Konten dari Pengguna

Di Balik Coretan: Anak-anak Sedang Berbicara, tetapi Siapa yang Mendengarkan?

Tri Mutia

Tri Mutia

Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tri Mutia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa yang tampak seperti gambar biasa kadang menyimpan jeritan hati kecil yang tak sempat terucap. Anak-anak bicara lewat warna, garis, dan ruang kosong. Sudahkah kita hadir sebagai pendengar?

“Anak-anak sedang mencore-coret”.  (Sumber Foto: Pexels).
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak sedang mencore-coret”. (Sumber Foto: Pexels).

“Ini gambar monster,” kata seorang anak sambil menunjukkan selembar kertas yang penuh coretan merah hitam. Di sisi lain, anak lain menggambar matahari besar dan rumah kecil, lalu berkata, “Aku ingin rumah ini punya jendela yang bisa dibuka.”

Bagi sebagian orang dewasa, dua gambar itu hanya ekspresi iseng anak-anak. Akan tetapi, bagi mereka yang berhenti sejenak dan mau mendengar, mungkin di situlah cerita sebenarnya sedang dimulai.

Ketika Gambar Lebih Jujur dari Kata-Kata

Anak-anak tidak selalu mampu mengekspresikan apa yang mereka rasakan dengan kata-kata. Kosakata mereka masih terbatas, dan sering kali perasaan tidak punya tempat untuk disalurkan. Maka muncullah gambar. Lewat krayon, spidol, atau pensil warna, mereka mulai menciptakan dunia kecil yang jujur, kadang ceria, kadang penuh kemarahan, kadang hampa.

Pada dunia psikologi anak, gambar adalah jendela hati. Goresan kasar, warna-warna gelap, objek yang tidak proporsional, semua bisa menjadi sinyal. Namun, sinyal ini tak akan pernah terbaca jika orang dewasa hanya melihat hasil akhir tanpa bertanya prosesnya.

Warna-warni Luka yang Tak Terucap

Tidak semua anak berani berkata, “Aku takut”, tetapi mereka bisa menggambar kamar gelap, monster di bawah tempat tidur, atau wajah orang tua dengan ekspresi garang. Sayangnya, banyak guru atau orang tua hanya menilai: “Kok gambarnya jelek?” atau “Kamu harus belajar menggambar yang bagus.”

Padahal di balik itu, mungkin sedang ada permintaan tolong. Mungkin ada beban, tekanan, atau rasa kesepian yang selama ini tertahan. Yang dibutuhkan anak bukan nilai, tapi pelukan, dan seseorang yang mau duduk di sebelahnya sambil berkata, “Mau cerita tentang gambar ini?”

Mendengar Lewat Mata, Merespons dengan Cinta

Kita hidup dalam dunia yang terlalu cepat. Bahkan terhadap anak-anak, kita sering terburu-buru memberi penilaian tanpa mendengar dengan hati. Padahal, bahasa visual mereka adalah suara-suara kecil yang meminta untuk dimengerti.

Jika hari ini anak Anda menggambar awan gelap, jangan buru-buru menyuruhnya mengganti dengan pelangi. Duduklah. Lihat gambarnya. Lalu tanyakan: “Apa yang kamu pikirkan saat menggambar ini?”

Respons yang penuh kasih bisa menjadi jembatan. Tidak semua anak butuh solusi. Mereka hanya ingin didengar.

Menyediakan Ruang yang Aman untuk Berekspresi

Sekolah dan rumah seharusnya bukan hanya tempat belajar dan disiplin. Tapi juga ruang aman—ruang di mana anak-anak bebas menumpahkan isi hati mereka. Termasuk melalui coretan krayon di dinding yang kita anggap sebagai ‘nakal’.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti memarahi, dan mulai mendekat. Karena coretan itu bukan vandalisme. Mungkin itu satu-satunya cara mereka berkata, “Aku ingin diperhatikan.”

Mendengar Tanpa Menunggu Anak Bicara

Anak-anak tak selalu bicara lewat mulut. Mereka bicara lewat gambar, tangisan kecil, tatapan kosong, atau diam yang panjang. Tapi kita sering baru mendengar saat semuanya sudah terlambat.

Maka, mari kita belajar mendengar lebih awal. Lewat gambar-gambar mereka, mari hadir bukan sebagai pengamat, tapi sebagai sahabat.

Krayon mereka sedang bicara. Sudahkah kita mendengarkan?