Tribute to Gus Dur

Guru IPS SMP-SMA PRIBADI BANDUNG Mahasiswa Magister Sains Psikologi UNPAD Seorang guru biasa yang mencoba untuk terus belajar
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Tresna Auliafatra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cerita Fiksi Untuk Hari Santri Nasional 2026

Dari Gambir, langsung melangkah ku ke arah jalan Merdeka. Makin terlihat gedung putih dengan pilar-pilar besar ala Yunani berbaris dan kumpulan PasPamPres berbaret hijau berbaris angkuh, makin terasa ada rantai dengan bola besi mengikat kakiku, berat melangkah. Bayangan pemukulan empat tahun silam makin terpampang jelas menggelayut di ingatan.
Kejadian itu menjadi masa kelam bagi diriku sebagai kuli tinta.Padahal, baru dua bulan aku mengabdi di sebuah media cetak nasional yang dulu dianggap sebagai proyek mercusuar nya organisasi kumpulan cendekiawan Muslim itu, baru dalam rentan waktu itu aku menjadi peliput di surat kabar setelah merampungkan studi di fakultas komunikasi universitas yang terletak di pinggiran kota Bandung. Memang karir sebagai wartawan saat itu melesat bagai kilat. Dalam waktu sesingkat itu, aku sudah dipercaya menjadi peliput berita istana. Padahal mitra ku yang lebih senior, sudah satu tahun menjadi penghuni tetap polsek Jakarta Timur sebagai peliput berita kriminal. Tapi, biasanya cepat naik akan cepat juga turunnya dan itu juga yang menjadi suratan nasibku. Baru pertama ditugasi sebagai wartawan istana, Redaktur politik sudah meminta liputan konferensi pers pemimpin bangsa yang baru saja terpilih kembali untuk yang ketujuh kalinya.
Kupacu sepeda motorku ke arah jalan Merdeka. Mengingat penjagaan dan pemeriksaan istana yang katanya superketat, kuputuskan memarkir teman setiaku sejak kuliah itu di parkir selatan Monas. Berjalan aku di bawah terik matahari Jakarta yang menyengat mengundang peluh tak tertahan. Benar kata teman kantorku, pemeriksaan istana terhadap orang luar super ketat bahkan berlebihan. Semua orang sampai dipaksa melepas alas kakinya hingga pos berikutnya. “Keterlaluan”geramku dalam hati. Macam raja-raja Jawa saja orang yang bekerja di sini. Di pelataran gedung tepat di samping gedung istana, orang-orang berkamera, orang-orang yang membawa voice recorder di tangannya, dan orang-orang yang memegang note kecil di tangan kiri dan ballpoint di tangan kanannya duduk rapi di kursi-kursi yang telah disediakan sembari mendengarkan pengarahan. “waduh, terlambat nih.mati aku”takutku melihat pemandangan di depanku. Langsung ku duduk di kursi yang paling belakang dan bertanya kepada orang di sampingku. Ternyata itu hanya pengarahan sebelum konferensi pers. Aneh, ada pengarahan. Apalagi juru penerang itu mewanti-wanti tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh ditanya pasca konferensi. “Kalau kondisinya seperti ini, buat apa ada konferensi segala” protesku dalam hati.
Saatnya tiba. Orang tua dengan kacamata berframe tebal diikuti oleh dua jendral berseragam lengkap dengan pangkat berkilatan berjalan dan berdiri di podium kenegaraan berlambang pancasila. Suaranya berat ditekan. “Dengan ini saya ucapken terima kasih atas amanat rakyat yang kembali diserahkan kepada saya untuk menjalanken pemerintahan lima tahun kedepan. Pembangunan berkelanjutan merupaken sasaran utama program kerja saya dan itu hanya bisa dilakuken dengan adanya kepemimpinan yang juga berkelanjutan…..” pidato pemimpin Negara itu diakhiri dengan sambutan tepuk tangan orang-orang. Dibukalah sesi Tanya jawab. Sesi inilah yang ditunggu oleh orang-orang, termasuk aku. Ku Acungkan tangan dan pembawa acara pun beradu pandang dengan ku. Betul lah aku yang dapat giliran, “Aulia, dari Republik. Tujuh kali masa jabatan adalah perjalanan panjang dan melelahkan bagi seorang pemimpin, Apa Bapak juga memikirkan tentang konsepsi suksesi nasional yang sudah menggaung sejak awal tahun 90-an?” idealisme ku berkata tanpa pikir orang sekuat apa yang ada
dihadapanku itu. Pertanyaan itu mengheningkan suasana dan semua mata mengarah padaku, dingin. Lima detik berlalu tanpa suara, pembawa acara memecah kebuntuan, “ya, empat pertanyaan selanjutnya,silahkan” disambut dengan acungan para peliput berita istana. Waktu berlalu dan pertanyaan-pertanyaan pun terjawab kecuali pertanyaanku, hilang dilupakan. Acungan tanganku tak lagi dihiraukan.
