Konten dari Pengguna

Dari Korban Bullying Sejak Kecil hingga Berdamai dengan Masa Lalu

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Prasthama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generated By AI
zoom-in-whitePerbesar
Generated By AI

Ada luka yang tidak terlihat, tetapi tumbuh bersama seseorang.

Bukan luka karena terjatuh. Bukan pula luka yang bisa disembuhkan hanya dengan obat. Ada luka yang berasal dari kata-kata, tatapan, ejekan, dan perlakuan teman sebaya yang mungkin bagi pelakunya dianggap sebagai candaan biasa.

Bagi sebagian orang, masa sekolah adalah kenangan tentang bermain bersama teman, mengikuti kegiatan sekolah, dan menikmati masa kanak-kanak. Namun bagi korban bullying, masa sekolah justru dapat menjadi ruang yang meninggalkan pertanyaan panjang: Mengapa saya diperlakukan seperti itu? Apa yang salah dengan diri saya? Mengapa tidak ada yang membela saya?

Saya adalah salah satu orang yang pernah membawa pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Ketika Candaan Menjadi Luka

Sejak kecil, saya pernah mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari teman. Ejekan, candaan yang berlebihan, perkataan yang merendahkan, hingga perlakuan yang membuat saya merasa berbeda dari yang lain.

Saat masih kecil, saya belum memiliki kemampuan untuk memahami bahwa apa yang saya alami merupakan bentuk perundungan. Saya hanya mengetahui satu hal: saya merasa tidak nyaman.

Ketika memasuki masa SMP, pengalaman tersebut kembali hadir dalam bentuk yang berbeda. Lingkungan pertemanan pada usia remaja memiliki pengaruh yang besar terhadap cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Teman dapat menjadi tempat seseorang menemukan penerimaan. Tetapi teman juga dapat menjadi sumber tekanan ketika komunikasi yang terjadi justru dipenuhi ejekan, penghinaan, pelabelan, atau usaha untuk menjatuhkan seseorang di hadapan kelompok.

Di sinilah bullying tidak hanya dapat dipahami sebagai persoalan perilaku, tetapi juga sebagai persoalan komunikasi.

Sebab sebelum seseorang menyakiti secara fisik, sering kali ada kata-kata yang lebih dahulu dilontarkan.

Dan kata-kata memiliki kemampuan untuk membentuk makna.

Bullying dan Komunikasi Interpersonal

Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, hubungan antarmanusia dibangun melalui proses komunikasi interpersonal. Komunikasi bukan sekadar proses menyampaikan pesan dari satu orang kepada orang lain, tetapi juga proses membangun hubungan, identitas, persepsi, dan makna.

Komunikasi interpersonal yang sehat membutuhkan keterbukaan, empati, dukungan, sikap positif, dan kesetaraan.

Sebaliknya, ketika komunikasi dipenuhi penghinaan, intimidasi, dominasi, dan ketidaksetaraan, hubungan antarpersonal dapat berubah menjadi ruang yang tidak aman.

Penelitian mengenai bullying verbal pada siswa SMP menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara komunikasi interpersonal dan bullying verbal. Artinya, semakin baik kemampuan komunikasi interpersonal siswa, semakin rendah kecenderungan melakukan bullying verbal.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa korban perundungan dapat mengalami perubahan pola komunikasi menjadi lebih tertutup, pasif, dan cenderung menghindari interaksi karena rasa takut, cemas, dan rendah diri.

Saya memahami hal itu bukan hanya melalui teori, tetapi melalui pengalaman.

Ketika seseorang berkali-kali mendengar bahwa dirinya berbeda, bodoh, tidak menarik, atau pantas menjadi bahan tertawaan, perlahan-lahan pesan tersebut dapat membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Pada titik tertentu, suara orang lain bisa berubah menjadi suara yang ada di dalam kepala sendiri.

Ketika Label Orang Lain Menjadi Identitas Diri

Salah satu hal yang paling berbahaya dari bullying bukan hanya peristiwa ketika seseorang diejek.

Yang lebih berbahaya adalah ketika korban mulai mempercayai ejekan tersebut.

Inilah yang membuat bullying memiliki dimensi komunikasi yang sangat kuat.

Pesan yang terus-menerus disampaikan dalam interaksi sosial dapat menciptakan konstruksi makna mengenai siapa diri seseorang.

