Penciptaan atau Evolusi? Sintesis Sejarah sebagai Jalan Tengah

Guru IPS SMP-SMA PRIBADI BANDUNG Mahasiswa Magister Sains Psikologi UNPAD Seorang guru biasa yang mencoba untuk terus belajar
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Tresna Auliafatra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Asal-usul manusia adalah salah satu topik yang tak pernah sepi dari perdebatan. Sejak Charles Darwin (1871) menerbitkan The Descent of Man, gagasan bahwa manusia berkerabat dengan primata terus memantik diskusi lintas kalangan, mulai dari ilmuwan, pendidik, hingga pemuka agama. Di sisi lain, sejumlah publikasi keagamaan membahas asal kehidupan dari sudut pandang penciptaan (Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania, 2010).
Perdebatan ini tidak berhenti pada soal biologis. Di balik pertanyaan tentang manusia pertama, terdapat pertanyaan yang lebih mendasar bagi manusia, yaitu keberadaan Tuhan.
Pemikir muslim M. Fethullah Gulen (2011) menganalogikan teori evolusi sebagai teori yang lahir dalam keadaan mati. Menurutnya, meski para pendukungnya berupaya menghidupkannya kembali, teori itu terus dihujani kritik dari banyak ilmuwan hingga tak ada satu bagian pun yang selamat tanpa luka.
Persoalan ini sebenarnya jelas, tetapi tidak selalu mudah dicerna. Ada ungkapan yang dikaitkan dengan Ibnu Khaldun bahwa Tuhan itu sejelas matahari, tetapi ketika matahari ditatap secara langsung, mata justru menjadi gelap dan tak kuasa melihatnya. Hal ini terasa semakin nyata bagi anak muda yang rasa ingin tahunya besar terhadap hal-hal baru.
Di Indonesia, persoalan yang menyentuh akidah ini sudah masuk ke pembelajaran formal. Setidaknya ada tiga mata pelajaran di SMP dan SMA yang membahasnya: Biologi dengan materi evolusi, Sejarah dengan topik manusia purba, dan Pendidikan Agama dengan tema manusia sebagai khalifah. Ketiganya menawarkan sudut pandang yang berbeda atas persoalan yang sama.
Tesis Penciptaan dalam Pelajaran Agama
Di pelajaran agama, siswa diajak menyimak peristiwa langit yang diabadikan dalam Surat Al-Baqarah ayat 30:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS Al-Baqarah [2]: 30)
Dari ayat ini, siswa sampai pada kesimpulan bahwa asal-usul manusia bersumber dari manusia pertama, yaitu Adam. Adam tidak hadir lewat seleksi alam atau proses evolusi tertentu, melainkan diciptakan sebagai makhluk dengan bentuk yang sempurna. Inilah yang disebut tesis penciptaan.
Antitesis Evolusi dalam Pelajaran Biologi
Setelah tesis penciptaan mengendap di pikiran, siswa bertemu pelajaran Biologi yang membahas makhluk hidup. Di sinilah mereka berhadapan dengan antitesisnya, yakni teori evolusi.
Siswa mempelajari dasar-dasar teori yang bersumber dari buku On the Origin of Species by Means of Natural Selection. Dalam buku itu, Darwin (1859) menyajikan bukti-bukti bahwa kehidupan berevolusi sepanjang sejarahnya dan menyebut seleksi alam sebagai mekanisme utamanya. Hingga kini, penjelasan tersebut menjadi penjelasan ilmiah yang dominan tentang keanekaragaman makhluk hidup.
Dalam The Descent of Man, Darwin (1871) membawa gagasan itu ke manusia, yakni bahwa manusia berkembang secara bertahap dari makhluk pendahulu dan berbagi leluhur dengan kera. Dalam pemahaman populer, gagasan ini sering diringkas menjadi “binatang menjadi manusia”.
Mengapa Siswa Menjadi Galau?
