik! Alasan yang disodorkan Moore adalah baik itu bersifat primer sehingga tidak bisa dianalisis karena memang bukan terdiri dari bagian-bagian lagi. Baik tak bisa direduksi kepada sesuatu yang lebih mendasar lagi karena memang dari sono-nya sudah merupakan data dasar.

Baik baru bisa mencapai makna bilamana direlasikan. Kemudian Moore membedakan "baik" dan "sesuatu yang baik". Tatkala membicarakan "sesuatu yang baik" maka "baik" yang dikenakan pada sesuatu itu sudah bisa dimaknai. Di sini (pada "sesuatu yang baik") kata baik telah direlasikan. Kita ambil contoh pada beberapa bidang kehidupan. Misalnya, kata "baik" yang dikenakan pada "pegawai pajak" sudah bisa dimaknai. Begitupun "politisi yang baik", "perwira polisi yang baik", "jaksa yang baik", "hakim yang baik", "pegawai negeri yang baik", "wartawan yang baik", "penulis yang baik", "warga negara yang baik", dan sampai akhirnya bisa dipadatkan menjadi "manusia yang baik".

"Manusia yang baik", menurut Aristoteles, melakukan aktivitas jiwa dalam kesesuaian dengan keutamaan. Kalau mengacu kepada pemikiran kuno, bukan saja Aristoteles, melainkan Sokrates maupun Plato, juga menempatkan "keutamaan-keutamaan" menjadi ukuran "manusia baik". Platonis senantiasa menggunakan "yang baik" sebagai tujuan. Oleh karena itu segala tindakan dan pilihan akan mengacu kepada tujuan "yang baik". Tujuan "yang baik" itu sendiri, menurut Plato, bermuatan keutamaan.

Diskusi pun bakal berkembang, lantas apa pula "keutamaan" dimaksud? Aristoteles hanya memberi batas kepada "sifat karakter yang tampak dalam tindakan kebiasaan". Kesannya sebuah batasan yang remeh, tetapi jika diselami lagi, kita akan menemukan makna mendalam. Kebiasaan itu tidak akan muncul jika kita kadang-kadang bertindak. Contoh gamblangnya, kebiasaan jujur tidak akan terlihat jika kita kadang-kadang saja menyatakan kebenaran atau bertindak nyata dalam batasan kejujuran. Dalam hal ini jujur belum bisa mencapai kebiasaan. Namun jika kita terus menerus berbuat jujur, maka kejujuran itu tanpa terasa akan menjadi kebiasaan. Jadi, kebiasaan jujur ini merupakan tindakan yang muncul dari karakter yang kokoh dan tak berubah.

Nah, pada bagian berikut, kita akan singgung “baik” menurut Ronggowarsito. (*/ Askara)