Angka, Data, dan Ekonomi: Mengapa Kita Perlu Ekonometrika?

Mahasiswi Universitas Pamulang Program Studi Pendidikan Ekonomi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Tri haryanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika nilai rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, persoalan tersebut sering kali hanya terlihat sebagai angka di layar berita ekonomi. Namun, bagi masyarakat, perubahan nilai tukar bukan sekadar persoalan angka. Pelemahan rupiah dapat berpengaruh terhadap harga barang, biaya produksi, pengeluaran rumah tangga, hingga daya beli masyarakat.
Per 15 September 2026, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia berada di level Rp17.687 per dolar AS. Sehari sebelumnya berada pada Rp17.635. Data Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa sepanjang awal September pergerakan rupiah berada di kisaran Rp17.500–Rp17.700 per dolar AS.
Angka tersebut penting, tetapi angka saja tidak cukup. Kita perlu memahami mengapa rupiah melemah, bagaimana dampaknya terhadap masyarakat, serta kebijakan apa yang dapat dilakukan. Di sinilah ekonometrika memiliki peran penting. Ekonometrika membantu kita melihat hubungan antara berbagai variabel ekonomi berdasarkan data sehingga suatu persoalan tidak hanya dibaca berdasarkan dugaan atau opini.
Rupiah Melemah, Mengapa?
Pelemahan rupiah tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Nilai tukar dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik sekaligus perkembangan ekonomi global.
Salah satu tekanan yang terlihat saat ini berasal dari kondisi global. Ketidakpastian geopolitik, harga minyak dunia, arus modal, serta ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat dapat memengaruhi permintaan terhadap dolar AS. Ketika investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, permintaan terhadap dolar dapat meningkat dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut mendapat tekanan. Analisis pasar yang diberitakan ANTARA juga mengaitkan tekanan rupiah dengan ekspektasi suku bunga The Fed yang tinggi lebih lama, meningkatnya permintaan aset safe haven, dan kenaikan harga minyak.
Artinya, pelemahan rupiah tidak tepat jika hanya dilihat sebagai persoalan yang berasal dari dalam negeri. Perekonomian Indonesia terhubung dengan perekonomian dunia. Perubahan kebijakan di negara lain dapat memengaruhi pasar keuangan dan aktivitas ekonomi di Indonesia.
Namun, faktor eksternal bukan berarti satu-satunya persoalan. Kondisi neraca perdagangan, kebutuhan impor, arus investasi, ekspektasi pasar, serta kredibilitas kebijakan ekonomi juga dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Karena itu, membaca kondisi rupiah membutuhkan data yang lebih luas. Kita tidak cukup bertanya, "Berapa nilai rupiah hari ini?" Pertanyaan yang lebih penting adalah, "Apa yang menyebabkan perubahan tersebut dan apa dampaknya terhadap perekonomian?"
Ketika Pelemahan Rupiah Masuk ke Kehidupan Sehari-hari
Dampak pelemahan rupiah paling mudah dipahami melalui barang dan bahan baku yang masih bergantung pada impor. Ketika dolar menjadi lebih mahal, biaya membeli barang dari luar negeri dalam rupiah juga meningkat.
Dampak tersebut kemudian dapat diteruskan ke harga jual. Produsen yang menghadapi kenaikan biaya bahan baku memiliki beberapa pilihan: menaikkan harga, mengurangi margin keuntungan, atau menekan biaya produksi. Pilihan mana yang diambil akan bergantung pada kondisi masing-masing usaha.
Persoalan ini bukan sekadar teori. Pada Juni 2026, Menteri Keuangan menyampaikan bahwa pelemahan rupiah mulai dirasakan pelaku usaha kecil yang menggunakan bahan baku impor. Pedagang tahu dan tempe, misalnya, disebut menghadapi tekanan biaya produksi yang dapat menggerus keuntungan atau mendorong kenaikan harga.
Bagi rumah tangga, kenaikan harga berarti anggaran yang sama harus digunakan untuk membeli kebutuhan yang lebih sedikit. Jika pendapatan tidak meningkat sebanding dengan kenaikan harga, daya beli dapat tertekan.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan. Angka inflasi tersebut tidak berarti seluruh kenaikan harga disebabkan oleh pelemahan rupiah. Inflasi memiliki banyak penyebab. Namun, perkembangan nilai tukar tetap penting diperhatikan karena perubahan biaya impor dapat menjadi salah satu jalur yang memengaruhi harga domestik.
Dampaknya juga dapat dirasakan pelajar dan mahasiswa. Peralatan belajar, perangkat elektronik, perangkat teknologi, maupun produk lain yang memiliki komponen impor dapat mengalami tekanan harga ketika biaya impor meningkat. Bagi keluarga dengan anggaran terbatas, kenaikan kecil pada beberapa kebutuhan sekaligus dapat menjadi beban tambahan.
UMKM menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Di satu sisi, biaya bahan baku dan barang modal dapat meningkat. Di sisi lain, tidak semua UMKM memiliki kemampuan untuk langsung menaikkan harga karena konsumen juga memiliki keterbatasan daya beli.
Namun, Rupiah Melemah Tidak Selalu Berarti Semua Sektor Dirugikan
Pelemahan rupiah memang membawa risiko, tetapi dampaknya tidak sama bagi seluruh pelaku ekonomi.