Dua pelajaran itu menyuguhkan dua hal yang saling berbenturan. Tesis dan antitesis tentang asal-usul manusia membuat siswa bingung menentukan mana yang benar dan mana yang salah.
Kebingungan itu bisa bertambah ketika siswa mendengar pendapat guru bahwa agama dan sains adalah dua hal berbeda yang tak mungkin dipersatukan. Lantas, apa yang semestinya ditawarkan kepada siswa? Sintesis apa yang bisa lahir dari tesis dan antitesis tersebut?
Sintesis Sejarah: Enam Masa Pembentukan Bumi
Untuk menjawab pertanyaan itu, tersedia satu jalan tengah yang dapat disebut sintesis sejarah. Gagasan ini berangkat dari film dokumenter History of the World arahan Douglas J. Cohen yang dirilis situs History.com pada 2011 (Cohen, 2011). Film itu menjelaskan terbentuknya bumi dan perkembangan makhluk hidup di dalamnya secara kronologis. Meski disampaikan dengan perspektif evolusi, ada hal-hal menarik di dalamnya yang dapat membantu meredakan kegalauan siswa.
Pertama, film tersebut menampilkan pembagian zaman geologi seperti yang dikenal dalam buku teks sejarah SMP dan SMA (Sardiman, 2007). Walau tidak disebut eksplisit dalam narasinya, urutan zaman itu dapat dibaca sebagai penyiapan bumi menjadi rumah yang nyaman bagi manusia. Dalam buku teks, zaman neozoikum terbagi menjadi tersier dan kuarter, dan kuarter terbagi lagi menjadi pleistosen dan holosen. Dengan cara itulah terhitung enam masa.
Masa pertama, arkaikum. Masa ini dimulai ketika bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu (Sardiman, 2007). Bumi masih berupa planet panas dan air masih berwujud uap. Terbentuknya Bulan turut menstabilkan bumi, seolah menjadi pondasi bagi “rumah manusia."
Masa kedua, paleozoikum. Oksigen tercipta secara masif lewat fotosintesis awal di laut, sehingga bumi siap dihuni makhluk hidup.
Masa ketiga, mesozoikum. Benua dan samudera mulai terpisah, dan di akhir masa ini hewan-hewan raksasa punah. Bayangkan jika dinosaurus tidak punah: Jurassic Park atau Godzilla bisa jadi nyata dan manusia menjadi korbannya.
Masa keempat, tersier. Pemisahan benua menjadi seperti yang terlihat sekarang, dan udara mulai mendingin. Rumput-rumputan menyebar ke seluruh dunia dan kelak menjadi sumber makanan pokok manusia, seperti padi dan gandum.
Masa kelima, pleistosen. Masa ini dicirikan oleh zaman es (ice age), periode antarglasial (interglacial), dan kemunculan makhluk mirip manusia.
Masa keenam, holosen. Pada masa inilah manusia muncul bersama benih-benih peradaban di sejumlah lembah sungai dunia.
Enam masa ini selaras dengan keterangan Al-Qur’an bahwa langit dan bumi diciptakan dalam enam masa (QS Al-A’raf [7]: 54), juga dengan tradisi enam hari dalam kitab-kitab terdahulu. Kesesuaian ini dapat dibaca sebagai titik temu antara wahyu dan sains, termasuk sains yang berperspektif evolusi.
Kedua, film itu menggambarkan adanya “agen perubahan” di setiap pergantian zaman geologi, yaitu kepunahan atau “kiamat kecil.” Sains, termasuk yang berperspektif evolusi, mengakui kemunculan dan kepunahan sebagai penghubung antarzaman sekaligus ciri khas sejarah bumi.
Munculnya oksigen menghubungkan zaman arkaikum dan paleozoikum. Kepunahan massal pada akhir paleozoikum menutup masa itu dan membuka era mesozoikum dengan makhluk hidup baru. Jatuhnya meteor besar menjadi kiamat kedua yang memusnahkan makhluk pada era tersebut.
