Dari Tugas Kuliah Jadi Cuan: Belajar Kewirausahaan Lewat Praktik Nyata

Mahasiswi Universitas Pamulang Program Studi Pendidikan Ekonomi.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Tri haryanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian mahasiswa, tugas mata kuliah kewirausahaan mungkin masih dipandang sebagai tugas biasa: membuat makalah, menyusun proposal bisnis, melakukan presentasi, atau membuat produk untuk memenuhi penilaian dosen. Setelah tugas dikumpulkan dan nilai diperoleh, proyek tersebut sering kali berhenti begitu saja. Padahal, jika dirancang dengan tepat, tugas kewirausahaan dapat menjadi pengalaman pertama mahasiswa untuk mengenal dunia bisnis secara langsung, bahkan berpotensi menjadi sumber penghasilan.
Kewirausahaan pada dasarnya bukan hanya tentang mengetahui definisi wirausaha atau menghafal konsep pemasaran. Seorang calon wirausahawan perlu belajar menemukan masalah, membaca kebutuhan konsumen, menciptakan produk, menentukan harga, melakukan promosi, mengelola modal, hingga menghitung keuntungan dan kerugian. Semua proses tersebut akan lebih mudah dipahami ketika mahasiswa mengalaminya secara langsung.
Di sinilah tugas kewirausahaan seharusnya mengambil peran. Mahasiswa tidak hanya diminta menjelaskan bagaimana sebuah bisnis berjalan, tetapi diberi kesempatan untuk menjalankannya dalam skala sederhana. Misalnya, mahasiswa dapat membuat produk edukatif, makanan ringan, kerajinan, jasa desain, atau produk digital yang memiliki target pasar jelas. Dari proses tersebut, teori yang dipelajari di kelas dapat langsung diuji melalui kondisi pasar yang sebenarnya.
Praktik sederhana seperti menentukan harga jual saja sudah memberikan pengalaman penting. Mahasiswa harus mengetahui berapa biaya bahan baku, kemasan, transportasi, promosi, dan biaya lain yang dikeluarkan. Setelah itu, mahasiswa harus menentukan harga yang masih dapat diterima konsumen tetapi tetap memberikan keuntungan. Dari sini mahasiswa akan memahami bahwa harga jual tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan perkiraan.
Tantangan menjadi lebih menarik ketika kondisi ekonomi berubah. Salah satu contohnya adalah pelemahan nilai tukar rupiah. Pada 21 September 2026, JISDOR Bank Indonesia berada pada Rp17.813 per dolar AS. Perubahan nilai tukar seperti ini dapat menjadi bagian dari pembelajaran kewirausahaan karena sebagian barang atau bahan yang digunakan pelaku usaha memiliki keterkaitan dengan impor. Ketika rupiah melemah, biaya barang yang dibeli dalam dolar dapat meningkat apabila faktor lainnya tidak berubah.
Bagi mahasiswa yang sedang menjalankan proyek usaha, kondisi tersebut dapat menjadi latihan mengambil keputusan. Jika harga bahan baku meningkat, apakah harga produk harus dinaikkan? Apakah ada bahan lokal yang dapat digunakan sebagai pengganti? Apakah ukuran produk dapat disesuaikan? Atau justru mahasiswa perlu mencari pemasok lain yang menawarkan harga lebih kompetitif? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat pembelajaran kewirausahaan menjadi lebih nyata.
Kondisi ekonomi juga berkaitan dengan daya beli konsumen. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan. Ketika harga kebutuhan tertentu mengalami peningkatan, konsumen tentu akan semakin mempertimbangkan barang apa yang benar-benar ingin dibeli. Bagi mahasiswa yang menjalankan usaha, kondisi ini menjadi pelajaran bahwa produk yang bagus belum tentu otomatis laku. Produk harus memiliki nilai yang dianggap penting oleh konsumen dan ditawarkan dengan harga yang sesuai kemampuan pasar.
Dari pengalaman tersebut, mahasiswa dapat memahami bahwa kewirausahaan tidak terlepas dari perubahan lingkungan ekonomi. Seorang wirausahawan harus mampu beradaptasi. Ketika biaya meningkat, strategi harus berubah. Ketika konsumen mengurangi pengeluaran, produk perlu menyesuaikan. Ketika persaingan semakin banyak, inovasi menjadi penting.
Namun, pelemahan rupiah tidak selalu hanya menghadirkan tantangan. Bagi usaha yang menggunakan bahan baku lokal dan memiliki peluang pasar luar negeri, perubahan nilai tukar juga dapat menciptakan peluang. Produk Indonesia dapat menjadi lebih kompetitif dari sisi harga di pasar internasional ketika dikonversikan ke mata uang asing, meskipun keuntungan tersebut tetap bergantung pada struktur biaya dan kandungan impor produk.