Jika seseorang terus diberi label “lemah,” ia dapat mulai melihat dirinya sebagai orang yang lemah.

Jika seseorang terus dianggap “berbeda,” ia dapat mulai merasa bahwa dirinya memang tidak layak diterima.

Jika seseorang terus dipermalukan di depan kelompok, ia dapat memilih diam karena menganggap berbicara hanya akan membuat keadaan semakin buruk.

Pada masa kanak-kanak dan remaja, proses tersebut menjadi semakin kompleks karena identitas seseorang sedang berkembang.

Teman sebaya menjadi salah satu lingkungan penting dalam pembentukan konsep diri.

Karena itu, kalimat yang bagi pelaku mungkin hanya berlangsung beberapa detik dapat menjadi pesan yang diingat korban selama bertahun-tahun.

Saya Pernah Memilih Diam

Dulu, saya tidak tahu bagaimana harus bercerita.

Saya tidak tahu kepada siapa harus mengadu.

Saya juga tidak tahu apakah orang lain akan memahami apa yang saya rasakan.

Akhirnya, diam menjadi pilihan.

Dalam teori komunikasi interpersonal, keterbukaan atau self-disclosure merupakan salah satu bagian penting dalam membangun hubungan yang lebih dekat dan sehat. Seseorang membutuhkan ruang yang aman untuk menceritakan pengalaman, perasaan, dan pikirannya.

Namun, korban bullying tidak selalu mudah melakukan keterbukaan.

Pengalaman buruk dapat membuat seseorang membangun pertahanan diri. Ia menjadi lebih berhati-hati dalam memilih teman, takut dinilai, takut ditolak, atau bahkan takut kembali menjadi bahan pembicaraan.

Di sinilah komunikasi seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kemampuan berbicara.

Komunikasi juga berarti kemampuan mendengarkan.

Seseorang yang sedang terluka mungkin tidak membutuhkan nasihat panjang.

Terkadang ia hanya membutuhkan seseorang yang berkata:

“Saya percaya dengan ceritamu.”

“Kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu.”

“Kamu tidak sendirian.”

Kalimat sederhana tersebut dapat menjadi bentuk komunikasi yang memberikan dukungan.

Berdamai Bukan Berarti Melupakan

Bertahun-tahun setelah pengalaman tersebut berlalu, saya mulai memahami bahwa berdamai dengan masa lalu bukan berarti menghapus semua kejadian yang pernah terjadi.

Berdamai berarti menerima bahwa peristiwa tersebut memang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup, tetapi tidak harus menentukan siapa diri saya hari ini.

Saya mulai menyadari bahwa perkataan orang lain tentang diri saya bukanlah kebenaran mutlak mengenai diri saya.

Saya bukan label yang pernah diberikan oleh orang lain.

Saya bukan ejekan yang pernah saya dengar.

Saya bukan perlakuan buruk yang pernah saya terima.

Saya adalah seseorang yang memiliki kesempatan untuk membangun kembali makna tentang diri sendiri.

Dalam perspektif komunikasi, proses ini dapat dilihat sebagai proses negosiasi makna.

Makna yang dahulu dibentuk melalui pengalaman negatif perlahan dinegosiasikan kembali melalui pengalaman, hubungan, dan komunikasi baru yang lebih sehat.

Teman yang menghargai.

Keluarga yang mendengarkan.

Lingkungan kerja yang menerima.

Orang-orang yang memberikan ruang untuk menjadi diri sendiri.

Semua itu membantu menciptakan pesan baru tentang siapa diri kita.

Komunikasi Bisa Menjadi Jalan Penyembuhan

Pengalaman bullying juga mengajarkan bahwa komunikasi memiliki dua wajah.

Komunikasi dapat menjadi sumber luka, tetapi komunikasi juga dapat menjadi jalan untuk memulihkan luka.

Ketika seorang anak mendapatkan ejekan terus-menerus, komunikasi digunakan untuk merendahkan.

Tetapi ketika seorang guru mau mendengarkan, komunikasi berubah menjadi dukungan.

Ketika seorang teman memilih membela, komunikasi berubah menjadi keberpihakan.

Ketika keluarga memberikan ruang untuk bercerita tanpa menghakimi, komunikasi berubah menjadi rasa aman.

Karena itu, pencegahan bullying tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada anak untuk “jangan membully”.