Pola serupa dapat dibaca juga terjadi pada zaman pleistosen. Bencana besar, di antaranya banjir yang terjadi beberapa kali, mengakhiri zaman es dan kehidupan makhluk mirip manusia, lalu tibalah era Adam. Di titik inilah, menurut sintesis sejarah, kegalauan siswa tentang manusia purba, hubungannya dengan Adam, dan penciptaan Adam sebagai manusia pertama dapat terjawab.
Manusia Purba dan Adam: Substitutif, Bukan Evolutif
Dalam kacamata sintesis sejarah, missing link antara makhluk mirip manusia atau manusia purba dan Adam bukanlah Pithecanthropus atau sejenisnya. Penghubungnya adalah proses alam berupa bencana besar yang mengakhiri kehidupan manusia purba, lalu digantikan oleh penciptaan Adam. Dengan kata lain, hubungan keduanya bukan evolutif, melainkan substitutif.
Pola ini sejalan dengan tesis penciptaan. Adam adalah khalifah, yang berarti pengganti generasi sebelumnya, dan kehadirannya dimunculkan lewat penciptaan yang bersifat mukjizat, tanpa sebab alami tetapi dengan sebab ilahi.
Sifat substitutif itu juga tampak dari kecerdasan Adam yang jauh melampaui makhluk mirip manusia. Jika titik awal kehidupan manusia purba adalah berburu dan berpindah-pindah, anak-anak Adam, Qabil dan Habil, sudah mampu beternak dan bertani. Hal ini sejalan dengan pendapat Alvin Toffler (1980) bahwa gelombang pertama perkembangan peradaban manusia adalah masyarakat agraris.
Kesimpulan
Siswa di sekolah menerima dua gambaran yang tampak bertolak belakang tentang asal-usul manusia. Pelajaran agama menuntun mereka pada tesis penciptaan, sedangkan pelajaran Biologi memperkenalkan antitesis berupa teori evolusi. Kebingungan makin terasa ketika mereka mendengar pandangan bahwa agama dan sains tak mungkin dipertemukan.
Sebagai jalan keluar, ditawarkanlah sintesis sejarah. Pembagian zaman geologi yang dikenal siswa dari buku teks Sejarah (Sardiman, 2007) dan digambarkan dalam film dokumenter Cohen (2011) dibaca sebagai enam masa penyiapan bumi bagi manusia. Enam masa ini terasa selaras dengan keterangan Al-Qur’an tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam masa (QS Al-A’raf [7]: 54). Kepunahan yang menandai pergantian zaman juga dibaca sebagai “kiamat kecil” yang membuka jalan bagi kehidupan baru.
Dari pembacaan itu, hubungan antara manusia purba dan Adam dipahami sebagai hubungan substitutif, bukan evolutif. Adam hadir sebagai khalifah, yakni pengganti generasi sebelumnya, lewat penciptaan langsung. Kemampuan anak-anaknya, Qabil dan Habil, dalam beternak dan bertani juga sejalan dengan gambaran Toffler (1980) tentang masyarakat agraris sebagai gelombang pertama peradaban. Atas dasar itulah disimpulkan bahwa Adam dapat dipandang sebagai manusia pertama di bumi sekaligus nenek moyang manusia yang ada sekarang.
Bagi dunia pendidikan, tulisan ini mengingatkan bahwa Biologi, Sejarah, dan Pendidikan Agama sebaiknya tidak disajikan sebagai tiga ruang yang saling meniadakan. Guru dapat membantu siswa melihat keterkaitan ketiganya sambil tetap mengajak mereka berpikir kritis. Sintesis sejarah ini merupakan sebuah tafsir yang terbuka untuk didiskusikan, diuji, serta dilengkapi sudut pandang lain.
Dengan demikian, semoga kegalauan siswa atas persoalan penting ini bisa diakhiri, dan rasa ingin tahu mereka tentang asal-usul manusia justru menjadi pintu menuju pemahaman yang lebih utuh.
