Limbah Sabut Kelapa dan Kotoran Ternak Disulap Jadi Pupuk di Desa Siahap

Mahasiswa Kimia Universitas Negeri Medan yang memiliki minat besar pada dunia sains, khususnya di bidang sintesis bahan organik dan kimia analitik. Aktif mengeksplorasi ilmu pengetahuan sekaligus mengembangkan wawasan kimia di kehidupan sehari-hari .
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari TRI ANDONI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kurangi limbah sabut kelapa dan kotoran ternak

Serdang Bedagai (Siahap) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Medan bersama warga Desa Siahap, Kecamatan Bintang Bayu, berhasil mengolah limbah sabut kelapa dan kotoran ternak menjadi pupuk organik cair dan padat. Inovasi sederhana ini menjadi solusi untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian warga.
Desa Siahap dikenal sebagai sentra kelapa. Hampir setiap rumah memiliki pohon kelapa, namun sabutnya kerap menumpuk dan berakhir dibakar. Padahal, sabut kelapa menyimpan unsur kalium yang bermanfaat untuk kesuburan tanah. Di sisi lain, warga yang memelihara kambing dan lembu menghasilkan kotoran ternak dalam jumlah besar. Selama ini, kotoran tersebut sering menimbulkan bau tidak sedap karena belum dikelola dengan baik.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN menginisiasi pelatihan pembuatan pupuk organik. Warga diajak langsung mempraktikkan pengolahan limbah menjadi pupuk cair maupun padat.
Pupuk cair (POC) dibuat dengan mencacah sabut kelapa, kemudian dicampur air, gula merah, dan EM4. Campuran tersebut difermentasi dalam wadah tertutup selama dua minggu. Hasilnya berupa cairan berwarna cokelat yang kaya kalium dan siap digunakan untuk menyuburkan tanaman.
Sementara itu, pupuk padat dihasilkan dari kotoran kambing dan lembu yang dicampur serbuk sabut kelapa. Bahan tersebut ditutup dan dibiarkan terurai dengan bantuan EM4 hingga dua minggu. Setelah matang, pupuk kompos yang dihasilkan tidak berbau, bertekstur gembur, dan ramah bagi lahan pertanian.
Program ini disambut antusias oleh masyarakat. Para petani merasa terbantu karena harga pupuk kimia kian mahal dan sulit diperoleh.
“Selama ini sabut kelapa hanya kami buang atau bakar. Ternyata bisa jadi pupuk cair yang bagus untuk tanaman. Sangat bermanfaat bagi petani,” ungkap salah seorang warga.
Selain menghemat biaya pertanian, kegiatan ini juga berdampak pada kebersihan desa. Limbah sabut kelapa berkurang, kotoran ternak tidak lagi mencemari lingkungan, dan suasana desa menjadi lebih sehat. Kepala Desa Siahap menyampaikan apresiasinya atas inisiatif mahasiswa. Menurutnya, program sederhana ini mampu membuka wawasan warga tentang pemanfaatan potensi lokal.
Ke depan, masyarakat berharap pembuatan pupuk organik ini dapat berlanjut dan dikembangkan menjadi usaha desa. Dengan begitu, limbah yang sebelumnya menjadi masalah dapat berubah menjadi sumber pendapatan baru sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