Hal ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk tidak hanya berpikir tentang pasar di sekitar kampus. Produk sederhana yang dibuat sebagai tugas dapat dikembangkan melalui media sosial dan platform digital. Produk makanan, kerajinan, fesyen, desain, hingga jasa kreatif dapat dipasarkan kepada konsumen yang lebih luas. Dengan demikian, tugas kuliah tidak harus berakhir ketika semester selesai.
Justru di sinilah makna “dari tugas kuliah jadi cuan” muncul. Cuan bukan semata-mata tentang mendapatkan keuntungan besar. Cuan juga dapat dimaknai sebagai hasil dari proses belajar yang menghasilkan pengalaman, keterampilan, jaringan, dan keberanian untuk mencoba. Jika sebuah proyek mahasiswa mampu menghasilkan keuntungan, tentu itu menjadi nilai tambah. Namun, apabila usaha mengalami kerugian, pengalaman tersebut tetap memiliki nilai karena mahasiswa belajar mengevaluasi kesalahan secara langsung.
Misalnya, sebuah kelompok mahasiswa menjual produk edukatif kepada siswa sekolah dasar. Pada awalnya mereka mungkin menganggap produk tersebut akan mudah dijual karena memiliki fungsi pendidikan. Setelah dipasarkan, ternyata konsumen kurang tertarik. Dari situ mahasiswa dapat melakukan evaluasi. Mungkin desain produknya kurang menarik, harganya terlalu tinggi, cara promosinya kurang tepat, atau target konsumennya belum sesuai. Proses memperbaiki kesalahan tersebut justru merupakan pembelajaran kewirausahaan yang sesungguhnya.
Sayangnya, pembelajaran kewirausahaan masih dapat kehilangan maknanya apabila mahasiswa hanya berfokus pada hasil akhir berupa laporan. Laporan memang penting sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik, tetapi proses di balik laporan jauh lebih penting. Mahasiswa perlu mengetahui bagaimana rasanya menawarkan produk kepada orang lain, menerima kritik konsumen, menghadapi produk yang tidak terjual, mengatur uang hasil penjualan, dan bekerja sama dalam kelompok.
Karena itu, perguruan tinggi perlu mendorong model pembelajaran kewirausahaan berbasis praktik. Dosen dapat memberikan proyek yang dimulai dari identifikasi masalah di lingkungan sekitar. Mahasiswa kemudian melakukan riset pasar sederhana, menentukan produk, membuat perhitungan biaya, melakukan produksi, memasarkan, dan mencatat hasil penjualan. Pada akhir proyek, mahasiswa tidak hanya membuat laporan keuangan, tetapi juga melakukan refleksi mengenai strategi apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki.
Model seperti ini juga dapat mengajarkan mahasiswa mengenai pentingnya literasi keuangan. Banyak usaha terlihat ramai tetapi sebenarnya belum tentu menghasilkan keuntungan. Mahasiswa harus mampu membedakan omzet dengan laba. Penjualan Rp1 juta tidak berarti keuntungan yang diperoleh juga Rp1 juta karena masih ada biaya produksi, kemasan, transportasi, promosi, dan biaya lainnya.
Selain itu, mahasiswa perlu belajar memanfaatkan teknologi. Media sosial tidak hanya digunakan untuk mengikuti tren, tetapi dapat menjadi sarana riset pasar, promosi, komunikasi dengan konsumen, dan membangun identitas produk. Dengan kreativitas yang dimiliki generasi muda, teknologi dapat menjadi salah satu alat untuk mengubah tugas sederhana menjadi proyek usaha yang memiliki potensi berkembang.
Pemerintah dan perguruan tinggi juga memiliki peran dalam menciptakan ekosistem yang mendukung. Pelatihan kewirausahaan, pendampingan usaha, akses pembiayaan, literasi digital, serta kesempatan mengikuti bazar atau pameran dapat membantu mahasiswa mengembangkan proyek mereka. Sementara itu, mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk mencoba dan kesiapan untuk menerima kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.
Pada akhirnya, pembelajaran kewirausahaan seharusnya tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang mampu menjelaskan apa itu bisnis, tetapi mahasiswa yang mampu memahami bagaimana sebuah bisnis benar-benar dijalankan. Perubahan nilai tukar, inflasi, daya beli, persaingan, dan perkembangan teknologi merupakan bagian dari lingkungan yang harus dihadapi seorang wirausahawan.
Dari sinilah tugas kuliah dapat memiliki makna yang lebih besar. Tugas tidak berhenti sebagai file yang dikumpulkan kepada dosen, tetapi menjadi kesempatan untuk menciptakan produk, menguji ide, mengenal konsumen, belajar mengelola keuangan, dan jika berhasil, memperoleh penghasilan.
Dari tugas kuliah menjadi cuan bukan berarti setiap tugas harus menghasilkan keuntungan besar. Yang lebih penting adalah bagaimana tugas tersebut mengubah teori menjadi pengalaman nyata. Sebab, seorang entrepreneur tidak lahir hanya dari teori yang dipelajari di kelas, tetapi dari keberanian mencoba, kemampuan membaca peluang, kesediaan belajar dari kegagalan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.