Kita juga perlu mengajarkan bagaimana berkomunikasi.

Bagaimana menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan.

Bagaimana bercanda tanpa menyakiti.

Bagaimana memberikan kritik tanpa mempermalukan.

Bagaimana mendengarkan seseorang tanpa menghakimi.

Dan yang paling penting, bagaimana menghargai seseorang meskipun ia berbeda.

Tidak Semua Luka Harus Dibalas

Ada satu hal yang akhirnya saya pelajari:

Tidak semua luka harus dibalas dengan kemarahan.

Bukan karena apa yang terjadi dahulu dapat dibenarkan.

Bukan pula karena pelaku tidak memiliki tanggung jawab.

Tetapi karena saya tidak ingin pengalaman buruk tersebut terus memiliki kendali atas hidup saya.

Saya memilih berdamai.

Bukan untuk membenarkan apa yang dilakukan orang lain.

Saya berdamai untuk membebaskan diri sendiri.

Memaafkan juga bukan berarti harus kembali dekat dengan orang yang pernah menyakiti kita. Memaafkan tidak menghapus batasan. Memaafkan tidak berarti membiarkan perilaku yang sama terjadi kembali.

Berdamai berarti saya tidak lagi membiarkan masa lalu menentukan nilai diri saya.

Dari Korban Menjadi Seseorang yang Memahami

Hari ini, ketika mengingat masa kecil dan masa SMP, saya tidak lagi hanya melihat diri saya sebagai korban.

Saya melihat seorang anak yang dahulu belum tahu bagaimana menghadapi dunia.

Seorang anak yang mungkin hanya membutuhkan satu orang untuk berkata bahwa dirinya berharga.

Seorang anak yang membutuhkan ruang aman untuk berbicara.

Dan mungkin, pengalaman itulah yang akhirnya membuat saya memahami betapa pentingnya komunikasi dalam kehidupan manusia.

Ilmu Komunikasi mengajarkan bahwa pesan tidak berhenti ketika kata-kata selesai diucapkan.

Pesan dapat tinggal dalam ingatan.

Pesan dapat memengaruhi persepsi.

Pesan dapat membentuk hubungan.

Bahkan pesan dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Karena itu, kita perlu berhati-hati dengan apa yang kita katakan kepada orang lain.

Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa lama seseorang akan mengingat perkataan kita.

Mungkin bagi kita itu hanya candaan selama lima detik.

Tetapi bagi orang lain, kalimat tersebut bisa menjadi luka yang dibawa selama bertahun-tahun.

Berdamai dengan Masa Lalu, Membangun Komunikasi yang Lebih Manusiawi

Bullying bukan sekadar persoalan anak yang terlalu sensitif atau anak yang tidak mampu bercanda.

Bullying adalah persoalan relasi, kekuasaan, komunikasi, dan bagaimana seseorang memperlakukan manusia lain.

Karena itu, menciptakan lingkungan bebas bullying membutuhkan perubahan budaya komunikasi.

Sekolah perlu menjadi ruang yang aman untuk berbicara.

Guru perlu menjadi komunikator yang mampu mendengarkan.

Orang tua perlu menciptakan ruang keterbukaan.

Teman sebaya perlu belajar bahwa keberanian bukanlah kemampuan untuk menertawakan kelemahan orang lain, tetapi keberanian untuk menghentikan ketika seseorang sedang direndahkan.

Dan bagi mereka yang pernah menjadi korban, satu hal penting perlu diingat:

Apa yang pernah dikatakan orang lain tentang kita tidak selalu menjadi kebenaran tentang siapa kita.

Masa lalu mungkin tidak dapat diubah.

Tetapi makna yang kita berikan terhadap masa lalu dapat berubah.

Saya pernah menjadi korban bullying.

Saya pernah memilih diam.

Saya pernah membawa luka itu cukup lama.

Namun, hari ini saya memilih untuk berdamai.

Bukan karena saya melupakan.

Tetapi karena saya akhirnya memahami bahwa hidup saya terlalu berharga jika terus dikendalikan oleh kata-kata orang lain.

Dan mungkin, proses berdamai itu sendiri adalah bentuk komunikasi yang paling penting:

komunikasi dengan diri sendiri—untuk mengatakan bahwa saya berharga, saya layak dihargai, dan saya berhak melanjutkan hidup tanpa terus membawa suara orang-orang yang pernah menyakiti saya.