Salah satu peluangnya adalah peningkatan daya saing produk ekspor. Ketika rupiah melemah, harga produk Indonesia dalam denominasi dolar dapat menjadi relatif lebih kompetitif bagi pembeli luar negeri, terutama bagi perusahaan yang memiliki struktur biaya domestik dan menghasilkan pendapatan dalam valuta asing.
Namun, peluang tersebut tidak otomatis terjadi. Jika eksportir sangat bergantung pada bahan baku impor, kenaikan biaya impor dapat mengurangi keuntungan dari pelemahan rupiah. Dengan kata lain, manfaat pelemahan nilai tukar terhadap ekspor bergantung pada struktur produksi masing-masing sektor.
Data BPS menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai US$115,36 miliar, meningkat 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas juga meningkat 3,89 persen menjadi US$110,19 miliar. Data tersebut menunjukkan adanya peluang dari aktivitas ekspor, meskipun perkembangan ekspor tetap dipengaruhi banyak faktor selain nilai tukar.
Di sinilah analisis ekonomi menjadi penting. Kita tidak boleh menyimpulkan bahwa "rupiah melemah berarti ekspor pasti meningkat". Hubungan ekonomi tidak sesederhana itu.
Mengapa Ekonometrika Dibutuhkan?
Ekonometrika pada dasarnya menggabungkan teori ekonomi, matematika, dan statistika untuk menganalisis data ekonomi. Sederhananya, ekonometrika membantu kita menguji apakah hubungan yang secara teori terlihat benar-benar didukung oleh data.
Misalnya, kita dapat menguji hubungan antara nilai tukar rupiah dan inflasi. Apakah pelemahan rupiah benar-benar diikuti kenaikan inflasi? Seberapa besar pengaruhnya? Apakah pengaruh tersebut berbeda dalam jangka pendek dan jangka panjang?
Pertanyaan lain juga dapat diajukan: bagaimana perubahan nilai tukar memengaruhi biaya produksi UMKM? Apakah kenaikan harga bahan baku lebih besar pada usaha yang menggunakan komponen impor? Bagaimana perubahan nilai tukar berkaitan dengan volume ekspor?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan data dan metode analisis. Ekonometrika memungkinkan peneliti menggunakan data historis untuk menguji hubungan antarvariabel secara lebih sistematis.
Bagi mahasiswa Pendidikan Ekonomi, hal ini menjadi pelajaran penting. Ekonomi tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi juga tentang kemampuan membaca bukti. Angka bukan sekadar hasil perhitungan dalam tugas kuliah. Angka dapat membantu kita memahami persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Apa yang Perlu Dilakukan?
Pemerintah perlu terus menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memperkuat fundamental ekonomi. Kebijakan tidak seharusnya hanya berorientasi pada mempertahankan angka kurs dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat kemampuan ekonomi Indonesia menghadapi gejolak global.
Ketergantungan terhadap bahan baku impor juga perlu dikurangi secara bertahap melalui penguatan industri domestik. Semakin banyak kebutuhan produksi yang dapat dipenuhi dari dalam negeri, semakin kecil tekanan biaya yang muncul ketika nilai tukar melemah.
UMKM juga perlu didorong untuk meningkatkan efisiensi, memperluas pasar, dan memanfaatkan peluang digital. Pemerintah dapat memberikan pendampingan serta akses pembiayaan dan informasi pasar agar UMKM lebih mampu menghadapi perubahan biaya produksi.
Sementara itu, masyarakat perlu meningkatkan literasi ekonomi. Memahami inflasi, nilai tukar, daya beli, dan perdagangan internasional membuat masyarakat tidak mudah mengambil kesimpulan berdasarkan satu angka atau satu berita.
Bagi dunia pendidikan, pembelajaran ekonometrika juga seharusnya tidak berhenti pada rumus dan pengolahan data. Mahasiswa perlu diajak menggunakan data untuk membaca persoalan aktual di sekitarnya. Dengan begitu, ekonometrika tidak lagi dipandang sebagai mata kuliah yang penuh angka, tetapi sebagai alat untuk memahami kehidupan ekonomi secara lebih nyata.
Penutup
Pelemahan rupiah mengingatkan kita bahwa ekonomi adalah sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Perubahan kurs dapat berhubungan dengan harga barang, biaya produksi, daya beli, hingga peluang ekspor.
Namun, memahami persoalan tersebut tidak cukup dengan melihat apakah rupiah naik atau turun. Kita perlu melihat penyebab, hubungan antarvariabel, dampak, serta bukti yang mendukung suatu kesimpulan.
Di sinilah ekonometrika menemukan relevansinya. Ekonometrika mengajarkan bahwa di balik setiap angka terdapat pertanyaan yang perlu diuji. Data membantu kita bergerak dari sekadar berpendapat menuju analisis yang lebih terukur.
Pada akhirnya, persoalan rupiah bukan hanya milik pemerintah, ekonom, atau pelaku pasar. Dampaknya dirasakan masyarakat luas. Karena itu, semakin baik kemampuan kita membaca data ekonomi, semakin baik pula kemampuan kita memahami perubahan yang terjadi di sekitar kita.
Ekonomi tidak cukup hanya dibicarakan dengan asumsi. Ekonomi perlu dibaca melalui data, diuji melalui analisis, dan dipahami untuk menentukan langkah ke depan.
