Emotional Validation: Belajar Menerima Bukan Berarti Membenarkan Segala Hal

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Tulisan dari TRESNA WENING TIYAS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Jangan menangis, pekerjaan kamu tidak akan selesai dengan menangis.”

Sering mendengar hal tersebut saat kamu merasa lelah dan menangis? Rasanya lingkungan sekitar tidak mau menerima kenyataan bahwa terkadang kita merasa tidak mampu dan harus selalu terlihat kuat. Mudah menangis dianggap cengeng, menunjukkan rasa kecewa dianggap tidak bersyukur, dan lain sebagainya.
Seolah-olah hanya emosi positif yang boleh kita tampilkan, seperti bahagia, optimis, dan rasa senang. Padahal sangat manusiawi ketika kita merasa sedih karena hal tersebut merupakan respon dalam menghadapi situasi yang terjadi.
Oleh karena itu, mari mengenal tentang validasi emosi dan bagaimana cara kita melakukannya.
Apa itu validasi emosi?
Menurut Galen (2016), validasi emosi merupakan tindakan ikut mengakui dan menerima pengalaman batin, pikiran, dan perasaan seseorang itu benar adanya, termasuk emosi negatif. Memberi validasi emosi bukan berarti kita menganggap semua yang terjadi itu benar, tetapi bagaimana cara memahami emosi tanpa menghakimi orang lain.
Mengapa kita harus memvalidasi emosi?
Penting untuk mengetahui kenapa kita harus memvalidasi emosi agar kita dapat melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Validasi emosi dilakukan salah satunya untuk:
Mengurangi luka emosional
Validasi emosi dapat menurunkan intensitas emosi negatif seseorang, sehingga ia tidak terlalu lama menderita. Mengurangi luka emosional belum tentu akan menyelesaikan permasalahan seseorang, tetapi dengan memvalidasi emosi ia dapat lebih baik dalam menangani masalahnya.
Meningkatkan kualitas relasi
Cara untuk meningkatkan kualitas relasi salah satunya dengan menunjukkan rasa kepedulian kita terhadap sesama. Validasi emosi dapat menunjukkan rasa peduli, dengan begitu hal tersebut akan membangun rasa percaya dan rasa aman dalam suatu relasi.
Meningkatkan regulasi emosi
Mengelola emosi dilakukan saat intensitas emosi kita sedang menurun, sehingga saat emosi sedang intens dirasakan, kita hanya perlu memvalidasinya.
Cara untuk melakukan validasi emosi
1. Mengidentifikasi dan mengakui emosi
Akui emosi yang dirasakan orang tersebut. Bila mereka tidak mengomunikasikan perasaannya, kita dapat menanyakan apa yang sedang mereka rasakan saat itu. Contohnya:
“Aku mengerti kamu sedih.” atau “Kamu terlihat sedang sedih, apa yang sedang terjadi?”
2. Mengetahui sumber dari emosi
Dengan mengetahui sumber dari emosi yang dirasakan, kita dapat mengetahui bagaimana kita dapat merespon hal tersebut. Misalnya:
“Apa yang membuat kamu merasa seperti itu?”
3. Validasi emosi
Kita dapat memvalidasi emosi dengan mengomunikasikan bahwa kita menerima dan ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Pernyataan validasi dapat diungkapkan seperti:
“Itu pasti sulit untuk kamu.” atau “Aku bisa mengerti mengapa kamu merasa kesal."
atau kata-kata menenangkan dan menyatakan bahwa kita ada untuk mereka, seperti:
“Aku ada disini untuk kamu.”
Dampak pembatalan emosi atau emotional invalidation
Pembatalan emosi secara operasional diartikan sebagai respons yang tidak sesuai dengan emosi yang diberikan dan gagal menunjukkan bahwa emosi seseorang atau perasaan dapat dipahami (Witkowski, 2017). Pembatalan emosi yang terjadi dapat menyebabkan beberapa efek yang cukup besar bagi kondisi psikologis seseorang. Salah satunya permasalahan dengan rasa identitas seseorang. Ketika seseorang merasa bahwa perasaannya tidak diterima, mungkin ia akan sulit menerima diri, tidak percaya diri, dan meningkatkan kemungkinan seseorang memiliki low self-esteem. Selain itu orang yang sering membantah emosi akan kesulitan dalam mengatur emosi mereka. Pembatalan emosi membuat seseorang merasa salah ketika mereka merasakan suatu perasaan tertentu, sehingga mereka tidak dapat memercayai emosi tersebut dan sulit mengendalikannya.
Menerima segala emosi yang dirasakan, baik dari diri sendiri maupun orang lain dapat meningkatkan self-esteem dan meningkatkan hubungan interpersonal yang kita miliki. Ingat, semua yang kita rasakan adalah valid. Coba belajar untuk berdamai dengan diri sendiri. You are worth more than anything.
"Look inside, without anyone else's validation, understand that you are valuable, talented, unique, and worthy."
- Joe Sacco.
Referensi:
Pedneault, K. (2022, 14 November). What is Emotional Validation?. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-emotional-validation-425336#citation-5
Galen, G. Validation: Making sense of the emotional turmoil in borderline personality disorder. McLean Hospital, Harvard Medical School.
Witkowski, Gregory, "The Effect of Emotionally Validating and Invalidating Responses on Emotional Self-Efficacy" (2017). Walden Dissertations and Doctoral Studies. 3646.
https://scholarworks.waldenu.edu/dissertations/3646