Deadline laporan hari itu sampai pukul tujuh malam. Sekarang jam tiga sore. Masih tersisa empat jam untuk mengetiknya. Segera ku keluar istana menuju parkir selatan Monas mengambil motor. Sebelum sampai, tiba-tiba di tengah langkahku sebuah mobil kijang kapsul hijau berplat akhir BM menghentikan langkahku. Dua orang berbadan tegap meringkusku masuk ke dalam mobil dan menutup kepalaku dengan kantong plastik hitam. Aku tak bisa melihat. Sekuat tenaga ku berontak, tak ada guna. Badan-badan itu terlalu kuat dan memang terlatih untuk melakukan operasi-operasi seperti itu. “Apa salahku?” teriakku dibalas dengan teriakan yang lebih lantang,”Belum sadar juga, hah!” Hantaman pukulan mendarat tepat di pelipis mata diikuti aliran cairan darah, perih. “pertanyaanmu mengganggu stabilitas nasional dan anti pembangunan!! Tau?” suara lain yang tak kalah lantangnya juga dilanjutkan dengan pukulan bertubi-tubi ke perutku. Habislah aku hari ini atau mungkin selamanya. Aku tak sadarkan diri.
Empat tahun berselang, harus ku kembali ke istana ini, tempat yang hampir mengantarkan diriku ke pintu maut kehidupan. Penugasan ku kembali menjadi wartawan istana setelah mereka memutasikan ku ke Mekkah sebagai peliput berita haji dan timur tengah selama empat tahun semenjak kejadian itu, sempat aku tolak. Tapi pimpinan redaksi meyakinkan ku. Pengalaman di timur tengah mengantarku akrab dengan dunia islam. Dan sekarang, pimpinan Negara adalah sosok kyai-intelektual. “Dunia islam adalah modal bagi peliput berita istana saat ini” tegasnya membujukku untuk menerima amanah itu kembali. Berat rasanya. Setelah teryakinkan dengan kondisi sekarang yang jauh berbeda dari masa lalu, aku pun menerimanya.
Berat langkahku di depan istana, tapi harus aku tetap masuk. Kuingat kematian wartawan di Yogyakarta dalam mencari sebuah kebenaran dalam beritanya, memotivasiku. Kuputar memori masa-masa di timur tengah. Ada sebuah perkataan inspiratif dari seorang ulama-intelektual Turki. Ia pernah mengatakan seandainya saja Tuhan masih menurunkan Nabi-Nya ke dunia sampai saat ini, Dia akan menurunkan mukjizat nabi-Nya itu dalam bentuk media massa. Perkataan itu menguatkanku. Langkah ku sedikit ringan.
Lewat ku dari gerbang besar, seorang PasPamPres mendekatiku. Pemeriksaan standard pun dilakukan. Tak seperti dulu,lebih rileks. Apalagi Pria berperawakan tinggi besar itu menyunggingkan senyuman ketika berkata, “Konferensi persnya di masjid sebelah istana, Mas. Teman-teman wartawan yang lain juga sudah di sana. Sepuluh menit lagi”. Tak ada ritual buka alas kaki segala seperti dulu. “Memang sudah berubah tempat ini” gumamku tersenyum lega. Terlebih lagi dengan tempat konferensi pers yang tak lagi di gedung itu sambil menatap gedung angkuh yang merupakan lembaran hitam diriku. Masjid di istana ini sekarang sudah menjadi ruang publik, bukan hanya tempat ibadah. Pemilihan tempat konferensi pers di masjid adalah sebuah perubahan besar. Desakralisasi istana terasa dimulai dari sini. Kompleks istana sudah tidak lagi angker berganti suasana yang memang mengesankan “inilah rumah rakyat, bukan penguasa”. Ujung menara masjid itu tampak dari luar komplek istana, lokasinya berada di pojok barat Jalan Merdeka Utara, bersebelahan dengan Istana Merdeka. Itulah masjid Baiturrahim, yang luas bangunannya cuma 520 M2, tetapi punya sejarah cukup panjang. Dinding-dindingnya terbuka, sehingga
angin dari luar bisa keluar masuk semaunya tanpa hambatan. Apalagi kawasan komplek istana dan komplek Sekretariat Negara banyak ditumbuhi pohon yang besar dan rimbun. Angin sejuk, dengan suara celoteh berbagai jenis burung di pepohonan, membuat orang lupa bahwa masjid Baiturrahim ini berada di tengah-tengah Metropolitan Jakarta.
Masjid itu sekarang ramai sekali dipenuhi wartawan yang sejak sebelum shalat Jumat karena konferensi persnya diadakan setelah shalat Jumat. Aku sendiri memutuskan untuk shalat di Istiqlal sebelum ke masjid ini. Jadinya, aku kebagian berada di pelataran masjid, shaf terakhir. Konferensi dimulai. Seorang berpeci hitam agak miring dengan kacamata tebalnya mulai memaparkan sesuatu. Inilah pemimpin Negara saat ini. Suasananya benar-benar egaliter. Tidak ada kesan penguasa dan yang dikuasai, tak ada perasaan lebih tinggi di sini, dan tak ada pemerintah dan rakyat. Semuanya menjadi satu berbaur. Yang ada hanyalah rasa kebersamaan layaknya sebuah jemaah, yang ada hanyalah kesan orang-orang yang berkumpul dan berdiskusi di masjid, yang ada hanyalah kehangatan. “Luar biasa” terharunya aku. Tetapi, suasana itu mulai agak tegang ketika masuk ke masalah yang dibicarakan. Pemimpin Negara ini meminta dan memberikan saran kepada wakil rakyat di majelis untuk mencabut TAP MPRS NO XXV/MPRS/1966 tentang pembubaran PKI, pernyataan sebagai organisasi terlarang di seluruh Negara kesatuan Republik Indonesia dan larangan setiap kegiatan menyebarkan atau mengembangkan ajaran komunisme/Marxisme-Leninisme.
Selesai memberikan pernyataan, acungan tangan pun berebut tanda ingin bertanya. Tidak tahu kenapa, atau mungkin karena aku punya secercah pesona sehingga aku selalu mendapat giliran pertama di setiap sesi ini, seperti yang dulu. “Pak, apakah tidak takut pernyataan bapak ini akan menimbulkan keresahan di masyarakat akan munculnya bahaya komunisme yang sudah terbukti jelas dalam sejarah kita mengancam negara di tahun 1927/28, tahun 1948, dan 1965?” tanyaku resah. Tanpa jeda waktu, orang yang duduk berhadapan dengan para wartawan itu langsung berbicara,”Lho, justru itu. Kalau musuhnya kelihatan kan jadi lebih mudah mengontrolnya daripada musuh yang dalam selimut. Pencabutan ini akan menambah kejelasan kita, mana yang komunis dan yang bukan komunis. Bahaya laten itu kan justru yang lebih berbahaya.Gitu aja kok repot.” dengan logat Jawa Timuran-nya. ”Anda ini seperti cerita ibu PKK di Amerika yang belum tahu intinya, asal tebak maksudnya apa” sambungnya. Suasana jadi hening. Dari arah lain terdengar celetukan,”Bagaimana ceritanya,Pak?”
Karena memang seperti pengajian mingguan, suasana suasana formal sudah terusir dalam forum ini. Beliau pun dengan santai bercerita. Seorang wanita PKK yang menemani suaminya tugas ke Amerika meluangkan waktunya sendiri ke rumah makan China. Lama ia duduk meja pojok dekat jendela. Tanpa disadari, seorang pelayan berpostur tegap dan bisa dibilang ganteng untuk ukuran asia tenggara mendekati dan menawarkan menu hidangan rumah makan itu kepada si wanita. Segeralah wanita itu memesan makanan. Karena menu special hari itu adalah mie, kembali si pelayan menawarkan menu spesial dengan berkata,”Miss, do you like mie? Kaget dengan tawaran pelayan yang ganteng itu, wanita itu pun salah sangka. Dia mengartikan mie itu bukan mie sesungguhnya tapi me (aku). “Lantas apa yang dikatakan wanita itu?” Tanya orang yang bercerita kepada para wartawan. Semua menggeleng. “of course” Jawabnya, dan semua orang pun tertawa dengan lelucon itu.
Sungguh pemimpin yang jenaka.
